Lakukan Dengan fikiran

GASTRO ENTERITIS


I. Definisi a. Menurut Hypocrates Adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair b. Adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. c. Suatu keadaan dimana perancangan pada Membran Mukosa Usus dan saluran cerna yang disebabkan oleh virus,bakteri dan makanan yang beracun. II. Etiologi Dibagi dalam beberapa factor yaitu a. Faktor infeksi • Infeksi Enternal Yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare yang meliputi : Infeksi bakteri,virus dan parasit. • Infeksi Parenteral Yaitu infeksi dari bagian tubuh lain di luar pencernaan. b. Faktor Malabsorpsi • Malabsorpsi karbohidrat • Malabsorpsi lemak • Malabsorpsi protein c. Faktor makanan d. Faktor Psikologis III. Tanda dan Gejala • Frekuansi BAB meningkat Lebih dari 3-10 per hari • Turgor kurang • Nadi cepat • Nyeri perut • Bising usus meningkat 8-12 kali • Suhu subfebris (38o C) • Banyak keluar keringat • Mual • Muntah IV. Klasifikasi Berdasarkan klinik • Dehidrasi ringan 2-5 % • Dehidrasi sedang 5-8 % • Dehidrasi berat 8-10 % V. Manifestasi Klinis 1. Frekuensi defekasi meningkat bersamaan dengan meningkatnya kandungan cairan dalam feses. 2. Pasien mengeluh kram perut, distensi, gemuruh usus (borborigimus), anoreksia, haus. 3. Kontaksi spasmodic yang nyeri dan peregangan yang tidak efektif pada anus (tenesmus) dapat terjadi pada setiap defekasi. 4. Dehidrasi 5. Kelemahan VI. Diagnosis Apabila penyebab diare tidak terbukti maka tes diagnostic berikut harus dilakukan: hitung darah lengkap, sifat kimia, urinalisis, pemeriksaan feses rutin. Proktosigmoidoskopi dan enema barium mungkin juga perlu dilakukan. VII. Penatalaksanaan • Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada pengendalian atau pengobatan penyakit dasar. Obat-obat tertentu (misalnya: prednison) dapat mengurangi beratnya diare dan penyakit. • Untuk diare ringan, cairan oral dengan segera ditingkatkan dan glukosa oral serta larutan elektrolit dapat diberikan untuk rehidrasi pasien. Untuk diare sedang, obat-obat tidak spesifik seperti difenoksilat (lomotif) dan loperamid (imodium) juga diberikan untuk menurunkan motilitas. Preparat antimicrobial diberikan bila preparat infeksius telah teridentifikasi atau bila diare sangat berat. • Terapi cairan IV mungkin diperlukan untuk hidrasi cepat, khususnya untuk anak kecil atau lansia. VIII. Komplikasi 1. Disritmia jantung 2. Haluan urin < 30 ml/jam selama 2 -3 jam berturut-turut 3. Kelemahan otot dan parestesia 4. Hipotensi 5. Anoreksia 6. Penurunan kadar kalium → disritmia jantung → kematian BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GE I. Pengkajian 1. Data biografi 2. Keluhan utama 3. Riwayat kesehatan sekarang, tanyakan tentang kram abdomen dan nyeri, frekuensi dan dorongan BAB, adanya feses cair atau berminyak, mucus, pus dan darah dalam feses. 4. Riwayat medis dan bedah terdahulu 5. Terapi obat-obatan saat ini 6. Asupan diet harian dan jadwal makan 7. Pemeriksaan fisik (head to toe atau per system) 8. ADL, mencakup: a. Nutrisi : pola, jenis, frekuensi b. Eliminasi : pola, frekuensi c. Personal hygiene : pola, frekuensi d. Istirahat – tidur : pola, frekuensi, durasi II. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan utama dapat mencakup yang berikut: 1. Diare berhubungan dengan infeksi, ingesti makanan pengiritasi, atau gangguan usus 2. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasase feses yang sering dan kurangnya intake cairan 3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pasase feses yang sering atau encer 4. Ansietas berhubungan dengan eliminasi yang sering dan tidak terkontrol III. Intervensi Keperawatan Dx : Diare berhubungan dengan infeksi, ingesti makan pengiritasi, atau gangguan usus Tujuan : Mengontrol diare Intervensi : 1. Dorong pasien untuk istirahat di tempat tidur 2. Dorong pasien untuk minum cairan dan makan-makanan rendah serat 3. Anjurkan diet sering dari semi padat hingga padat 4. Batasi konsumsi minuman yang mengandung kafein dan karbonat 5. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin 6. Batasi konsumsi produk susu, lemak, produk gandum, buah segar dan sayuran 7. Kolaborasi pemberian obat-obat anti diare seperti defenoksilat (lomotif) Dx II : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasase feses yang sering dan kekurangan intake cairan Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan Intervensi : 1. Kaji tanda-tanda dehidrasi (penurunan turgor kulit, takikardia, nadi lemah, penurunan natrium serum, haus) 2. Hidrasi adekuat 3. Observasi intake dan output cairan 4. Timbang Berat Badan setiap hari 5. Berikan cairan parenteral 6. Berikan suplemen cairan per oral dalam bentuk air, jus, kaldu dan preparat yang dijual seperti Gatorade Dx III : Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pasase feses yang seringatau encer Tujuan : Integritas kulit dapat terawat Intervensi : 1. Instruksikan pasien untuk mengelap atau mengeringkan area perianal setelah defekasi 2. Instruksikan pasien untuk membersihkan area perianal dengan bola kapas 3. Berikan pelindung kulit dan barier pelembab sesuai kebutuhan Dx IV : Ansietas berhubungan dengan eliminasi yang sering dan tidak terkontrol Tujuan : Mengutangi ansietas Intervensi : 1. Beri kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan rasa takut dan kekhawatirannya 2. Bantu pasien untuk mengidentifikasi makanan pengiritasi dan stressor yang mencetuskan episode diare 3. Dorong pasien untuk sensitive terhadap petunjuk tubuh tentang adanya dorongan untuk defekasi (kram abdomen, bising usus hiperaktif) 4. Berikan support mekanisme koping 5. Kolaborasi obat-obatan antiansietas sesuai program. IV. Evaluasi Hasil yang diharapkan : 1. Melaporkan pola defekasi normal 2. Mempertahankan keseimbangan cairan a. Mengkonsumsi cairan per oral yang adekuat b. Melaporkan tidak ada keletihan dan kelemahan otot c. Menunjukkan membrane mukosa lembab dan turgor jaringan normal d. Mengalami keseimbangan intake dan output e. Mengalami berat jenis urine normal 3. Mempertahankan integritas kulit a. Mempertahankan kulit tetap bersih setelah defekasi b. Menggunakan pelembab atau salep sebagai barier kulit 4. Mengalami penurunan tingkat ansietas 5. Tidak mengalami komplikasi a. Elektrolit tetap dalam rentang normal b. TTV stabil c. Tidak ada disritmia atau perubahan dalam tingkat kesadaran ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GASTRO ENTERITIS (G E) ANALISA DATA DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH DS: • Pasien mengatakan sering BAB dan mencret DO: • BAB lebih dari 3 kali sehari • Konsistensi faeces cair • Turgor kulit jelek • Mata cekung • Urine out put berkurang kadar elektrolit menurun • Berat jenis urine lebih dari 1,3 • Ditemukan kuman pada faeces Bakteri masuk ke dalam intestinal Iritasi usus Peristaltik usus meningkat Transit time untuk absorpsi terganggu Sari-sari makanan sulit diserap Sehingga air dan garam mineral terbawa kedalam usus Cairan dan elektrolit terbuang melalui faeces Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit DS: • Pasien mengatakan badanya lemas DO: • Frekuensi BAB lebih dari 3 kali sehari • Pasien tampak lemah • Pasien muntah-muntah • Bising usus meningkat • BB menurun Masuknya bakteri ke dalam intestinal Fungsi intestinal terganggu Terjadi peningkatan peristaltic usus Sari makanan banyak terbuang karena transit time absorpsi berkurang Absorpsi tidak terjadi Sari makanan terbuang melalui faeces Kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi DS: • Pasien mengatakan perutnya membesar dan terasa sakit DO: • Nyeri tekan • Ada bising usus meningkat • Skala nyeri >6 Peningkatan peristaltik usus Penurunan pergerakan spinere Terjadi peregangan pada intestinen Abdomen dan distensi abdomen Gangguan rasa nyaman abdomen atau distensi abdomen DS: • Pasien mengatakan badanya panas DO: • Suhu >30o C • Nadi >100 X/menit • Banyak keluar keringat • Wajah tampak sembab Adanya peradangan pada usus dan saluran cerna Merangsang terjadinya proses reaksi endogen / firogen Dihantarkan ke hypothalamus, terjadi thermoregulator Suhu tubuh meningkat/febris Potensial peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya infeksi membrane mukosa usus dan saluran cerna DS: • Pesien mengatakan sering BAB dan BABnya cair DO: • Frekuensi BAB lebih dari 3 kali sehari • Alat tenun dan pakaian basah dan kotor Kebersihan alat tenun dan pakaian yang tidak diperhatikan Memudahkan kuman kuman penyakit diare diluar tubuh pasien dengan mudah Sehingga dapat menyebabkan infeksi baik pada pasien itu sendiri keluarga atau pasien lain Potensial terjadinya infeksi DS: • Pasien menanyakan tentang keadaan penyakitnya DO: • Ekspresi wajah pasien tampak cemas • Pasien tampak murung Kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakitnya Merupakan stressor bagi pasien takut akan mengancam dirinya cemas Gangguan rasa aman cemas RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN RENCANA TINDAKAN Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peristaltic usus meningkat Cairan elektrolit seimbang dengan criteria : • BAB 1 kali sehari • Output seimbang intake • Turgor kulit, kelembaban kulit baik • TTU dalam batas normal • BJ urine 0,010-0,025 • Observasi tanda-tanda vital • Observasi tanda-tanda dehidrasi sedini mungkin • Bericairan elektrolit via oral • Ukur intake output • Perhatikan pemberian cairan infuse • Kolaborasi dengan dokter Nurisi kurang dari kebutuhan disertai mual,muntah Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan criteria : • BB seimbang dengan TB • Mual muntah berkurang • Bising usus normal • Tidak lemah • Berikan makanan dalam keadaan hangat • Berikan diit lunak rendah serat • Berikan minum hangat sebelum makan • Hindari makanan yang merangsang muntah,mual • Berikan pengertian tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh • Timbang berat badan setiap hari • Kolaborasi dengan dokter Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya peradangan pada usus dan saluran cerna Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan criteria: • Rasa nyeri berkurang • Bising usus berkurang • Atur posisi tidur • Ajarkan dan anjurkan teknik relaksasi distraksi • Berikan kompres hangat pada daerah yang sakit • Berikan makanan sedikit porsi tapi sering • Kolaborasi pemberian analgetik dan antispasmolitik Potensial peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya infekisi pada membrane mukosa dan saluran cerna Rasa nyaman nyeri teratasi dengan criteria : • Suhu 36o – 37o C • Keringat tidak belebihan • Observasi tanda-tanda vital • Berikan kompres dingin pada daerah axila tiap 10-15 menit • Anjurkan pasien untuk banyak minum 8 gelas sehari • Anjurkan untuk memakai pakaian yang menyerap keringat • Anjurkan bedrest • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti piretik Potensial terjadi infeksi nosokomial berhubungan dengan BAB terus menerus Infeksi nosokomial tidak terjadi dengan criteria : • Penyakit tidak menular • Bila pasien BAB secepatnya dibersihkan dengan menggunakan sabun • Alas tenun kotor segera diganti dengan yang bersih • Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Gangguan rasa aman (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya Rasa aman cemas teratasi dalam waktu 1 kali 24 jam dengan criteria : • Pasien mengerti dan dan dapat menjelaskan tentang penyakitnya • Ekspresi wajah tenang / rileks • Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya • Jelaskan tentang keadaan penyakitnya, pengobatan dan komplikasi BAB III GASTRITIS I. Pengertian Gastritis merupakan gangguan yang sering terjadi dengan karakteristik adanya anoreksia dan tidak enak pada epigastrium II. Etiologi Sering terjadi akibat dari • Stress • Alcohol • Obat-obatan • Kemungkinan sering disretai infeksi bakteri atau virus • Subtansi yang berifat korosif III. Tanda dan Gejala • Nyeri pada daerah epigastrium pada waktu lambung kosong atau berisi • Timbul setengah sampai satu jam setelah makan • Kadang-kadang pasien muntah dan nausea IV. PATOFISISOLOGI a. Gastritis Akut Gastritis akut sering diakibatkan oleh makan yang tidak teratur, makan terlalau banyak atau berbumbu yang mengandung mikroorganisme penyebab penyakit . penyebab lain dari gastritis akut mencakup alcohol, aspirin, refluk empedu, atua terapi radiasi. Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat, yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Pembentukan jaringan parut dapat terjadi, yang mengakibatkan obstruksi pylorus. Gastritis juga merupakan tanda pertama dari infeksi sistemik akut. Fatofisiologi Membrane mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan jaringan,darah dan cairan) dan mengalami erosi superficial. Bagian ini mengsekresi sejumlah getah lambung,yang mengandung sedikit asam tetapi i banyak mucus. Ulserasi superficial dapat terjadi dan menimbulkan hemoragi. Pasien dapat mengalami ketidak nyamanan, sakit kepala, malas, mual dan anoreksia, sering disertai dengan muntah dan cegukan. Beberapa pasien, asimtomatik. Mukosa lambung mampu memperbaiki diri sendiri setelah mengalami gastritis. Bila makanan pengiritasi tidak dimuntahkan tetapi mencapai usus, dapat mengakibatkan kolik dan diare. Gastritis kronik Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H.Pylory). Patofisiologi Gastritis kronis dapat diklasifikasikan sebagi tipe A atau B. tipe A sering disebut gastritis autoimun diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Dapat pula dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B sering disebut gastritis H.Pylory yang mempengaruhi antrum dan pylorus (ujung bawah lambung dekat duodenum). IV. Manifestasi Klinis Pendarahan saluran cerna sering merupakan satu-satunya gejala. Pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanifestasi sebagai darah samar pada tinja dan secara fisis akan dijumpai tanda-tanda anemia defisiensi dengan etiologi yang tidak jelas. Pada kasus yang sangat berat, gejala yang sangat mencolok adalah hematemesis dan melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai terjadi renjatan karena kehilangan darah. Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan asimtomasis. Terdapat keluhan nyeri timbul pada ulu hati, biasanya ringan dan tidak dapat ditunjuk dengan tepat lokasinya. Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan kelainan, kecuali mereka yang mengalami perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda dan gejala gangguan hemodinamik yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardia sampai gangguan kesadaran. V. Diagnosis Gastritis erosive harus selalu diwaspadai pada setiap pasien dengan keadaan klinis yang berat atau pengguna aspirin dan anti inflamasi non steroid. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan gastroduodenoskopi. Pada pemeriksaan gastroskopi akan tampak mukosa yang sembab, merah, mudah berdarah atau terdapat perdarahan spontan. Erosi mukosa yang bervariasi dari yang menyembuh sampai tertutup oleh bekuan darah dan kadang-kadang ulserasi lesi-lesi tersebut biasanya terdapat pada fundus dan korpus lambung. VI. Penatalaksanaan Gastritis akut diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari alcohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali, pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab. Untuk menetralisasi asam, digunakan antasida umum (misalnya: aluminium antasida); untuk menetralisasi alkali digunakan jus lemon encer. Bila korosi luas atau berat, emetic dan lavase dihindari karena bahaya perforasi. BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS I. Pengkajian 1. Data biografi 2. Keluhan utama 3. Riwayat kesehatan sekarang • Tanyakan tanda dan gejala pada pasien • Apakah pasien mengalami nyeri ulu hati, tidak dapat makan,mual, atau muntah? • Apakah gejala terjadi pada waktu kapan saja, sebelum atau sesudah makan, setelah mencerna makanan pedas atau pengiritasi, atau setelah mencerna obat tertentu atau alcohol? • Apakah gejala berhubungan dengan ansietas, stress, alergi, makan atau minim terlalu banyak, atau makan terlalu cepat? • Bagaimana gejala hilang? 2. Riwayat kesehatan dahulu • Adakah riwayat lambung sebelumnya? • Adakah riwayat pembedahan lambung? 3. Pemeriksaan fisik ( dapat dilakukan secara head to toe atau per system) 4. ADL, mencakup: • Nutrisi : pola, jenis, frekuensi • Eliminasi : pola, frekuensi • Personal hygiene : pola, frekuensi • Istirahat – tidur : pola frekuensi, durasi II. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan umum mencakup yang berikut: 1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang inadekuat dan kehilangan cairan berlebih. 2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. 3. Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi 4. Ansietas berhubungan dengan pengobatan. 5. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit. III. Intervensi Keperawatan Dx I : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang inadekuat dan kehilangan cairan berlebih Tujuan : Meningkatkan keseimbangan cairan Intervensi : 1. Observasi intake dan output cairan setiap hari 2. Hidrasi adekuat 3. Observasi adanya tanda-tanda awal dehidrasi (haluaran urin minimal 30 ml/jam, masukan minimal 1,5 L/hr) 4. Berikan cairan IV 3 L/hr ditambah nilai kalori diukur (1 L 5% dextrose dalam air = 170 kalori karbohidrat) 5. observasi nilai elektrolit (natrium, kalium, klorida) setiap 24 jam. Dx II : Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan intake yang tidak adekuat Tujuan : Meningkatkan nutrisi Intervensi : 1. Makanan dan cairan tidak diizinkan melalui mulut selama beberapa jam atau beberapa hari sampai gejala akut berkurang. 2. Bila terapi IV diperlukan, pemberiannya dipantau dengan teratur, sesuai dengan nilai elektrolit serum. 3. Bila gejala berkurang, pasien diberikan es batu diikuti dengan cairan jernih. 4. Berikan makanan padat sesegera mungkin untuk memberikan nutrisi oral. 5. Hindari masukan minuman yang mengandung kafein. 6. Hindari penggunaan alcohol dan merokok. Dx III : Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi Tujuan : Menghilangkan nyeri Intervensi : 1. Instruksikan pasien untuk menghindari makanan dan minuman yang mengiritasi mukosa lambung. 2. Kaji tingkat nyeri dan kenyamanan pasien setelah penggunaan obat-obatan dan menghindari zat pengiritasi. Dx IV : Ansietas berhubungan dengan pengobatan Tujuan : Mengurangi ansietas Intervensi : 1. Support keluarga 2. Lakukan pendekatan untuk mengkaji pasien dan menjawab semua pertanyaan selengkap mungkin. 3. Jelaskan tentang prosedur dan pengobatan yang akan diberikan sesuai dengan minat dan tingkat pemahaman pasien. Dx V : Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit. Tujuan : – Intervensi : 1. Evaluasi pengetahuan pasien tentang gastritis 2. Berikan penyuluhan kepada pasien 3. Diet diresepkan dan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan kalori harian pasien, makanan yang disukai dan pola makan 4. Berikan daftar zat-zat yang harus dihindari (misalnya: kafein, nikotin, bumbu pedas, pengiritasi, alcohol, makanan yang sangat merangsang). IV. Evaluasi Hasil yang diharapkan : 1. Mempertahankan keseimbangan cairan a. Mentoleransi terapi IV sedikitnya 1,5 L setiap hari b. Minum 6 – 8 gelas air setiap hari c. Mempunyai haluaran urin kira-kira 1 L setiap hari d. Menunjukkan turgor kulit yang adekuat 2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan baik 3. Nyeri yang dirasakan berkurang 4. Menunjukkan berkurangnya ansietas 5. Mematuhi program pengobatan b. Memilih makanan dan minuman bukan pengiritasi c. Menggunakan obat-obatan sesuai resep ANALISA DATA DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH DS: • Pasien mengeluh mual, nafsu makan berkurang DO: • Muntah adanya peningkatan HCL (asam lambung) • Porsi makan tidak habis Adanya gangguan fungsi mukosa sebagai barier menyebabkan mukosa lambung akan mengiritasi karena peningkatan asam lambung (adanya stimulating saraf cholinergic) akibat peningkatan asam lambung akan merangsang medulla vomiting centre sehingga menyebabkan intake nutrisi kedalam tubuh berkurang Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan DS: • Pasien mengeluh nyeri epigastrium DO: • Ekspresi wajah meringis kesakitan • Gelisah • Nyeri tekan daerah abdomen kiri atas Adanya peningkatan dan peningkatan HCL lambung Merangsang pengeluaran zat bradikinin, histamine dan serotinin Rangsangan dihantarkan ke thalamus Menurunkan ambang nyeri Nyeri dipersepsikan Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium DS: • Pasien mengeluh takut dengan kondisi yang dialaminya DO: • Pasien nampak gelisah dan cemas • Ekspresi wajah tegang • Pasien selalu bertanya tentang penyakitnya • Pasien kurang kooperatif dalam program pengobatan Stimulus nyeri Merangsang susunan saraf otonom mengaktifkan norepinephrine Saraf simpatis terangsang untuk mengaktifkan RAS mengaktifkan kerja organ tubuh REM menurun Pasien terjaga Gangguan pemenuhan istirahat tidur DS: DO: • Hasil lab Leucosit lebih dari normal (N: 4000-10000/mm3) Adanya proses peradangan pada mukosa lambung akan merangsang pengeluaran /pelepasan pirogen endogendari neutropil dan makrofag. Pelepasan tersebut akan mempengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh (hypothalamus) yaitu bagian termogulator. Respon tubuh yang munculnya adalah peningkatan suhu tubuh (hipertermi) Potensial gangguan keseimbangan suhu tubuh : hipertermi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN RENCANA TINDAKAN Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang kurang akibat peningkatan asam lambung yang ditandai dengan DS: Mual, lemas dan nafsu makan kurang DO: Muntah, peningkatan produksi HCL (asam lambung) Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan criteria : • Mual, muntah tidak terjadi • Porsi makan habis • Pasien dan keluarga mengerti tentang fungsi makanan dan zat makanan bagi tubuh • Berikan penjelasan tentang pentingnya makanan bagi tubuh • Monitor jumlah makanan yang masuk • Monitor adanya muntah, catat jumlah/frekuensi dan warnanya • Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering • Berikan makanan yang bervariasi untuk merangsang makan • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium berhubungan dengan adanya peradangan pada mukosa lambung yang ditandai dengan : DS: Pasien mengeluh nyeri epigastrium DO : • Ekspresi wajah meringis kesakitan • Nyeri tekan daerah abdomen kiri atas Rasa nyaman terpenuhi dalam waktu 3×24 jam dengan criteria : • Rasa nyeri hilang • Pasien dapat istirahat • Pasien tampak tenang • Berikan kompres hangat pada daerah epigastrium • Kaji tingkat nyeri pasien • Latih pasien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam • Bantu pasien mengidentifikasi makanan yang menimbulkan nyeri • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy analgetik Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat berhubungan dengan stimulus nyeri Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi dengan criteria : • Pasien tenang • Pasien dapat tidur sesuai dengan kebutuhannya • Pasien tidak terlihat lesu,lemah • Atur posisi yang nyaman bagi pasien • Ciptakan lingkungan yang tenang • Diskusikan dengan pasien tentang pola dan kebiasaan pada saat akan tidur • Kolaborasi dengan dokter tentang program pengobatan untuk mengurangi rasa nyeri Potensial terjadinya gangguan keseimbangan suhu tubuh hipertermi berhubungan dengan adanya proses infeksi pada mukosa lambung yang ditandai dengan : DS : DO : • Hasil lab leukosit lebih dari normal (N : 4000-10000/mm3) Tidak terjadinya gangguan keseimbangan suhu dengan criteria : • Suhu tubuh normal 36-37o C • Leukosit normal • Observasi tanda-tanda vital dan gejala hipertermi • Atur suhu lingkungan sesuai dengan kebutuhan • Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan lab. Dan awasi nilai hasil pemeriksaan lab yang mungkin dipengaruhi ketidakstabilan termal (suhu) BAB V PENUTUP GASTRO ENTERITIS G.E. adalah keluarnya faeces yang encer terlalu banyak cairan. Sering buang air besar belum berarti dapat dikatakan GE atau diare, walaupun penderita diare sering buang air besar dalam waktu yang singkat. GE sering disertai kejang usus, mual, muntah, seperti adanya darah pada faeces. GE mempunyai dasar funsional, mungkin penderita alergi terhadap makanan atau obat yang diminumnya salah pakai obat cuci perut dan beberapa diit yang tidak bijaksana. Penyakit pada daerah tubuh selain saluran usus, mungkin menjadi penyebab utama termasuk uremia (zat-zat urine dalam darah) dan beberapa gangguan pada jantung dan syaraf. GE dapat disebabkan oleh factor intrinsic tertentu yang terdapat dalam usus itu sendiri. Termasuk didalamnya sebuan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa, metozoa. Faktor psikis juga salah satu dapat menyebabkan GE salah satunya persoalan-persoalan emosional yang mendalam. GASTRITIS Gastritis (inflamasi mukosa lambung) sering akibat diit yang sembrono, makan terlalu banyak atau terlalu cepat, makan makanan yang berbumbu yang mengandung mikroorganisme penyebab penyakit penyebab lainnya yaitu alcohol, aspirin, refluk empedu, atau terapi radiasi. Gastritis juga merupakan tanda pertama dari infeksi sistemik akut. Gastritis akut diatasi dengan mengintruksikan pasien untuk menghindari alcohol dan makanan yang dilarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s