Lakukan Dengan fikiran

*Skripsi


LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL :HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI WLAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS DTP CIDAHU KABUPATEN KUNINGAN

PENYUSUN : DIDI SUHEDI
NIM : 10104.02.04.006

Cirebon, 14 Juli 2008
Pembimbing Utama

Agus Setiawan, S. kep. MN

Pembimbing pendamping

Awaludin Jahid, S. kep

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah (SKN Depkes RI 2006).
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional (Depkes RI 1989).
Tujuan pembangunan bidang kesehatan tahun 2010 adalah terwujudnya manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Untuk mencapai tujuan tersebut, perhatian pemerintah terletak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka derajat kesehatan masyarakat harus ditingkatkan (Depkes RI, 2001).
Peran serta masyarakat dalam pembangunan khususnya dalam bidang kesehatan diarahkan untuk menciptakan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk dalam rangka terwujudnya derajat kesehatan yang optimal yang diwujudkan dalam kegiatan program pemerintah salah satunya Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) (Depkes RI, 1994). Upaya perbaikan gizi keluarga merupakan salah satu kegiatan posyandu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat agar dapat menanggulangi masalah gizi yang dihadapi (Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 1990).
Peranan wanita dalam mengasuh dan membesarkan anak begitu penting sehingga membuat pendidikan bagi anak perempuan khususnya menjadi lebih sangat penting dan berarti, hal ini karena kelak akan menjadi seorang ibu. Ada hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan status gizi anaknyan serta angka harapan hidup lebih jauh, manfaat kesehatan dan gizi yang lebih baik dan tingkat fertilisasi lebih rendah yang diakibatkan tingkat investasi dalam pendidikan mendorong produktivitas investasi lainya (Nurulpaik, 2002).
Selain pendidikan umur juga merupakan variabel yang harus di perhatikan dalam melihat status kesehatan sesorang, angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam semua keadaan menunjukan hubungan dengan umur. Umur ibu sangat berpengaruh bagaimana ibu mengambil keputusan dalam memberikan gizi pada anak-anaknya sehingga menjadi SDM yang berkualitas. Umur ibu sangat mempengaruhi bagaimana ibu mengambil keputusan dalam memberikan gizi pada anaknya sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualita (Dalam Purnama, 2007)
Sangat dimungkinkan orang tua yang masih muda dan baru mempunyai anak dan akan mempunyai pengalaman yang berbeda dalam merawat anaknya dibandingkan dengan orangtua yang lebih tua serta mempunyai beberapa anak dan berpengalaman dalam merawatnya (Supartini 2005).
Gizi merupakan suatu hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan balita, untuk itu lmu gizi sangat mutlak untuk diketahui bagi masyarakat terutama bagi para ibu, secara keilmuan Gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik (Almastier 2001:9, 3).
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial, status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksik. Baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih terjadi gangguan gizi, gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Primer adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kualitas dan kuantitas disebabkan kurangnya penyediaan pangan, kurang baik distribusi pangan, kemiskinan, kebiasaan makan yang salah, dan faktor sekunder meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makan dikonsumsi (Almastier, 2001:9).
Berdasarkan pelaporan tahunan di UPTD Puskesmas DTP Cidahu tahun 2007 terdapat jumlah penderita gizi buruk 26 (0.77%), gizi kurang 288 (8.56%) gizi baik 2985 (88.78%) dan gizi lebih 66 (1.96%) dari total 3362 balita. Menurut umur balita di wilayah kerja Puskesmas Cidahu dapat dikelompokan sebagai berikut ; usia 0–1 tahun dengan jumlah balita 832 (22, 43% ), usia 1–3 tahun dengan julmlah balita 1527 (41,18% ), dan usia 3–5 tahun 1349 (36,38% ). Latar belakang pendidikan penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cidahu beragam dari mulai tidak tamat SD sampai dengan tamat Perguruan Tinggi mayoritas Tamat SD / MI dengan jumlah 7747 jiwa ( 55,71% ) dengan persentase pendidikan paling banyak adalah lulusan SD tetapi status gizi anak balita menunjukan persentase yang baik yaitu (88.78%) hal ini jika dikaitkan dengan pendapat nurulpaik berlwanan, karena jika pendidikan ibu baik maka status gizi balitanya juga baik pula dan sebaliknya. Mayoritas usia penduduk diwilayah kerja UPTD Puskesmas Cidahu adalah anak – anak dengan jumlah 6508 dari 3259 anak laki – laki dan 3249 anak perempuan, dan yang paling sedikit adalah usia 75 tahun keatas dengan prevalensi 1.87 % dengan jumlah 805 jiwa dari jumlah penduduk 42854 jiwa. (Sumber laporan tahunan UPTD Pusksmas DTP Cidahu tahun 2007).
Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik ingin meneliti tentang ”Hubungan antara karakteristik Ibu dengan Status Gizi pada Balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut; Apakah ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP CidahU
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui karakteristik Pendidikan ibu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.2 Mengatahui karakteristik Pekerjaan ibu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.3 Mengatahui karakteristik Usia ibu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.4 Mengetahui status gizi pada anak balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.5 Mengetahui hubungan antara Karakteristik (Pendidikan, Pekerjaan dan usia) ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini mencakup aspek karakteristik ibu, dalam penelitian ini hanya tiga karakteristik yang di bahas yaitu: Pendidikan, Pekerjaan dan Usia ibu yang mempunyai balita yang dihubungkan dengan Status gizi di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu Kabupaten Kuningan

1.5 Manfaat Hasil Penelitian
1.5.1 Manfaat Bagi Ibu
Gizi merupakan suatu hal yang penting bagi balita, untuk itu seorang ibu dituntut untuk memberikan gizi yang baik untuk anaknya. Penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi ibu yang mengharapkan anaknya tidak mengalami gangguan gizi.
1.5.2 Manfaat Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah bacaan pada perpustakaan, sehingga dapat memberikan sumbangsih ilmu gizi kepada mahasiswa yang membutuhkan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.
1.5.3 Manfaat UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi pada puskesmas cidahu untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam upaya meningkatkan angka gizi baik lebih banyak dan menekan angka status gizi kurang lebih kecil lagi.
1.5.4 Manfaat Bagi Ilmu Keperawatan
Penelitian ini bagi keperawatan diaharapkan dapat menjadi informasi dan masukan dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang status gizi pada anak khususnya topik gizi kurang, dengan harapan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang optimal dan diaharapkan berguna bagi penelitian selanjutnya.
1.6 Kerangka Pemikiran
1.6.1 Karakteristik ibu
Karakteristik ibu adalah tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan yang mencakup usia, pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan ibu. (Suhadi. 2003)
1.6.1.1 Pendidikan
Menurut M. J. Lengevet, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan pada anak, yang tertuju pada kesewasaan. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik (Departemen Pendidikan Nasional, 2001)
Pendidikan dalam arti formal adalah suatu proses penyampaian bahan atau amteri pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidik guna mencapai perubahan tingkah laku. Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara kesehatan balitanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosial dan kedudukan seorang wanita. Peningkatan pilihan mereka terhadap kehidupan dan kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri serta menyatakan pendapatnya. Bahwa pendidikan rendah menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap program kesehatan balitanya sendiri sehingga mereka kurang mengenal bahaya yang terjadi (Notoatmodjo. S, 2003).
Dalam penelitian ini pendidikan yang dimaksud adalah pendidikn formal yang di golongkan menjadi tiga jenjang. Yang menjadi obyek adalah Pendidikan ibu yang mempunyai anak balita
1.6.1.1.1 SMU-S1
1.6.1.1.2 SD-SMP

1.6.1.2 Usia
Usia adalah jumlah waktu suatu makhluk sudah hidup di dunia semenjak lahir, sampai saat usaia itu dihitung (Kakus, 2006)
Umur ibu sangat mempengaruhi bagai mana ibu mengambil keputusan dalam memberikan gizi pada anaknya sehingga menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas (Sutrisna, 1999 dalam Purnama 2007).
Usia ibu yang mempunyai anak usia 0 – 5 tahun yang dibagi menjadi tiga golongan, diantaranya:
1.6.1.2.1 = Tidak Beresiko 20-35 th
1.6.1.2.2 = Beresiko 35 th

1.6.1.3 Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang (Ado, Wikipedia Indonesia 2008). Pekerjaan Ibu yang mempunyai anak balita digolongkan menjadi
1.6.1.3.1 = Bekerja
1.6.1.3.2 = Tidak Bekerja

1.6.2 Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik (Almastier 2001:9, 3).

1.6.2.1 Status gizi lebih
Status gizi lebih artinya kelebihan enersi di dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan atau penggunaan energi (Prof. Dr. Achmad Djaeni S 2004:26).
1.6.2.2 Statatus gizi baik
Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cakupan zat – zat gizi yang digunakan secara efesian, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tinngkat setinggi mungkin (Almastier 2001:9).
1.6.2.3 Status gizi kurang
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial, status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksik.
1.6.2.4 Status gizi buruk
Klasifikasi keadaan gizi kurang yang paling sederhana dan umum dipakai adalah ukuran berat menurut umur, yang kemudian dibandingkan terhadap ukuran baku. Salah satu cara klasifikasi umum yang digunakan adalah yang diajukan Gomez (Gomez dkk, 1965). Sistem gomez ini membagi kedalam tiga derajat gizi kurang, yaitu gizi kurang ringan (90 – 75 % standar), gizi kurang sedang (75 – 60% standar) dan gizi kurang berat (< 60% standar) yang sering disebut gizi buruk. Cara ini memperhatikan berbagai tanda klinis serta prognosa dari penderitaan dalam kaitannya dengan umur (Suhardjo, 1988)
Untuk mempermudah pengolahan data kalifikasi status gizi di katagorikan
1.6.2.4.1 = Status Gizi Lebih dan Baik
1.6.2.4.2 = Status Gizi Kurang dan Buruk

Bagan Kerangka Pikir

Keterangan :

= Variabel yang diteliti

= Variabel yang tidak diteliti

Karakteristik ibu adalah tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan yang mencakup usia, pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan ibu. (Suhadi. 2003)

1.7 Definisi Konseptual dan Definisi Oprasional
1.7.1 Definisi Koonseptual
1.7.1.1 Pendidikan
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik (Departemen Pendidikan Nasional, 2001).
1.7.1.2 Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang (Ado, Wikipedia Indonesia 2008).
1.7.1.3 Usia
Usia adalah jumlah waktu suatu makhluk sudah hidup di dunia semenjak lahir, sampai saat usaia itu dihitung (Kakus, 2006)
1.7.1.4 Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik (Almastier 2001:9).

1.7.2 Definisi Oprasional
1.7.2.1 Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan ibu sampai saat dilakukannya penelitian
1.7.2.2 Pekerjaan adalah segela sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh responden
1.7.2.3 Usia adalah usia individu yang dihitung muai saat dilahirkan sampai saat ulangn tahun terakhir
1.7.2.4 Status Gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ilmu Gizi
Ilmu Gizi merupakan ilmu yang menggunakan berbagai disiplin ilmu dasar, seperti biokimia, Ilmu hayat (fisiologi), ilmu penyakit (fatologi) dan beberapa lagi. Jadi untuk menguasai ilmu gizi secara ahli, harus menguasai bagian-bagian ilmu dasar tersebut yang relevan dengan kebutuhan Ilmu Gizi (Ahmad dzaeni 2004).
Secara umum ilmu gizi (Nutrients Science) dapat didefinisikan sebagai berikut, yaitu ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungan dengan kesehatan optimal. kata “Gizi” berasal dari bahasa Arab Ghidza yang berarti makanan (Almastier, 2001:1).
Zat gizi (Nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melaksanakan fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan (Almastier, 2001:1).
Secara klsik kata gizi hanya dihubungka dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Tetap sekarang kata gizi mempunyai pengertian yang lebih luas, disamping untuk kesehartan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi sesorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, di Indonesia yang sekarang sedang dalam tahap pembangunan maka factor gizi disamping factor-faktor yang lain dianggap penting untuk memacu pembangunan, khususnya pembangunan yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang berkualitas (Almastier,2001).

2.2 Fungsi Zat Gizi
Menurut Kartasapoetra dan Marsetyo (2005:4) zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok diantaranya sebagai berikut :
2.2.1 Karbohidrat
Merupakan sumber energi utama tubuh. Berdasarkan gugus, penyusun gula dapat dibedakan menjadi monosakarida, disakarida, dan polisakarida.
2.2.2 Protein
Diperoleh dari tumbuh-tumbuhan (protein nabati) dan hewan (protein hewani) berfungsi :
2.2.2.1 Membangun sel-sel yang rusak.
2.2.2.2 Membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon.
2.2.2.3 Membentuk zat anti energi, dalam hal ini tiap gram protein menghasilkan sekitar 4,1 kalori.

2.2.3 Lemak
Merupakan senyawa organik yang majemuk, terdiri unsur C, H dan O yang membentuk senyawa asam lemak dan gliserol (gliserin) apabila bergabung dengan zat lain yang akan membentuk lipid, fungsi pokok lemak yaitu :
2.2.3.1 Penghasil kalori terbesar yang dalam hal ini tiap gram lemak menghasilkan sekitar 9,3 kalori.
2.2.3.2 Sebagai pelarut vitamin tertentu, seperti A, D, E dan K.
2.2.3.3 Sebagai pelindung alat-alat tubuh dan sebagai pelindung tubuh dari temperatur rendah.
2.2.4 Vitamin
Vitamin dapat dikelompokan menjadi dua vitamin, yaitu vitamin yang larut dalam air meliputi B dan C, dan vitamin yang larut dalam lemak meliputi A, D, E, dan K fungsi utamanya yaitu:
2.2.4.1 Vitamin A (aserofol) berfungsi bagi pertumbuhan sel-sel epitel, sebagai proses oksidasi dalam tubuh, pengatur kepekaan rangsangan sinar pada syaraf mata.
2.2.4.2 Vitamin B1 berfungsi sebagai metabolisme karbohidrat, mempengaruhi keseimbangan air dalam tubuh, penyerapan zat makanan dalam tubuh.
2.2.4.3 Vitamin B2 berfungsi sebagai pemindahan rangsang sinar ke syaraf mata, sebagai enzim dalam proses oksidasi di dalam sel-sel.
2.2.4.4 Vitamin B6 berfungsi sebagai pembuatan sel-sel darah, pertumbuhan dan pekerjaan urat syaraf.
2.2.4.5 Vitamin B11 (asam tolium) berfungsi sebagai zat dalam pertumbuhan sel darah merah, mencegah anti perniosa atau anemia yang kuat.
2.2.4.6 Vitamin B12 (sianoko balamin) berfungsi sebagai koenzim penting dalam metabolisme asam amino dan berperan dalam merangsang pembentukan eritrosit.
2.2.4.7 Vitamin C (asam askarbinat) berfungsi sebagai aktifator macam-macam permen perombak protein dan lemak, sebagai zat yang penting dalam oksidasi dan dehidrasi dalam sel, mempengaruhi kerja anak ginjal, pembentukan trombosit.
2.2.4.8 Vitamin D berfungsi sebagai mengatur kadar kapur dan fospor dalam darah bersama-sama kelenjar anak gondok, memperbesar penyerapan kapur dan fospor dari unsur, mempengaruhi proses osifikasi dan kerja kelenjar endokrin.
2.2.4.9 Vitamin E (tookferol) berfungsi mencegah perdarahan bagi wanita hamil serta mencegah keguguran, diperlukan pada saat sel sedang membelah.
2.2.4.10 Vitamin K (antihermogia) berfungsi sebagai pembentukan protrombin atau sangat penting dalam proses pembekuan darah.
2.2.4.11 Air sebagai pelarut dan menjaga stabilitas temperatur tubuh. Kebutuhan air diatur oleh beberapa kelenjar hipofise, tiroid, anak ginjal, dan kelenjar keringat.

2.3 Kebutuhan Gizi Berkaitan dengan Proses Tubuh
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang diperlukan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila malanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Zat-zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus didatangkan dari makanan, bila dikelomopokan ada tiga fungsi zat gizi dalam tubuh

2.3.1 Memberi Energi
Zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Oksidasi zat-zat gizi ini adalah menghsilkan energi yang diperlukan tubuuh untuk melakukan aktivitas ketiga zat gizi termasuk ikatan organic yang mengandung karbon yang dapat dibakar. Ketiga zat gizi terdapat jumlah paling banyak adalah dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembakar.

2.3.2 Pertumbuhan dan Pemeliharaan Jaruingan Tubuh
Protein, mineral dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel yang rusak, dalam fungsi ini ketiga zat gizi sebagai zat pembangun

2.3.3 Mengatur Proses Tubuh
Protein, mineral, air dan Vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein bertugas mengatur keseimbangan cairan dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibody sebagai penangkal organisme yang bersifat infekti dan bahan-bahan asing yang dapat masuk kedalam tubuh. Mineral dan Vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi normal saraf dan otot serta banyak proses lain yang terjadi dalam tubuh termasuk proses menua. Air diperlukan untuk melarutkan bahan makanan kedalam tubuh, seperti didalam darah, cairan pencernaan, jaringan dan mengatur suhu tubuh. Dalam fungsi mengatur suhu tubuh ini, protein, mineral dan air disebut sebagai zat pengatur

2.4 Akibat Gangguan Gizi terhadap Fungsi Tubuh
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat yang digunakan secara efesien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setingi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah yang berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksik yang membahayakan. Baik pada status gizi kurang atau lebih terjadi gangguan gizi.

2.5 Akibat Gizi Kurang pada Proses Tubuh
Akibat gizi kurag pada proses tubuh tergantung pada zat apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang secara kualitas dan kuantitas) menyebanbkan gangguan pada proses-proses tubuh diantaranya

2.5.1 Pertumbuhan
Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya, protein digunakan sebagai zat pembakar, sehingga otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok. Anak-anak yang berasal dari tingkat social ekonomi menengah keatas lebih tinggi dari pada social ekonomi bawah
2.5.2 Produksi Tenaga
Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan sesorang kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktivitas. Orang menjadi malas, merasa lemah dan produktivitas kerja menurun.
2.5.3 Struktur dan Fungsi Otak
Kurang gizi pada usia muda dapat mempengaruhi perkembangan mental dan kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun. Gangguan gizi dapat menimbulkan gangguan otak secara permanent
2.5.4 Perilaku
Baik anak-anak ataupun dewasa yang kurang gizi menunjukan perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng dan apatis.

2.6 Akibat Gizi Lebih pada Proses Tubuh
Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi yang dikonsumsi disimpan dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan salah satu factor resiko dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi, Diabetes, jantung koroner, hati dan empedu.

2.7 Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik ( Almastier 2001:9).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan atau perwujudan dari nutrien dalam bentuk variabel tertentu. Pada dasarnya penilaian status gizi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung atau tidak langsung. Penilaian secara langsung meliputi biokimia, klinis dan biofisik. Penilain secara tidak langsung melalui survei makanan, statistik vital dan faktor ekologi (Supariasa dkk , 2002:20).
Penilaian status gizi anak serupa dengan penilaian pada periode lain. Pemeriksaan yang perlu lebih diperhatikan bergantung pada bentuk kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori protein lazim menjangkiti anak. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap tanda dan gejala ke arah sana termasuk pula kelainan yang menyertainya.

2.8 Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penelitian yaitu: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Masing-masing akan dibahas secara umum sebagai berikut.

2.8.1 Antropometri
2.8.1.1Pengertian
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditunjukan dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umum dan tingkat gizi.

2.8.1.2 Penggunaan
Antropometri secara umum di gunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ibu di lihat dari pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
2.8.2 Klinis
2.8.2.1 Pengertian
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai setatus gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan–perubahan yang terjadi yang di hubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat di lihat pada jaringan opitel (supervicial epithelial tissus) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ–organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
2.8.2.2 Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk survai kelinis secara cepat (rapid clinical surveys) survei ini di rancang untuk menditeksi secara cepat tanda – tanda klinis umum dari kekuranan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping digunakan untuk menentukan status gizi seseorang, dengan melakukan pemeriksaan fisik (sign) dan gejala (symtom) atau riwayat penyakit.
2.8.3 Biokimia
2.8.3.1 Pengertian
Penilaian status gizi dengan biokomia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan diberbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakn antara lain: darah, urine, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
2.8.3.2 Penggunaan
Metode ini digunakan suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala kelinis yang kurang sepesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang sepesifik.

2.8.4 Biofisik
2.8.4.1 Pengertian
Penerapan suatu gizi secara biofisik adalah metode penerapan suatu gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan setruktur dari jaringan.
2.8.4.2 Penggunaan
Umumnya dapat di gunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang di gunakan adalah tes adaptasi gelap.

2.9 Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat di bagi tiga yaitu: survei konsumsi makanan, statistik fital dan faktor ekologi. Pengertian dan penggunaan metode ini akan di uraikan sebagai berikut:
2.9.1 Survei konsumsi makan
2.9.1.1 Pengertian
Survei konsumsi makan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jebis zat gizi yang dikonsumsi.

2.9.1.2 Penggunaan
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga,dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan suatu zat gizi.
2.9.2 Statistik Vital
2.9.2.1 Pengertian
Pengukuran status gizi dengan statistik Vital adalah dengan menganalisa data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat kelebihan dan kekurangan gizi
2.9.2.2 Penggunaan
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi pada masyarakat
2.9.3 Faktor Ekolog
2.9.3.1 Pengertian
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan ekolgi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti tanah, iklim, irigasi dan lain-lain.

2.9.3.2 Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di masyarakat sebagai dasar untuk menentukan progam intervensi gizi (schrismaw, 1964).

2.10 Keuntungan dan Kelemahan Metode Antropometri
2.10.1 Pengertian Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tumbuh dan metros artinya ukuran. Jadi Antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian ini bersifat sangat umum sekali. Dari kefnisi tersebut di atas dapat di tarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagi macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagi tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antaralain: berat badab, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Antropometri sangat umum di gunakan untuk mengukur suatu gizi dari berbagai ketidak seimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya di lihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air pada tubuh

2.10.2 Keunggulan antropometri
2.10.2.1 Prosdurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar
2.10.2.2 Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih
2.10.2.3 Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, cepat dipesan dan dibuat didaerah setempat
2.10.2.4 Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan
2.10.2.5 Dapat mendeteksi status gizi dimasa lampau
2.10.2.6 Umumnya dapat mendeteksi status gizi sedang, kurang, baik dan lebih. Karena ada ambang batas yang jelas.

2.10.3 Kelemahan antropometri
Disamping keunggulan metode antropometri, terdapat pula kelemahanmetode Antropometri, diantaranya adalah:
2.10.3.1 Tidak sensitif, metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dengan singkat, disamping itu tidak dapat menetukan kekurangan salah satu zat
2.10.3.2 Faktor diluar gizi (penyakit, genetik,dan penurunan gangguan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi da sensitivitas pengukuran Antropometri
2.10.3.3 Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validasi pengukuran.
2.10.3.4 Kesalahan ini terjadi karena
2.10.3.4.1 Pengukuran
2.10.3.4.2 Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
2.10.3.4.3 Analisis dan sumsi yang keliru
2.10.3.5 Kesalahan biasanya berhubungan dengan:
2.10.3.5.1 Latihan petugas yang tidak cukup
2.10.3.5.2Kealahan alat atau alat tidak tera
2.10.3.5.3 Kesulitan pengukuran

2.11 Jenis Parameter
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit dibawah ini akan diterangkan sebagaian parameter tersebut:

2.11.1 Umur
Faktor umur sangat penting dalam menentukan status gizi, kesalahan menetukan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil pengukuran berat badab dan tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila penentuan umur salah. Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh, contoh tahun usia penuh (anak umur 7 tahun 5 bulan dihitung 7 tahun) dan bulan usia penuh (anak umur 5 bulan 8 hari dihitung 5 bulan).

2.11.2 Berat Badan
Berat bada merupakan ukuran antrpometeri yang penting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Pada masa bayi/balita berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan fisik seperti dehidrasi, asietas, tumor dan adanya edema. Disamping itu pula berat baab dapat digunakan sebagai dasar penghitungan dosis obat dan makanan. Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, mineraldan air pada tulang. Pada remaja lemak tubuh cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang dewasa edema dan asites terjadi penambahan cairan pada tubuh

2.11.3 Tinggi Badan
Tinggi badan sangat penting untuk menentukan keadaan masa lalu dan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi bvadab menjadi ukuran yang sangat penting kedua. Karena dengan menghubungakan tinggi badan dan berat baab faktor umur dapat diabaikan.

2.12 Indeks Antropometri
Parameter antropometri merupakan dasar dari pengukuran status gizi. Kombinasi dari beberapa parameter disebut indeks Antropometri. Beberapa indeks telah diperkenalkan dalam diseminarkan antropometri tahun 1975. di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada, maka untuk tingi badan dan berat badan digunakan buku Havard yang disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Dalam pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan mempenngaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Masih banyak diantara pakar yang berkecimbung di bidang gizi belum mengerti makna dari beberapa indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) berikut adalah penjelasannya:

2.12.1 Berat badan menurut umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang membrikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya terseranng penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan sangat baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin, makan berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya keadaan berat badan yang abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi . mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutricional status)

2.12.1.1 Kelebihan Indeks Berat badan menurut umur
2.12.1.1.2 Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum
2.12.1.1.3 Baik untuk mengukur gizi akut dan kronis
2.12.1.1.4 Berat badan dapat berfluktasi
2.12.1.1.5 Sangat sensitif terhadap perubahan kecil
2.12.1.1.6 Dapat mendeteksi kegemukan

2.12.1.2 Kelemahan indeks berat badan menurut umur
2.12.1.2.1 Dapat menyebabkan interprestasi yang keliru jika terdapat edeme dan asites.
2.12.1.2.2 Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan sangat tradisional umur sering tidak dapat di deteksi.
2.12.1.2.3 Memerlukan data umur yang akurat terutama anak balita
2.12.1.2.4 Sering terjadi kesalahan pengukuran akibat anak yang bergerak saat di timbang dan pengaruh pakaian.
2.12.2 Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan pertumbuhan selektal (tulang). Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan bertambahnya umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti pertumbuhan berat badan, relatif kurang sensitif terhadap status gizi dalam waktu pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan sangat lama pengaruhnya. Berdasarkan karakteristik tersebut diatas, maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. Beaton dan Bengos (1973) menyatakan bahwa indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau juga lebih erat kaitannya dengan status sosial-ekonomi.
2.12.2.1 Keuntungan Indeks TB/U
2.12.2.1.1 Baik untuk menilai status gizi masa lalu
2.12.2.1.2 Ukuran panjang dapat dibuat sendiri dan murah harganya
2.12.2.2 Kelemahan indeks BB/U
2.12.2.2.1 Tinggi badan tidak cepat naik dan tidak mungkin turun
2.12.2.2.2 Pengukuran sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak
2.12.2.2.3 Ketepatan umur sulit didapat
2.12.3 Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Berat badan dengan tinggi mempunyai hubungan yang liniear. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jellife pada tahun 1966 telah memperkenalkan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks TB/BB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi masa sekarang. Indeks TB/BB merupakan indeks yang indefenden terhadap umur.
2.12.3.1 Keuntungan indeks TB/BB
2.12.3.1.1Tidak memerlukan data umur
2.12.3.1.2 Dapat membedakan proporsi badan gemuk

2.12.3.2 Kelemahan indeks BB/TB
2.12.3.2.1 Tidak menggambarkan apakah anak kependekan atau ketinggian menurut perkembangannya karena tidak melihat umur
2.12.3.2.2 Dalam kenyataan sering mendapat kesulita dalam pengukuran berat badan dan tinggi badan pada anak dan bayi
2.12.3.2.3 Membutuhkan dua orang untuk melakukannya
2.12.3.2.4 sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran
2.12.3.2.5 Pengukuran relatif lama

2.13 Pendidikan Sebagai Suatu Sistem
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidkan. Suatu usaha pendidikan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu unsur masukan (in put), unsur psoses (preces), dan unsur hasil usaha (out put). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) menjelaskan pula bahwa ”pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan, saaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur / jenjang, kurikulum, dan fasilitas.

2.14 Kelembagaan, Program, dan Pengelolaan Pendidikan
Menurut UU RI No. 2 Tahun 1989, kelembagaan,program,dan pengelolaan pendidikan di Indonesia sebagai berikut:
2.14.1 Kelembagaan Pendidikan
Ditinjau dari segi kelembagaan maka penyelenggara pendidkan di Indonesia melalui dua jalur yaitu jalur melalui pendidikan sekolah dan jalur melalui pendidikan luar skolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan jalur lauar pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar tapna harus berjenjang dan berkesinambungan.
Fungsi pendidikan luar sekolah, antara lain, memberikan beberapa kemampuan, yaitu memberikan keahlian untuk pengembangan karier, sebegai contoh, melalui kursus penyegaran, penetaran, seminar, lokakarya dan konfersi ilmiah; kemempuan teknia akademis dalam suatu sestem pendidikan nasional seperti sekolah terbuka, sekolah kejuruan, kursus-kursus tertulis, pendidikan melalui radio dan televis; kemempuan pengembangan kehidupan keagamaan, seperti melalui pesantreni, pengajian, pendidikan di surau atau langgar dan biara; kemempuan pengembangan kehidupan sosial budaya, seperti teater, olahraga, seni bela diri dan lembaga-lembaga pendidikan sepiritual; kemempuan keterampilan dan keahlian, sebagai contoh dengan melalui sistem magang untuk menjadi ahli bangunan.
Pendidikan keluarga merupakn bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang di lakukan oleh keluarga dan yang memberi keyakunan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.

2.15 Jenis program pendidikan
Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidkan sekolah terdiri daria pendidkan umum, pendidkan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademis dan pendidikan profesional.

2.15.1 Pendidikan umum
Pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetehuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan pada tingkat akhir masa pendidikan.
2.15.2 Pendidikan kejuruan
Pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja pada bidang tertentu
2.15.3 Pendidikan luar biasa
Pendidikan yang khusus di selenggarakan untuk peserta didik yang menyandang keleinan fisik atau mental.
2.15.4 Pendidikan kedinasan
Pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas unkedinasan utuk pegawai atau calon pegawai suatu departemen pemerintah atau lembaga pemerintahan non depertemen
2.15.5 Pendidikan keagamaan
Pendidikan yang mempersiapkian peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut pengusahaan pengetahuan khusus tentang ajaran keagamaan yang bersangkutan.
2.15.6 Pendidikan akademik
Pendidikan yan diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan.

2.15.7 Pendidikan prefesional
Pendidikan yang di arahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu

2.16 Jenjang pendidkan
Jenjang pendidikan yang termasuk pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Selain pendidikan di atas di selenggarakan pendidikan pra sekolah sebagai persiapan untuk memasuki sekolah dasar.
2.16.1 Pendidikan Pra Sekolah
Pendidikan pra sekolah di selenggarakan untuk melatih dasar-dasar ke arah pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperluka anak untuk hidup di lingkungan masyarakat serta memberikan bekal kemampuan dasar untuk memasuki jenjang sekolah dasar dan pengembangan diri sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup.
2.16.2 Pendidikan dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangan sikap dan kemempuan serta memberikan kemampuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan dasar wajib di ikuti oleh setiap warga negara (kompulsory education). Dengan kata lain, warga negara di wajibkan menempuh pendidikan dasar yang dapat membekali dirinya dengan penegetahuan dasar, nilai dan sikap dasar, serta keterampilan dasar. Pendidikan dasar juga dapat di laksanakan melalui sekolah-sekolah agama, serta melalui pendidikan luar sekolah. Sekarang akan di laksanakn pendidikan dasar selama 9 tahun untuk seluruh bangsa indonesia.
2.16.3 Pendidikan menengah
Pendidikan menengah di selenggarakan untuk melanjutjan dan meluaskan pendidikan dasar derta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Pendidikan menengah terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan dan pendidikan keagamaan. Fungsi pendidikan menengah umum mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi. Fungsi pendidikan menegah kejuruan adalah mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja sesuai dengan pendidikan kejuruan yang di ikutinya, atau untuk mengikuti pendidikan kefropesian pada tingkat kependidikan tinggi.
2.16.4 Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan lanjutan pendidikan menengah yang di selenggarakan untuk menyiapkan peserta untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akaremik dan atu fropesional yang dapat menerapkan, pengembangan dan atau penciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Adapun pungsi pendidikan tinggi antara lain adalah :
2.16.4.1 Menerapkan dan menerangkan peradaban, ilmu, teknologi dan seni, serta ikut membangun manusia indonesia seutuhnya, untuk itu pendidikan tinggi melaksanakn misi tridarmanya, yaitu darma pendidikan, penelitian, dan mengebdi pada masyarakat;
2.16.4.2 Menghasilkan tenaga-tenaga yang berbudi luhur, yan bertakwa kehadirat tuhan yang maha esa, bermoral pancasila dalam arti mampu menghayati dan mampu mengamalkanya
2.16.4.3 Menghasilkan tenaga-tenaga yang terampil, menguasai ilmu dan teknologi sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi di sebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.
Akademik merupakan perguruan tinggi yang menyelanggarakan pendidikan terpapan dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.Poloteknis merupakan perguruan tinggi yang menyelengggarakan pendidikan terpapan dalam sejumlah pengetahuan khusus.Sekolah tinggi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik atau profesional dalam suatu di siplin ilmu tertentu.
Insitut merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikab akademik dan atau profesional dalam skelompok disiplin ilmu tertentu.universitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu.
Lalu syarat-syarat dan tata cara pendidikan, setruktur perguruan tinggi dan meneyelenggarakan pendidikan tinggi di tetapkan dalam peraturan pemerintah.
Pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Sekolah tinggi, institut dan universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan atau profesional. Akademi dan politeknik menyelenggarakan pendidikan profesional.

BAB III
METODE PENILITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang akan diteliti, maka jenis penelitian yang di gunakan adalah cross sectional, penelitian non-eksperimen dalam rangka mempelajari dinamika kerolasi antara faktor – fator resiko dengan efek yang berupa penyakit atau status. Penulis ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara Karakteristik (Pendidikan,Pekerjaan dan Usia) ibu dengan status gizi pada balita (Dr. Ahmad Watik Praktiknya, 1986:168)

3.2 Variabel & Hipotesa penelitian
3.2.1 Variabel Independen
Variabel Independen, yaitu variabel yang dapat mempengaruhi atau merubah variabel lain. (Prakriknya, 2007). Adapun variabel Independen dalam penelitian ini adalah Pendidikan Ibu, Pekerjaan Ibu dan Usia Ibu dengan cara ukur kuisioner dengan akala Ordinal kecuali pekerjaan Nominal

3.2.1.1 Pendidikan ibu dikatagorikan
3.2.1.1.1 SMU-S1
3.2.1.1.2 SD-SMP

3.2.1.2 Pekerjaan ibu dikatagorikan
3.2.1.2.1 Bekerja
3.2.1.2.2 Tidak Bekerja
3.2.1.3 Umur ibu dikatagorikan
3.2.1.3.1 Tidak Beresiko 20-35 tahun
3.2.1.3.2 Beresiko 35 tahun

3.2.2 Variabel Dependen
Variabel Dependen adalah variabel yang berubah karena pengaruh variabel independen. Adapun variabel dependen dalam peneiltian ini adalah status gizi.
Status gizi balita dikatagorikan
3.2.2.1 status gizi Lebih dan Baik
3.2.2.2 status gizi Kurang dan sedang
3.2.2.3 statuis gizi Buruk

3.2.3 Hipotesa
Berdasarkan uraian variabel diatas terdapat hubungan antara karaktertistik ibu dengan status gizi pada balita
H o : tidak ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita
H a : ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyaii anak balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu dengan jumlah Balita mencapai 3362.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh poluasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 97 ibu yang mempunyai anak balita yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cidahu yang tersebar di 12 desa di wilayah kecamatan Cidahu.
Selanjutnya untuk menentukan besar sampel variabel ini ditentukan dengan rumus : Slovin dalam Notoatmodjo

Keterangan
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat kepercayaan 10% (0,1)
hasil penghitungan sampel :

N
n =
1+N (d) 2

3362
n =
1 + 3360 (0.1) 2

3362
n =
1 + 3362 (0.01)
3362
n =
1 + 33.62

3362
n =
34.62

n = 97
Sampel dalam penelitian ini adalah 97ibu yang mempunyai balita yang tersebar di 12 Desa di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu Kabupaten Kuningan

3.3.3 I nstrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan mengambil data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dari pertanyaan–pertanyaan terbuka. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan kuesioner, yaitu memberikan seperangkat pertanyaan kepada responden untuk diisi.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara meminta responden mengisi instrumen berupa kuisioner yang telah ditetapkan sebagai instrumen penelitian. Kuisioner tersebut berisi pernyataan tentang biodata responden yang bersifat data pengkajian. Data Sekunder yang diperoleh sebagai pendukung hasil penelitian, sumber data sekunder diperoleh dari catatan, literatur, artikel dan tulisan ilmiah yang relevan dengan topik penelitian yang dilakukan, dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari hasil pencatatan penimbangan posyandu

3.5 Analisa data dan Pengolahan data
Setelah terkumpul data diolah dan dianalisa secara univariat dan bivariat untuk mengetahui hubungan antara pendidkan, pekerjaan dan usia ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan menggunakan langkah – langkah sebagai berikut :

3.5.1 Coding
Memberi tanda pada masing – masing jawaban dengan kode berupa angka, sewlanjutnya dimasukkan ke dalam lembaran tabel kerja untuk mempermudah pengolahan.
3.5.2 Tabulating
Kegiatan atau langkah memasukan data – data hasil penelitian kedalam tabel sesuai kriteria.
3.5.3Editing
Kegiatan atau langkah memasukan data – data hasil penelitian kedalam tabel sesuai kriteria.
3.5.4Analisis
Analisa data untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu. Analisa data dilakukan dengan dua cara yaitu:

3.5.4.1 Analisa Univariat
Setelah data diolah, masing-masing variable dimasukan kedalam data tabel distribusi frekuensi, kemudian dapat juga dicari prosentase dan mean dari data tersebut. Rumus yang digunakan :

p = f x 100%
N
X = ∑ f x 100%
N

Keterangan :
f = Frekuensi
N = Jumlah responden
n = Jumlah responden sampel
penilaian status gizi pada balita
Status gizi balita dikatagorikan
3.5.4.1.1 status gizi Lebih dan Baik
3.5.4.1.2 status gizi Sedang dan Kurang
3.5.4.1.3 statuis gizi Buruk

Dikatakan status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cakupan zat – zat gizi yang digunakan secara efesian, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tinngkat setinggi mungkin (Almastier 2001:9).

3.5.4.2 Analisa Bivariat
Mempunyai tujuan untuk melihat hubungan antara karakteristik Ibu, dengan status gizi pada balita serta dilanjutkan kedalam tabel silang untuk menganalisa hubungan diantara variabel indefenden dengan variabel defenden, kemudian dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square dengan derajat kemaknaan 95 %. Kemudian untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik dengan cara membandingkan nilai X2 dengan α = 0,05 bila t tabel maka terdapat hubungan yang bermakna antara variabel indefenden dengan variabel defenden, rumus Chi Square tersebut adalah sebagai berikut :

X2 = fo – fh
fh
Keterangan:
X2 : Chi kuadrat
Fo : Frekuensi yang diobservasi
Fh : Frekuensi yang diharapkan
Pengujian syarat hipotesis
X2 : Hitung ≥ X2 tabel kesimpulan Ho ditolak
X2 : Hitung ≤ X2 tabel kesimpulan Ho diterima
dk = (b-1) (k-1)
Keterangan :
dk : Derajat Kemaknaan
k : Jumlah kolom
d : Jumlah baris

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Demografi
4.1.1 Luas Wilayah
4.1.1.1 Pemukiman : 2.675.2 Ha
4.1.1.2 Sawah : 668.8 Ha
4.1.2 Batas-batas
4.1.2.1 Utara : Kabupaten Cirebon
4.1.2.2 Timur : Kabupaten Cirebon
4.1.2.3 Barat : Kecamatan Kalimanggis
4.1.2.4 Selatan : Kecamatan Luragung

4.1.3 Jumlah Desa dan Wilayah Administrasi
Jumlah Desa pada wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu berjumlah 12 Desa, diantaranya :
4.1.3.1 Desa Cihideunggirang
4.1.3.2 Desa Cihideung hilir
4.1.3.3 Desa Nanggela
4.1.3.4 Desa Cidahu
4.1.3.5 Desa Kertawinangun
4.1.3.6 Desa Datar
4.1.3.7 Desa Bunder
4.1.3.8 Desa Cieurih
4.1.3.9 Desa Cibulan
4.1.3.10 Desa Legok
4.1.3.11 Desa Jatimulya

4.2 Hasil Penelitian
Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap ibu yang mempunyai anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu Kabupaten Kuningan. Dalam Penelitian ini Penulis menggunakan sample 97 ibu yang mempunyai balita dari populasi 3362 ibu yang mempunyai balita. Dalam penghitungan sample penulis menggunakan Random sampling dengan setiap ibu dari 12 Desa mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sample, dalam skripsi ini terdapat dua Variabel yang saling dikaitan yang nantinya oleh penulis akan dicari ada tidak adanya hubungan dari kedua variable itu. Data dari masing-masing variable akan disajikan dalam betuk table supaya dapat dengan mudah mebacanya, dan penulis juga akan menguraikannya dalam bentuk narasi.

4.2.1. Analisis hasil penelitian
4.2.1.1 Pekerjaan
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu di UPTD Puskesmas DTP Cidahu

Pekerjaan Jumlah Persentase
Bekerja 7 7.2%
Tidak Bekerja 90 92.8%
Total 97 100%

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 1 dapat terlihat dari 97 responden distribusi pekerjaan ibu yang paling banyak adalah ibu dengan tidak bekerja atau pekerjaanya hanya sebagai IRT sebanyak 90 orang (92.8%).
4.2.1.2. Pendidikan
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu di UPTD Puskesmas DTP Cidahu

Pendidikan Jumlah Persentase
Baik 8 8.2%
Kurang 89 91.8%
Total 97 100%

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2 dapat terlihat dari 97 responden distribusi frekuensi pendidikan ibu yang paling banyak di wilayah kerja Puskesmas Cidahu adalah Rendah atau kurang Sebanyak 89 orang (91.8%).

4.2.1.3. Umur
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Umur Ibu di Puskesmas Cidahu

Umur Jumlah Persentase
Tidak Beresiko
(20-35) thn 89 91.8%
Resiko
(35) thn 8 8.2%
Total 97 100%

Berdasarkan dari hasil analisis pada tabel 3 dapat terlihat dari 97 responden distribusi frekuensi umur ibu paling banyak yang berada di Puskesmas Cidahu adalah umur ibu 20-35 tahun sebanyak 89 orang (91.8%).

4.2.1.4 Status Gizi
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Status Gizi Anak di Puskesmas Cidahu

Status Gizi Jumlah Persentase
Gizi Baik
(status Gizi lebih dan Baik) 85 87.6%
Gizi Kurang
(status gizi sedang dan kurang) 12 12.4%
Gizi Buruk 0 0%
Jumlah 97 100%

Berdasarkan dari hasil analisis pada tabel 4 dapat terlihat dari 97 responden, distribusi frekuensi status gizi balita paling banyak yang berada di Puskesmas Cidahu adalah status gizi Baik yaitu sebanyak 85 orang (87.6%), sedangkan gizi kurang hanya 12 balita (12.4%) dan gizi buruk tidak ditemukan.

4.2.2 Univariat
4.2.2.1 Distribusi Frekuensi Deskristif Status Gizi dengan Pekerjaan Ibu
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Gambaran Status Gizi Anak Balita berdasarkan Pekerjaan ibu di Puskesmas Cidahu

Pekerjaan Ibu Status Gizi Balita Total
Baik Kurang
Bekerja 7 (100%) 0 7 (100%)
Tidak Bekerja 78 (86.7%) 12 (13.3%) 90 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang tidak bekerja sebanyak 90 Ibu dan Ibu dengan bekerja sebanyak 7 Ibu, ternyata ibu yang tidak bekerja yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 78 (86.7%)

4.2.2.2 Distribusi Frekuensi Deskristif Status Gizi dengan Pendidikan Ibu
Tabel 6
Distribusi frekuensi gambaran status gizi Balita berdasarkan Pendidikan ibu di Puskesmas Cidahu

Pendidikan Ibu Status Gizi Balita Total
Baik Kurang
Baik 8 (100%) 0 (%) 8 (100%)
Kurang 77 (86.5%) 12 (13.5%) 89 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berpendidikan kurang sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan pendidikan baik sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berpendidikan kurang yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 77 Ibu

4.2.2.3 Distribusi Frekuensi Deskristif Status Gizi dengan Pendidikan Ibu
Tabel 7
Distribusi frekuensi gambaran status gizi
anak usia 1-5 tahun berdasarkan Usia ibu di Puskesmas Cidahu

Usia ibu Status Gizi Balita Total
Baik Kurang
Tidak Beresiko
(20-35) thn 79 (88.8%) 10 (11.2%) 89 (100%)
Beresiko
(35) thn 6 (75%) 2 (25%) 8 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berusia Tidak resiko (20-35) thn sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan usia beresiko (35) thn sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berusia tidak resiko (20-35) thn yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 79 (88.8%)

4.2.2.3 Bivariat
4.2.2.3.1 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Tabel 8
Pekerjaan Ibu Status Gizi balita Total PValue
Baik Kurang 0.591
Bekrja 7 (100%) 0 (%) 7 (100%)
Tidak Bekerja 78 (86.7%) 12 (13.3%) 90 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang bekerja sebanyak 7 Ibu dan Ibu dengan tidak bekerja sebanyak 90 Ibu, ternyata ibu yang tidak bekerja yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 78 (86.7%). Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.591 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

4.2.2.3.2 Hubungan Pendidikan Ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Tabel 9
Pendidikan Ibu Status Gizi balita Total PValue
Baik Kurang 0.590
Baik 8 (100%) 0 (%) 8 (100%)
Kurang 77 (86.5%) 12 (13.5%) 89 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berpendidikan kurang sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan pendidikan baik sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berpendidikan kurang yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 77 (86.5%). Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.590 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

4.2.2.3.3 Hubungan usia Ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas DTP Cidahu
tabel 10
Usia Ibu Status Gizi balita Total PValue
Baik Kurang 0.257
Tidak beresiko
(20-35) thn 79 (88.8%) 10 (11.2%) 89 (100%)
Beresiko
35) thn 6 (75.0%) 2 (20%) 8 (100%)
Total 85(87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berusia tidak beresiko sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan usia beresiko sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang tidak beresiko yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 79 (88.8%)Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.257 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

4.3 Pembahasan
4.4.1 Hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di UPTD Pusksmas DTP Cidahu
Dilihat dari tabel 4.2.2.3.1, dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang bekerja sebanyak 7 Ibu dan Ibu dengan tidak bekerja sebanyak 90 Ibu, ternyata ibu yang tidak bekerja yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 85 Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.591 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.
Sosok seorang ibu tidak dapat dipisahkan dengan balita, apa yang terjadi dan bagaimana jadinya seorang balita (anak) semua itu kuat hubungannya dengan seorang ibu. Kondisi ibu baik itu kesehatanya, pengatahuannya dan yang lainnya akan berdampak langsung pada kondisi anaknya. Kondisi seorang anak yang di bahas dalam hal ini adalah status gizi anak. Status gizi anak juga sama halnya dengan kondisi yang lain, yaitu dipengaruhi oleh kondisi ibunya sendiri. Status gizi anak akan baik jika perhatian ibu secara penuh berfokus bagaimana caranya supaya asupan gizinya adekuat sehingga anaknya sehat. Untuk mewujudkannya tentunya harus bayak waktu dari seorang ibu untuk anaknya. Sehingga sekecil apapun perubahan fisik yang mengarah ke kekurangabn suatu zat gizi akan terdeteksi decara dini, sehingga ibu yang tidak bekerja akan lebih banyak waktu dengan balitanya dibanding ibu yang bekerja. Menurut Notoatmodjo, balita yang mengalami kekurangan suatu zat gizi lebih sering disebabkan ibu yang kurang perhatian terhadap balitanya dengan alasan sibuk mengurus pekerjan. Dilihat dari hasil penelitian di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu antara ibu yang bekerja dan tidak bekerja sama-sama memiliki balita dengan status gizi baik, hal ini diperkuat dengan hasil perhitungan SPSS yang menyatakan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi. Ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja pengaruhnya terhadap status gizi balita bukan dari bekerja atu tidak bekerja tetapi dari bagaimana memenejement waktu, walaupun waktu bersama balita hanya sedikit tapi berkualitas itu lebih baik dari pada banyak waktu bersama anak tetapi tidak ada gunanya.
4.4.2 Hubungan antara Pendidikan ibu dengan status gizi balita di UPTD Pusksmas DTP Cidahu
Dari tabel 4.2.2.3. dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berpendidikan kurang sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan pendidikan baik sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berpendidikan kurang yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 77 Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.590 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu. Pendidikan merupakan suatu hal yang penting, katena dengan pendidikan seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih akan bebeda cara pandang terhadap kehidupan dan pola pikir dengan orang yang kurang ilmu pengetahuannya, maka dalam menyelesaikan suatu masalah akan berbeda dalam keputusan. Dalam masalah status gizi anak, pendidikan dikaitkan dengan pengetahuan, sehingga ibu yang pendidikannya tinggi maka akan mengambil keputusan yang terbaik untuk gizi anaknya dengan pertimbangan disiplin ilmu, dibanding dengan ibu yang pendidikannya kurang hal ini tentu akan berbeda. Menurut Notoatmodjo Bahwa pendidikan rendah menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap program kesehatan balitanya sendiri sehingga mereka kurang mengenal bahaya yang terjadi. Dengan melihat dari hasil penelitian yang diterangkan dalam table 4.2.2.3 dapat dilihat ternyata ibu dengan pendidikan kurang ternyata banyak yang meiliki balita dengan status gizi baik, ini jelas bertentangan dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo. Dari data puskesmas tahun 2007 memang warga Kecamatan Cidahu yang tersebar dari 12 desa rata-rata pendidikan wargnya adalah SD dengan jumlah 7747 jiwa ( 55,71% ). Ibu yang berpendidikan rendah yang memiliki balita dengan status gizi baik ternyata selalu mengikutu kegiatan Posyandu yang rutin dilakukan petugas Puskesmas Cidahu. Jadi penngetahuan ibu tentang bagaimana cara memberikan gizi yang terbaik buat anaknya ternyata didapat bukan dari pendidikan formal tetapi dari penkes yang rutin dilakukan petugas Puskes.
4.4.3 Hubungan antara usia ibu dengan status gizi balita di UPTD Pusksmas DTP Cidahu
Dari tabel 10 dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berusia tidak beresiko sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan usia beresiko sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang tidak beresiko yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 79 (88.8%)Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.257 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu. Usia ibu jika dikaitkan dengan status gizi anak maka benang merah diantaranya adalah semakin tua ibu akan lebih berpengalaman untuk mengambil keputusan asupan nutrisi anaknya, dan jika usia ibu masih kurang maka dapat dikatakan tidak ada pengalaman yang dapat dijadikannya tolak pikir. Sangat dimungkinkan orang tua yang masih muda dan baru mempunyai anak dan akan mempunyai pengalaman yang berbeda dalam merawat anaknya dibandingkan dengan orangtua yang lebih tua serta mempunyai beberapa anak dan berpengalaman dalam merawatnya (Supartini 2005). Ternyata setelah dilakukan penelitian dan setelah data diolah didapat hasil yang menunjukan tidak adanya hubungan antara usia ibu dengan status gizi balita, dan setelah peneliti mengamati pola kehidupan masyarakat, disana ibu yang masih dibawah umur dan mempunyai balita ternyata masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya, kondisi ini sangat dimungkinkan adanya campur tangan neneknya dalam memberikan keputusan nutrisi bagi balita, sehingga dapat disimpulkan ibu yang masih dibawah umur tidak akan kesulita walau tanpa pengalaman dalam mengurus anak. Sebaliknya ibu yang sudah usia lanjut (>35) yang masih memiliki balita, mereka juga tidak lantas tidak mengurus balitanya lantaran dirinya saja sudah tua (aktivitas terbatas). Koping yang dilakukan adalah dengan meminta bantuan anak tertuanya atau sodaranya sehingga dapat mengurus anaknya dengan baik, sehingga keputusan untuk menentukan asupan nutrisi anaknya ada yang membantu.

4.4 Keterbatasan penelitian
Dalam penelitian ini dilakukan sangat singkat sehubungan dengan waktu yang tersedia sangat sempit, dari mualai pengambilan data sampai pengolahan data hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu. Dalam hal ini peneliti merasa kurang memberikan informasi yang lebih baik dan hasil dari data yang didapat juga masih kurang akurat karena hanya 97 sampel dari populasi sekitar 3000an, tapi inilah yang dapat disampaikan oleh penulis. Semoga walaupun hanya sedikit tapi manfaatnya dapat dirasakan oleh kita semua.

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL :HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI WLAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS DTP CIDAHU KABUPATEN KUNINGAN

PENYUSUN : DIDI SUHEDI
NIM : 10104.02.04.006

Cirebon, 14 Juli 2008
Pembimbing Utama

Agus Setiawan, S. kep. MN

Pembimbing pendamping

Awaludin Jahid, S. kep

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah (SKN Depkes RI 2006).
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional (Depkes RI 1989).
Tujuan pembangunan bidang kesehatan tahun 2010 adalah terwujudnya manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Untuk mencapai tujuan tersebut, perhatian pemerintah terletak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka derajat kesehatan masyarakat harus ditingkatkan (Depkes RI, 2001).
Peran serta masyarakat dalam pembangunan khususnya dalam bidang kesehatan diarahkan untuk menciptakan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk dalam rangka terwujudnya derajat kesehatan yang optimal yang diwujudkan dalam kegiatan program pemerintah salah satunya Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) (Depkes RI, 1994). Upaya perbaikan gizi keluarga merupakan salah satu kegiatan posyandu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat agar dapat menanggulangi masalah gizi yang dihadapi (Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 1990).
Peranan wanita dalam mengasuh dan membesarkan anak begitu penting sehingga membuat pendidikan bagi anak perempuan khususnya menjadi lebih sangat penting dan berarti, hal ini karena kelak akan menjadi seorang ibu. Ada hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan status gizi anaknyan serta angka harapan hidup lebih jauh, manfaat kesehatan dan gizi yang lebih baik dan tingkat fertilisasi lebih rendah yang diakibatkan tingkat investasi dalam pendidikan mendorong produktivitas investasi lainya (Nurulpaik, 2002).
Selain pendidikan umur juga merupakan variabel yang harus di perhatikan dalam melihat status kesehatan sesorang, angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam semua keadaan menunjukan hubungan dengan umur. Umur ibu sangat berpengaruh bagaimana ibu mengambil keputusan dalam memberikan gizi pada anak-anaknya sehingga menjadi SDM yang berkualitas. Umur ibu sangat mempengaruhi bagaimana ibu mengambil keputusan dalam memberikan gizi pada anaknya sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualita (Dalam Purnama, 2007)
Sangat dimungkinkan orang tua yang masih muda dan baru mempunyai anak dan akan mempunyai pengalaman yang berbeda dalam merawat anaknya dibandingkan dengan orangtua yang lebih tua serta mempunyai beberapa anak dan berpengalaman dalam merawatnya (Supartini 2005).
Gizi merupakan suatu hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan balita, untuk itu lmu gizi sangat mutlak untuk diketahui bagi masyarakat terutama bagi para ibu, secara keilmuan Gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik (Almastier 2001:9, 3).
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial, status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksik. Baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih terjadi gangguan gizi, gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Primer adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kualitas dan kuantitas disebabkan kurangnya penyediaan pangan, kurang baik distribusi pangan, kemiskinan, kebiasaan makan yang salah, dan faktor sekunder meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makan dikonsumsi (Almastier, 2001:9).
Berdasarkan pelaporan tahunan di UPTD Puskesmas DTP Cidahu tahun 2007 terdapat jumlah penderita gizi buruk 26 (0.77%), gizi kurang 288 (8.56%) gizi baik 2985 (88.78%) dan gizi lebih 66 (1.96%) dari total 3362 balita. Menurut umur balita di wilayah kerja Puskesmas Cidahu dapat dikelompokan sebagai berikut ; usia 0–1 tahun dengan jumlah balita 832 (22, 43% ), usia 1–3 tahun dengan julmlah balita 1527 (41,18% ), dan usia 3–5 tahun 1349 (36,38% ). Latar belakang pendidikan penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cidahu beragam dari mulai tidak tamat SD sampai dengan tamat Perguruan Tinggi mayoritas Tamat SD / MI dengan jumlah 7747 jiwa ( 55,71% ) dengan persentase pendidikan paling banyak adalah lulusan SD tetapi status gizi anak balita menunjukan persentase yang baik yaitu (88.78%) hal ini jika dikaitkan dengan pendapat nurulpaik berlwanan, karena jika pendidikan ibu baik maka status gizi balitanya juga baik pula dan sebaliknya. Mayoritas usia penduduk diwilayah kerja UPTD Puskesmas Cidahu adalah anak – anak dengan jumlah 6508 dari 3259 anak laki – laki dan 3249 anak perempuan, dan yang paling sedikit adalah usia 75 tahun keatas dengan prevalensi 1.87 % dengan jumlah 805 jiwa dari jumlah penduduk 42854 jiwa. (Sumber laporan tahunan UPTD Pusksmas DTP Cidahu tahun 2007).
Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik ingin meneliti tentang ”Hubungan antara karakteristik Ibu dengan Status Gizi pada Balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut; Apakah ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP CidahU
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui karakteristik Pendidikan ibu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.2 Mengatahui karakteristik Pekerjaan ibu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.3 Mengatahui karakteristik Usia ibu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.4 Mengetahui status gizi pada anak balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
1.3.2.5 Mengetahui hubungan antara Karakteristik (Pendidikan, Pekerjaan dan usia) ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini mencakup aspek karakteristik ibu, dalam penelitian ini hanya tiga karakteristik yang di bahas yaitu: Pendidikan, Pekerjaan dan Usia ibu yang mempunyai balita yang dihubungkan dengan Status gizi di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu Kabupaten Kuningan

1.5 Manfaat Hasil Penelitian
1.5.1 Manfaat Bagi Ibu
Gizi merupakan suatu hal yang penting bagi balita, untuk itu seorang ibu dituntut untuk memberikan gizi yang baik untuk anaknya. Penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi ibu yang mengharapkan anaknya tidak mengalami gangguan gizi.
1.5.2 Manfaat Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah bacaan pada perpustakaan, sehingga dapat memberikan sumbangsih ilmu gizi kepada mahasiswa yang membutuhkan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.
1.5.3 Manfaat UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi pada puskesmas cidahu untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam upaya meningkatkan angka gizi baik lebih banyak dan menekan angka status gizi kurang lebih kecil lagi.
1.5.4 Manfaat Bagi Ilmu Keperawatan
Penelitian ini bagi keperawatan diaharapkan dapat menjadi informasi dan masukan dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang status gizi pada anak khususnya topik gizi kurang, dengan harapan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang optimal dan diaharapkan berguna bagi penelitian selanjutnya.
1.6 Kerangka Pemikiran
1.6.1 Karakteristik ibu
Karakteristik ibu adalah tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan yang mencakup usia, pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan ibu. (Suhadi. 2003)
1.6.1.1 Pendidikan
Menurut M. J. Lengevet, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan pada anak, yang tertuju pada kesewasaan. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik (Departemen Pendidikan Nasional, 2001)
Pendidikan dalam arti formal adalah suatu proses penyampaian bahan atau amteri pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidik guna mencapai perubahan tingkah laku. Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara kesehatan balitanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosial dan kedudukan seorang wanita. Peningkatan pilihan mereka terhadap kehidupan dan kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri serta menyatakan pendapatnya. Bahwa pendidikan rendah menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap program kesehatan balitanya sendiri sehingga mereka kurang mengenal bahaya yang terjadi (Notoatmodjo. S, 2003).
Dalam penelitian ini pendidikan yang dimaksud adalah pendidikn formal yang di golongkan menjadi tiga jenjang. Yang menjadi obyek adalah Pendidikan ibu yang mempunyai anak balita
1.6.1.1.1 SMU-S1
1.6.1.1.2 SD-SMP

1.6.1.2 Usia
Usia adalah jumlah waktu suatu makhluk sudah hidup di dunia semenjak lahir, sampai saat usaia itu dihitung (Kakus, 2006)
Umur ibu sangat mempengaruhi bagai mana ibu mengambil keputusan dalam memberikan gizi pada anaknya sehingga menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas (Sutrisna, 1999 dalam Purnama 2007).
Usia ibu yang mempunyai anak usia 0 – 5 tahun yang dibagi menjadi tiga golongan, diantaranya:
1.6.1.2.1 = Tidak Beresiko 20-35 th
1.6.1.2.2 = Beresiko 35 th

1.6.1.3 Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang (Ado, Wikipedia Indonesia 2008). Pekerjaan Ibu yang mempunyai anak balita digolongkan menjadi
1.6.1.3.1 = Bekerja
1.6.1.3.2 = Tidak Bekerja

1.6.2 Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik (Almastier 2001:9, 3).

1.6.2.1 Status gizi lebih
Status gizi lebih artinya kelebihan enersi di dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan atau penggunaan energi (Prof. Dr. Achmad Djaeni S 2004:26).
1.6.2.2 Statatus gizi baik
Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cakupan zat – zat gizi yang digunakan secara efesian, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tinngkat setinggi mungkin (Almastier 2001:9).
1.6.2.3 Status gizi kurang
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial, status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksik.
1.6.2.4 Status gizi buruk
Klasifikasi keadaan gizi kurang yang paling sederhana dan umum dipakai adalah ukuran berat menurut umur, yang kemudian dibandingkan terhadap ukuran baku. Salah satu cara klasifikasi umum yang digunakan adalah yang diajukan Gomez (Gomez dkk, 1965). Sistem gomez ini membagi kedalam tiga derajat gizi kurang, yaitu gizi kurang ringan (90 – 75 % standar), gizi kurang sedang (75 – 60% standar) dan gizi kurang berat (< 60% standar) yang sering disebut gizi buruk. Cara ini memperhatikan berbagai tanda klinis serta prognosa dari penderitaan dalam kaitannya dengan umur (Suhardjo, 1988)
Untuk mempermudah pengolahan data kalifikasi status gizi di katagorikan
1.6.2.4.1 = Status Gizi Lebih dan Baik
1.6.2.4.2 = Status Gizi Kurang dan Buruk

Bagan Kerangka Pikir

Keterangan :

= Variabel yang diteliti

= Variabel yang tidak diteliti

Karakteristik ibu adalah tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan yang mencakup usia, pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan ibu. (Suhadi. 2003)

1.7 Definisi Konseptual dan Definisi Oprasional
1.7.1 Definisi Koonseptual
1.7.1.1 Pendidikan
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik (Departemen Pendidikan Nasional, 2001).
1.7.1.2 Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang (Ado, Wikipedia Indonesia 2008).
1.7.1.3 Usia
Usia adalah jumlah waktu suatu makhluk sudah hidup di dunia semenjak lahir, sampai saat usaia itu dihitung (Kakus, 2006)
1.7.1.4 Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik (Almastier 2001:9).

1.7.2 Definisi Oprasional
1.7.2.1 Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan ibu sampai saat dilakukannya penelitian
1.7.2.2 Pekerjaan adalah segela sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh responden
1.7.2.3 Usia adalah usia individu yang dihitung muai saat dilahirkan sampai saat ulangn tahun terakhir
1.7.2.4 Status Gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ilmu Gizi
Ilmu Gizi merupakan ilmu yang menggunakan berbagai disiplin ilmu dasar, seperti biokimia, Ilmu hayat (fisiologi), ilmu penyakit (fatologi) dan beberapa lagi. Jadi untuk menguasai ilmu gizi secara ahli, harus menguasai bagian-bagian ilmu dasar tersebut yang relevan dengan kebutuhan Ilmu Gizi (Ahmad dzaeni 2004).
Secara umum ilmu gizi (Nutrients Science) dapat didefinisikan sebagai berikut, yaitu ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungan dengan kesehatan optimal. kata “Gizi” berasal dari bahasa Arab Ghidza yang berarti makanan (Almastier, 2001:1).
Zat gizi (Nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melaksanakan fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan (Almastier, 2001:1).
Secara klsik kata gizi hanya dihubungka dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Tetap sekarang kata gizi mempunyai pengertian yang lebih luas, disamping untuk kesehartan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi sesorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, di Indonesia yang sekarang sedang dalam tahap pembangunan maka factor gizi disamping factor-faktor yang lain dianggap penting untuk memacu pembangunan, khususnya pembangunan yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang berkualitas (Almastier,2001).

2.2 Fungsi Zat Gizi
Menurut Kartasapoetra dan Marsetyo (2005:4) zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok diantaranya sebagai berikut :
2.2.1 Karbohidrat
Merupakan sumber energi utama tubuh. Berdasarkan gugus, penyusun gula dapat dibedakan menjadi monosakarida, disakarida, dan polisakarida.
2.2.2 Protein
Diperoleh dari tumbuh-tumbuhan (protein nabati) dan hewan (protein hewani) berfungsi :
2.2.2.1 Membangun sel-sel yang rusak.
2.2.2.2 Membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon.
2.2.2.3 Membentuk zat anti energi, dalam hal ini tiap gram protein menghasilkan sekitar 4,1 kalori.

2.2.3 Lemak
Merupakan senyawa organik yang majemuk, terdiri unsur C, H dan O yang membentuk senyawa asam lemak dan gliserol (gliserin) apabila bergabung dengan zat lain yang akan membentuk lipid, fungsi pokok lemak yaitu :
2.2.3.1 Penghasil kalori terbesar yang dalam hal ini tiap gram lemak menghasilkan sekitar 9,3 kalori.
2.2.3.2 Sebagai pelarut vitamin tertentu, seperti A, D, E dan K.
2.2.3.3 Sebagai pelindung alat-alat tubuh dan sebagai pelindung tubuh dari temperatur rendah.
2.2.4 Vitamin
Vitamin dapat dikelompokan menjadi dua vitamin, yaitu vitamin yang larut dalam air meliputi B dan C, dan vitamin yang larut dalam lemak meliputi A, D, E, dan K fungsi utamanya yaitu:
2.2.4.1 Vitamin A (aserofol) berfungsi bagi pertumbuhan sel-sel epitel, sebagai proses oksidasi dalam tubuh, pengatur kepekaan rangsangan sinar pada syaraf mata.
2.2.4.2 Vitamin B1 berfungsi sebagai metabolisme karbohidrat, mempengaruhi keseimbangan air dalam tubuh, penyerapan zat makanan dalam tubuh.
2.2.4.3 Vitamin B2 berfungsi sebagai pemindahan rangsang sinar ke syaraf mata, sebagai enzim dalam proses oksidasi di dalam sel-sel.
2.2.4.4 Vitamin B6 berfungsi sebagai pembuatan sel-sel darah, pertumbuhan dan pekerjaan urat syaraf.
2.2.4.5 Vitamin B11 (asam tolium) berfungsi sebagai zat dalam pertumbuhan sel darah merah, mencegah anti perniosa atau anemia yang kuat.
2.2.4.6 Vitamin B12 (sianoko balamin) berfungsi sebagai koenzim penting dalam metabolisme asam amino dan berperan dalam merangsang pembentukan eritrosit.
2.2.4.7 Vitamin C (asam askarbinat) berfungsi sebagai aktifator macam-macam permen perombak protein dan lemak, sebagai zat yang penting dalam oksidasi dan dehidrasi dalam sel, mempengaruhi kerja anak ginjal, pembentukan trombosit.
2.2.4.8 Vitamin D berfungsi sebagai mengatur kadar kapur dan fospor dalam darah bersama-sama kelenjar anak gondok, memperbesar penyerapan kapur dan fospor dari unsur, mempengaruhi proses osifikasi dan kerja kelenjar endokrin.
2.2.4.9 Vitamin E (tookferol) berfungsi mencegah perdarahan bagi wanita hamil serta mencegah keguguran, diperlukan pada saat sel sedang membelah.
2.2.4.10 Vitamin K (antihermogia) berfungsi sebagai pembentukan protrombin atau sangat penting dalam proses pembekuan darah.
2.2.4.11 Air sebagai pelarut dan menjaga stabilitas temperatur tubuh. Kebutuhan air diatur oleh beberapa kelenjar hipofise, tiroid, anak ginjal, dan kelenjar keringat.

2.3 Kebutuhan Gizi Berkaitan dengan Proses Tubuh
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang diperlukan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila malanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Zat-zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus didatangkan dari makanan, bila dikelomopokan ada tiga fungsi zat gizi dalam tubuh

2.3.1 Memberi Energi
Zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Oksidasi zat-zat gizi ini adalah menghsilkan energi yang diperlukan tubuuh untuk melakukan aktivitas ketiga zat gizi termasuk ikatan organic yang mengandung karbon yang dapat dibakar. Ketiga zat gizi terdapat jumlah paling banyak adalah dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembakar.

2.3.2 Pertumbuhan dan Pemeliharaan Jaruingan Tubuh
Protein, mineral dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel yang rusak, dalam fungsi ini ketiga zat gizi sebagai zat pembangun

2.3.3 Mengatur Proses Tubuh
Protein, mineral, air dan Vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein bertugas mengatur keseimbangan cairan dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibody sebagai penangkal organisme yang bersifat infekti dan bahan-bahan asing yang dapat masuk kedalam tubuh. Mineral dan Vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi normal saraf dan otot serta banyak proses lain yang terjadi dalam tubuh termasuk proses menua. Air diperlukan untuk melarutkan bahan makanan kedalam tubuh, seperti didalam darah, cairan pencernaan, jaringan dan mengatur suhu tubuh. Dalam fungsi mengatur suhu tubuh ini, protein, mineral dan air disebut sebagai zat pengatur

2.4 Akibat Gangguan Gizi terhadap Fungsi Tubuh
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat yang digunakan secara efesien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setingi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah yang berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksik yang membahayakan. Baik pada status gizi kurang atau lebih terjadi gangguan gizi.

2.5 Akibat Gizi Kurang pada Proses Tubuh
Akibat gizi kurag pada proses tubuh tergantung pada zat apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang secara kualitas dan kuantitas) menyebanbkan gangguan pada proses-proses tubuh diantaranya

2.5.1 Pertumbuhan
Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya, protein digunakan sebagai zat pembakar, sehingga otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok. Anak-anak yang berasal dari tingkat social ekonomi menengah keatas lebih tinggi dari pada social ekonomi bawah
2.5.2 Produksi Tenaga
Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan sesorang kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktivitas. Orang menjadi malas, merasa lemah dan produktivitas kerja menurun.
2.5.3 Struktur dan Fungsi Otak
Kurang gizi pada usia muda dapat mempengaruhi perkembangan mental dan kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun. Gangguan gizi dapat menimbulkan gangguan otak secara permanent
2.5.4 Perilaku
Baik anak-anak ataupun dewasa yang kurang gizi menunjukan perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng dan apatis.

2.6 Akibat Gizi Lebih pada Proses Tubuh
Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi yang dikonsumsi disimpan dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan salah satu factor resiko dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi, Diabetes, jantung koroner, hati dan empedu.

2.7 Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi di bedakan menjadi status gizi buruk, kurang dan baik ( Almastier 2001:9).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan atau perwujudan dari nutrien dalam bentuk variabel tertentu. Pada dasarnya penilaian status gizi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung atau tidak langsung. Penilaian secara langsung meliputi biokimia, klinis dan biofisik. Penilain secara tidak langsung melalui survei makanan, statistik vital dan faktor ekologi (Supariasa dkk , 2002:20).
Penilaian status gizi anak serupa dengan penilaian pada periode lain. Pemeriksaan yang perlu lebih diperhatikan bergantung pada bentuk kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori protein lazim menjangkiti anak. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap tanda dan gejala ke arah sana termasuk pula kelainan yang menyertainya.

2.8 Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penelitian yaitu: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Masing-masing akan dibahas secara umum sebagai berikut.

2.8.1 Antropometri
2.8.1.1Pengertian
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditunjukan dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umum dan tingkat gizi.

2.8.1.2 Penggunaan
Antropometri secara umum di gunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ibu di lihat dari pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
2.8.2 Klinis
2.8.2.1 Pengertian
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai setatus gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan–perubahan yang terjadi yang di hubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat di lihat pada jaringan opitel (supervicial epithelial tissus) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ–organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
2.8.2.2 Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk survai kelinis secara cepat (rapid clinical surveys) survei ini di rancang untuk menditeksi secara cepat tanda – tanda klinis umum dari kekuranan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping digunakan untuk menentukan status gizi seseorang, dengan melakukan pemeriksaan fisik (sign) dan gejala (symtom) atau riwayat penyakit.
2.8.3 Biokimia
2.8.3.1 Pengertian
Penilaian status gizi dengan biokomia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan diberbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakn antara lain: darah, urine, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
2.8.3.2 Penggunaan
Metode ini digunakan suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala kelinis yang kurang sepesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang sepesifik.

2.8.4 Biofisik
2.8.4.1 Pengertian
Penerapan suatu gizi secara biofisik adalah metode penerapan suatu gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan setruktur dari jaringan.
2.8.4.2 Penggunaan
Umumnya dapat di gunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang di gunakan adalah tes adaptasi gelap.

2.9 Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat di bagi tiga yaitu: survei konsumsi makanan, statistik fital dan faktor ekologi. Pengertian dan penggunaan metode ini akan di uraikan sebagai berikut:
2.9.1 Survei konsumsi makan
2.9.1.1 Pengertian
Survei konsumsi makan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jebis zat gizi yang dikonsumsi.

2.9.1.2 Penggunaan
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga,dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan suatu zat gizi.
2.9.2 Statistik Vital
2.9.2.1 Pengertian
Pengukuran status gizi dengan statistik Vital adalah dengan menganalisa data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat kelebihan dan kekurangan gizi
2.9.2.2 Penggunaan
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi pada masyarakat
2.9.3 Faktor Ekolog
2.9.3.1 Pengertian
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan ekolgi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti tanah, iklim, irigasi dan lain-lain.

2.9.3.2 Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di masyarakat sebagai dasar untuk menentukan progam intervensi gizi (schrismaw, 1964).

2.10 Keuntungan dan Kelemahan Metode Antropometri
2.10.1 Pengertian Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tumbuh dan metros artinya ukuran. Jadi Antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian ini bersifat sangat umum sekali. Dari kefnisi tersebut di atas dapat di tarik pengertian bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagi macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagi tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antaralain: berat badab, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Antropometri sangat umum di gunakan untuk mengukur suatu gizi dari berbagai ketidak seimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya di lihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air pada tubuh

2.10.2 Keunggulan antropometri
2.10.2.1 Prosdurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar
2.10.2.2 Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih
2.10.2.3 Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, cepat dipesan dan dibuat didaerah setempat
2.10.2.4 Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan
2.10.2.5 Dapat mendeteksi status gizi dimasa lampau
2.10.2.6 Umumnya dapat mendeteksi status gizi sedang, kurang, baik dan lebih. Karena ada ambang batas yang jelas.

2.10.3 Kelemahan antropometri
Disamping keunggulan metode antropometri, terdapat pula kelemahanmetode Antropometri, diantaranya adalah:
2.10.3.1 Tidak sensitif, metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dengan singkat, disamping itu tidak dapat menetukan kekurangan salah satu zat
2.10.3.2 Faktor diluar gizi (penyakit, genetik,dan penurunan gangguan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi da sensitivitas pengukuran Antropometri
2.10.3.3 Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validasi pengukuran.
2.10.3.4 Kesalahan ini terjadi karena
2.10.3.4.1 Pengukuran
2.10.3.4.2 Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
2.10.3.4.3 Analisis dan sumsi yang keliru
2.10.3.5 Kesalahan biasanya berhubungan dengan:
2.10.3.5.1 Latihan petugas yang tidak cukup
2.10.3.5.2Kealahan alat atau alat tidak tera
2.10.3.5.3 Kesulitan pengukuran

2.11 Jenis Parameter
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit dibawah ini akan diterangkan sebagaian parameter tersebut:

2.11.1 Umur
Faktor umur sangat penting dalam menentukan status gizi, kesalahan menetukan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil pengukuran berat badab dan tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila penentuan umur salah. Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh, contoh tahun usia penuh (anak umur 7 tahun 5 bulan dihitung 7 tahun) dan bulan usia penuh (anak umur 5 bulan 8 hari dihitung 5 bulan).

2.11.2 Berat Badan
Berat bada merupakan ukuran antrpometeri yang penting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Pada masa bayi/balita berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan fisik seperti dehidrasi, asietas, tumor dan adanya edema. Disamping itu pula berat baab dapat digunakan sebagai dasar penghitungan dosis obat dan makanan. Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, mineraldan air pada tulang. Pada remaja lemak tubuh cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang dewasa edema dan asites terjadi penambahan cairan pada tubuh

2.11.3 Tinggi Badan
Tinggi badan sangat penting untuk menentukan keadaan masa lalu dan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi bvadab menjadi ukuran yang sangat penting kedua. Karena dengan menghubungakan tinggi badan dan berat baab faktor umur dapat diabaikan.

2.12 Indeks Antropometri
Parameter antropometri merupakan dasar dari pengukuran status gizi. Kombinasi dari beberapa parameter disebut indeks Antropometri. Beberapa indeks telah diperkenalkan dalam diseminarkan antropometri tahun 1975. di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada, maka untuk tingi badan dan berat badan digunakan buku Havard yang disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Dalam pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan mempenngaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Masih banyak diantara pakar yang berkecimbung di bidang gizi belum mengerti makna dari beberapa indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) berikut adalah penjelasannya:

2.12.1 Berat badan menurut umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang membrikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya terseranng penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan sangat baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin, makan berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya keadaan berat badan yang abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi . mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutricional status)

2.12.1.1 Kelebihan Indeks Berat badan menurut umur
2.12.1.1.2 Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum
2.12.1.1.3 Baik untuk mengukur gizi akut dan kronis
2.12.1.1.4 Berat badan dapat berfluktasi
2.12.1.1.5 Sangat sensitif terhadap perubahan kecil
2.12.1.1.6 Dapat mendeteksi kegemukan

2.12.1.2 Kelemahan indeks berat badan menurut umur
2.12.1.2.1 Dapat menyebabkan interprestasi yang keliru jika terdapat edeme dan asites.
2.12.1.2.2 Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan sangat tradisional umur sering tidak dapat di deteksi.
2.12.1.2.3 Memerlukan data umur yang akurat terutama anak balita
2.12.1.2.4 Sering terjadi kesalahan pengukuran akibat anak yang bergerak saat di timbang dan pengaruh pakaian.
2.12.2 Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan pertumbuhan selektal (tulang). Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan bertambahnya umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti pertumbuhan berat badan, relatif kurang sensitif terhadap status gizi dalam waktu pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan sangat lama pengaruhnya. Berdasarkan karakteristik tersebut diatas, maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. Beaton dan Bengos (1973) menyatakan bahwa indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau juga lebih erat kaitannya dengan status sosial-ekonomi.
2.12.2.1 Keuntungan Indeks TB/U
2.12.2.1.1 Baik untuk menilai status gizi masa lalu
2.12.2.1.2 Ukuran panjang dapat dibuat sendiri dan murah harganya
2.12.2.2 Kelemahan indeks BB/U
2.12.2.2.1 Tinggi badan tidak cepat naik dan tidak mungkin turun
2.12.2.2.2 Pengukuran sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak
2.12.2.2.3 Ketepatan umur sulit didapat
2.12.3 Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Berat badan dengan tinggi mempunyai hubungan yang liniear. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jellife pada tahun 1966 telah memperkenalkan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks TB/BB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi masa sekarang. Indeks TB/BB merupakan indeks yang indefenden terhadap umur.
2.12.3.1 Keuntungan indeks TB/BB
2.12.3.1.1Tidak memerlukan data umur
2.12.3.1.2 Dapat membedakan proporsi badan gemuk

2.12.3.2 Kelemahan indeks BB/TB
2.12.3.2.1 Tidak menggambarkan apakah anak kependekan atau ketinggian menurut perkembangannya karena tidak melihat umur
2.12.3.2.2 Dalam kenyataan sering mendapat kesulita dalam pengukuran berat badan dan tinggi badan pada anak dan bayi
2.12.3.2.3 Membutuhkan dua orang untuk melakukannya
2.12.3.2.4 sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran
2.12.3.2.5 Pengukuran relatif lama

2.13 Pendidikan Sebagai Suatu Sistem
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidkan. Suatu usaha pendidikan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu unsur masukan (in put), unsur psoses (preces), dan unsur hasil usaha (out put). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) menjelaskan pula bahwa ”pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan, saaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur / jenjang, kurikulum, dan fasilitas.

2.14 Kelembagaan, Program, dan Pengelolaan Pendidikan
Menurut UU RI No. 2 Tahun 1989, kelembagaan,program,dan pengelolaan pendidikan di Indonesia sebagai berikut:
2.14.1 Kelembagaan Pendidikan
Ditinjau dari segi kelembagaan maka penyelenggara pendidkan di Indonesia melalui dua jalur yaitu jalur melalui pendidikan sekolah dan jalur melalui pendidikan luar skolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan jalur lauar pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar tapna harus berjenjang dan berkesinambungan.
Fungsi pendidikan luar sekolah, antara lain, memberikan beberapa kemampuan, yaitu memberikan keahlian untuk pengembangan karier, sebegai contoh, melalui kursus penyegaran, penetaran, seminar, lokakarya dan konfersi ilmiah; kemempuan teknia akademis dalam suatu sestem pendidikan nasional seperti sekolah terbuka, sekolah kejuruan, kursus-kursus tertulis, pendidikan melalui radio dan televis; kemempuan pengembangan kehidupan keagamaan, seperti melalui pesantreni, pengajian, pendidikan di surau atau langgar dan biara; kemempuan pengembangan kehidupan sosial budaya, seperti teater, olahraga, seni bela diri dan lembaga-lembaga pendidikan sepiritual; kemempuan keterampilan dan keahlian, sebagai contoh dengan melalui sistem magang untuk menjadi ahli bangunan.
Pendidikan keluarga merupakn bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang di lakukan oleh keluarga dan yang memberi keyakunan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.

2.15 Jenis program pendidikan
Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidkan sekolah terdiri daria pendidkan umum, pendidkan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademis dan pendidikan profesional.

2.15.1 Pendidikan umum
Pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetehuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan pada tingkat akhir masa pendidikan.
2.15.2 Pendidikan kejuruan
Pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja pada bidang tertentu
2.15.3 Pendidikan luar biasa
Pendidikan yang khusus di selenggarakan untuk peserta didik yang menyandang keleinan fisik atau mental.
2.15.4 Pendidikan kedinasan
Pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas unkedinasan utuk pegawai atau calon pegawai suatu departemen pemerintah atau lembaga pemerintahan non depertemen
2.15.5 Pendidikan keagamaan
Pendidikan yang mempersiapkian peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut pengusahaan pengetahuan khusus tentang ajaran keagamaan yang bersangkutan.
2.15.6 Pendidikan akademik
Pendidikan yan diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan.

2.15.7 Pendidikan prefesional
Pendidikan yang di arahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu

2.16 Jenjang pendidkan
Jenjang pendidikan yang termasuk pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Selain pendidikan di atas di selenggarakan pendidikan pra sekolah sebagai persiapan untuk memasuki sekolah dasar.
2.16.1 Pendidikan Pra Sekolah
Pendidikan pra sekolah di selenggarakan untuk melatih dasar-dasar ke arah pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperluka anak untuk hidup di lingkungan masyarakat serta memberikan bekal kemampuan dasar untuk memasuki jenjang sekolah dasar dan pengembangan diri sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup.
2.16.2 Pendidikan dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangan sikap dan kemempuan serta memberikan kemampuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan dasar wajib di ikuti oleh setiap warga negara (kompulsory education). Dengan kata lain, warga negara di wajibkan menempuh pendidikan dasar yang dapat membekali dirinya dengan penegetahuan dasar, nilai dan sikap dasar, serta keterampilan dasar. Pendidikan dasar juga dapat di laksanakan melalui sekolah-sekolah agama, serta melalui pendidikan luar sekolah. Sekarang akan di laksanakn pendidikan dasar selama 9 tahun untuk seluruh bangsa indonesia.
2.16.3 Pendidikan menengah
Pendidikan menengah di selenggarakan untuk melanjutjan dan meluaskan pendidikan dasar derta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Pendidikan menengah terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan dan pendidikan keagamaan. Fungsi pendidikan menengah umum mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi. Fungsi pendidikan menegah kejuruan adalah mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja sesuai dengan pendidikan kejuruan yang di ikutinya, atau untuk mengikuti pendidikan kefropesian pada tingkat kependidikan tinggi.
2.16.4 Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan lanjutan pendidikan menengah yang di selenggarakan untuk menyiapkan peserta untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akaremik dan atu fropesional yang dapat menerapkan, pengembangan dan atau penciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Adapun pungsi pendidikan tinggi antara lain adalah :
2.16.4.1 Menerapkan dan menerangkan peradaban, ilmu, teknologi dan seni, serta ikut membangun manusia indonesia seutuhnya, untuk itu pendidikan tinggi melaksanakn misi tridarmanya, yaitu darma pendidikan, penelitian, dan mengebdi pada masyarakat;
2.16.4.2 Menghasilkan tenaga-tenaga yang berbudi luhur, yan bertakwa kehadirat tuhan yang maha esa, bermoral pancasila dalam arti mampu menghayati dan mampu mengamalkanya
2.16.4.3 Menghasilkan tenaga-tenaga yang terampil, menguasai ilmu dan teknologi sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi di sebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.
Akademik merupakan perguruan tinggi yang menyelanggarakan pendidikan terpapan dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.Poloteknis merupakan perguruan tinggi yang menyelengggarakan pendidikan terpapan dalam sejumlah pengetahuan khusus.Sekolah tinggi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik atau profesional dalam suatu di siplin ilmu tertentu.
Insitut merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikab akademik dan atau profesional dalam skelompok disiplin ilmu tertentu.universitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu.
Lalu syarat-syarat dan tata cara pendidikan, setruktur perguruan tinggi dan meneyelenggarakan pendidikan tinggi di tetapkan dalam peraturan pemerintah.
Pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Sekolah tinggi, institut dan universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan atau profesional. Akademi dan politeknik menyelenggarakan pendidikan profesional.

BAB III
METODE PENILITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang akan diteliti, maka jenis penelitian yang di gunakan adalah cross sectional, penelitian non-eksperimen dalam rangka mempelajari dinamika kerolasi antara faktor – fator resiko dengan efek yang berupa penyakit atau status. Penulis ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara Karakteristik (Pendidikan,Pekerjaan dan Usia) ibu dengan status gizi pada balita (Dr. Ahmad Watik Praktiknya, 1986:168)

3.2 Variabel & Hipotesa penelitian
3.2.1 Variabel Independen
Variabel Independen, yaitu variabel yang dapat mempengaruhi atau merubah variabel lain. (Prakriknya, 2007). Adapun variabel Independen dalam penelitian ini adalah Pendidikan Ibu, Pekerjaan Ibu dan Usia Ibu dengan cara ukur kuisioner dengan akala Ordinal kecuali pekerjaan Nominal

3.2.1.1 Pendidikan ibu dikatagorikan
3.2.1.1.1 SMU-S1
3.2.1.1.2 SD-SMP

3.2.1.2 Pekerjaan ibu dikatagorikan
3.2.1.2.1 Bekerja
3.2.1.2.2 Tidak Bekerja
3.2.1.3 Umur ibu dikatagorikan
3.2.1.3.1 Tidak Beresiko 20-35 tahun
3.2.1.3.2 Beresiko 35 tahun

3.2.2 Variabel Dependen
Variabel Dependen adalah variabel yang berubah karena pengaruh variabel independen. Adapun variabel dependen dalam peneiltian ini adalah status gizi.
Status gizi balita dikatagorikan
3.2.2.1 status gizi Lebih dan Baik
3.2.2.2 status gizi Kurang dan sedang
3.2.2.3 statuis gizi Buruk

3.2.3 Hipotesa
Berdasarkan uraian variabel diatas terdapat hubungan antara karaktertistik ibu dengan status gizi pada balita
H o : tidak ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita
H a : ada hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi balita
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyaii anak balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu dengan jumlah Balita mencapai 3362.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh poluasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 97 ibu yang mempunyai anak balita yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cidahu yang tersebar di 12 desa di wilayah kecamatan Cidahu.
Selanjutnya untuk menentukan besar sampel variabel ini ditentukan dengan rumus : Slovin dalam Notoatmodjo

Keterangan
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat kepercayaan 10% (0,1)
hasil penghitungan sampel :

N
n =
1+N (d) 2

3362
n =
1 + 3360 (0.1) 2

3362
n =
1 + 3362 (0.01)
3362
n =
1 + 33.62

3362
n =
34.62

n = 97
Sampel dalam penelitian ini adalah 97ibu yang mempunyai balita yang tersebar di 12 Desa di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu Kabupaten Kuningan

3.3.3 I nstrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan mengambil data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dari pertanyaan–pertanyaan terbuka. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan kuesioner, yaitu memberikan seperangkat pertanyaan kepada responden untuk diisi.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara meminta responden mengisi instrumen berupa kuisioner yang telah ditetapkan sebagai instrumen penelitian. Kuisioner tersebut berisi pernyataan tentang biodata responden yang bersifat data pengkajian. Data Sekunder yang diperoleh sebagai pendukung hasil penelitian, sumber data sekunder diperoleh dari catatan, literatur, artikel dan tulisan ilmiah yang relevan dengan topik penelitian yang dilakukan, dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari hasil pencatatan penimbangan posyandu

3.5 Analisa data dan Pengolahan data
Setelah terkumpul data diolah dan dianalisa secara univariat dan bivariat untuk mengetahui hubungan antara pendidkan, pekerjaan dan usia ibu dengan status gizi pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan menggunakan langkah – langkah sebagai berikut :

3.5.1 Coding
Memberi tanda pada masing – masing jawaban dengan kode berupa angka, sewlanjutnya dimasukkan ke dalam lembaran tabel kerja untuk mempermudah pengolahan.
3.5.2 Tabulating
Kegiatan atau langkah memasukan data – data hasil penelitian kedalam tabel sesuai kriteria.
3.5.3Editing
Kegiatan atau langkah memasukan data – data hasil penelitian kedalam tabel sesuai kriteria.
3.5.4Analisis
Analisa data untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu. Analisa data dilakukan dengan dua cara yaitu:

3.5.4.1 Analisa Univariat
Setelah data diolah, masing-masing variable dimasukan kedalam data tabel distribusi frekuensi, kemudian dapat juga dicari prosentase dan mean dari data tersebut. Rumus yang digunakan :

p = f x 100%
N
X = ∑ f x 100%
N

Keterangan :
f = Frekuensi
N = Jumlah responden
n = Jumlah responden sampel
penilaian status gizi pada balita
Status gizi balita dikatagorikan
3.5.4.1.1 status gizi Lebih dan Baik
3.5.4.1.2 status gizi Sedang dan Kurang
3.5.4.1.3 statuis gizi Buruk

Dikatakan status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cakupan zat – zat gizi yang digunakan secara efesian, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tinngkat setinggi mungkin (Almastier 2001:9).

3.5.4.2 Analisa Bivariat
Mempunyai tujuan untuk melihat hubungan antara karakteristik Ibu, dengan status gizi pada balita serta dilanjutkan kedalam tabel silang untuk menganalisa hubungan diantara variabel indefenden dengan variabel defenden, kemudian dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square dengan derajat kemaknaan 95 %. Kemudian untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik dengan cara membandingkan nilai X2 dengan α = 0,05 bila t tabel maka terdapat hubungan yang bermakna antara variabel indefenden dengan variabel defenden, rumus Chi Square tersebut adalah sebagai berikut :

X2 = fo – fh
fh
Keterangan:
X2 : Chi kuadrat
Fo : Frekuensi yang diobservasi
Fh : Frekuensi yang diharapkan
Pengujian syarat hipotesis
X2 : Hitung ≥ X2 tabel kesimpulan Ho ditolak
X2 : Hitung ≤ X2 tabel kesimpulan Ho diterima
dk = (b-1) (k-1)
Keterangan :
dk : Derajat Kemaknaan
k : Jumlah kolom
d : Jumlah baris

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Demografi
4.1.1 Luas Wilayah
4.1.1.1 Pemukiman : 2.675.2 Ha
4.1.1.2 Sawah : 668.8 Ha
4.1.2 Batas-batas
4.1.2.1 Utara : Kabupaten Cirebon
4.1.2.2 Timur : Kabupaten Cirebon
4.1.2.3 Barat : Kecamatan Kalimanggis
4.1.2.4 Selatan : Kecamatan Luragung

4.1.3 Jumlah Desa dan Wilayah Administrasi
Jumlah Desa pada wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu berjumlah 12 Desa, diantaranya :
4.1.3.1 Desa Cihideunggirang
4.1.3.2 Desa Cihideung hilir
4.1.3.3 Desa Nanggela
4.1.3.4 Desa Cidahu
4.1.3.5 Desa Kertawinangun
4.1.3.6 Desa Datar
4.1.3.7 Desa Bunder
4.1.3.8 Desa Cieurih
4.1.3.9 Desa Cibulan
4.1.3.10 Desa Legok
4.1.3.11 Desa Jatimulya

4.2 Hasil Penelitian
Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap ibu yang mempunyai anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu Kabupaten Kuningan. Dalam Penelitian ini Penulis menggunakan sample 97 ibu yang mempunyai balita dari populasi 3362 ibu yang mempunyai balita. Dalam penghitungan sample penulis menggunakan Random sampling dengan setiap ibu dari 12 Desa mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sample, dalam skripsi ini terdapat dua Variabel yang saling dikaitan yang nantinya oleh penulis akan dicari ada tidak adanya hubungan dari kedua variable itu. Data dari masing-masing variable akan disajikan dalam betuk table supaya dapat dengan mudah mebacanya, dan penulis juga akan menguraikannya dalam bentuk narasi.

4.2.1. Analisis hasil penelitian
4.2.1.1 Pekerjaan
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu di UPTD Puskesmas DTP Cidahu

Pekerjaan Jumlah Persentase
Bekerja 7 7.2%
Tidak Bekerja 90 92.8%
Total 97 100%

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 1 dapat terlihat dari 97 responden distribusi pekerjaan ibu yang paling banyak adalah ibu dengan tidak bekerja atau pekerjaanya hanya sebagai IRT sebanyak 90 orang (92.8%).
4.2.1.2. Pendidikan
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu di UPTD Puskesmas DTP Cidahu

Pendidikan Jumlah Persentase
Baik 8 8.2%
Kurang 89 91.8%
Total 97 100%

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2 dapat terlihat dari 97 responden distribusi frekuensi pendidikan ibu yang paling banyak di wilayah kerja Puskesmas Cidahu adalah Rendah atau kurang Sebanyak 89 orang (91.8%).

4.2.1.3. Umur
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Umur Ibu di Puskesmas Cidahu

Umur Jumlah Persentase
Tidak Beresiko
(20-35) thn 89 91.8%
Resiko
(35) thn 8 8.2%
Total 97 100%

Berdasarkan dari hasil analisis pada tabel 3 dapat terlihat dari 97 responden distribusi frekuensi umur ibu paling banyak yang berada di Puskesmas Cidahu adalah umur ibu 20-35 tahun sebanyak 89 orang (91.8%).

4.2.1.4 Status Gizi
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Status Gizi Anak di Puskesmas Cidahu

Status Gizi Jumlah Persentase
Gizi Baik
(status Gizi lebih dan Baik) 85 87.6%
Gizi Kurang
(status gizi sedang dan kurang) 12 12.4%
Gizi Buruk 0 0%
Jumlah 97 100%

Berdasarkan dari hasil analisis pada tabel 4 dapat terlihat dari 97 responden, distribusi frekuensi status gizi balita paling banyak yang berada di Puskesmas Cidahu adalah status gizi Baik yaitu sebanyak 85 orang (87.6%), sedangkan gizi kurang hanya 12 balita (12.4%) dan gizi buruk tidak ditemukan.

4.2.2 Univariat
4.2.2.1 Distribusi Frekuensi Deskristif Status Gizi dengan Pekerjaan Ibu
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Gambaran Status Gizi Anak Balita berdasarkan Pekerjaan ibu di Puskesmas Cidahu

Pekerjaan Ibu Status Gizi Balita Total
Baik Kurang
Bekerja 7 (100%) 0 7 (100%)
Tidak Bekerja 78 (86.7%) 12 (13.3%) 90 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang tidak bekerja sebanyak 90 Ibu dan Ibu dengan bekerja sebanyak 7 Ibu, ternyata ibu yang tidak bekerja yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 78 (86.7%)

4.2.2.2 Distribusi Frekuensi Deskristif Status Gizi dengan Pendidikan Ibu
Tabel 6
Distribusi frekuensi gambaran status gizi Balita berdasarkan Pendidikan ibu di Puskesmas Cidahu

Pendidikan Ibu Status Gizi Balita Total
Baik Kurang
Baik 8 (100%) 0 (%) 8 (100%)
Kurang 77 (86.5%) 12 (13.5%) 89 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berpendidikan kurang sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan pendidikan baik sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berpendidikan kurang yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 77 Ibu

4.2.2.3 Distribusi Frekuensi Deskristif Status Gizi dengan Pendidikan Ibu
Tabel 7
Distribusi frekuensi gambaran status gizi
anak usia 1-5 tahun berdasarkan Usia ibu di Puskesmas Cidahu

Usia ibu Status Gizi Balita Total
Baik Kurang
Tidak Beresiko
(20-35) thn 79 (88.8%) 10 (11.2%) 89 (100%)
Beresiko
(35) thn 6 (75%) 2 (25%) 8 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berusia Tidak resiko (20-35) thn sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan usia beresiko (35) thn sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berusia tidak resiko (20-35) thn yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 79 (88.8%)

4.2.2.3 Bivariat
4.2.2.3.1 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Tabel 8
Pekerjaan Ibu Status Gizi balita Total PValue
Baik Kurang 0.591
Bekrja 7 (100%) 0 (%) 7 (100%)
Tidak Bekerja 78 (86.7%) 12 (13.3%) 90 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang bekerja sebanyak 7 Ibu dan Ibu dengan tidak bekerja sebanyak 90 Ibu, ternyata ibu yang tidak bekerja yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 78 (86.7%). Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.591 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

4.2.2.3.2 Hubungan Pendidikan Ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas DTP Cidahu
Tabel 9
Pendidikan Ibu Status Gizi balita Total PValue
Baik Kurang 0.590
Baik 8 (100%) 0 (%) 8 (100%)
Kurang 77 (86.5%) 12 (13.5%) 89 (100%)
Total 85 (87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berpendidikan kurang sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan pendidikan baik sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berpendidikan kurang yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 77 (86.5%). Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.590 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

4.2.2.3.3 Hubungan usia Ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas DTP Cidahu
tabel 10
Usia Ibu Status Gizi balita Total PValue
Baik Kurang 0.257
Tidak beresiko
(20-35) thn 79 (88.8%) 10 (11.2%) 89 (100%)
Beresiko
35) thn 6 (75.0%) 2 (20%) 8 (100%)
Total 85(87.6%) 12 (12.4%) 97 (100%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berusia tidak beresiko sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan usia beresiko sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang tidak beresiko yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 79 (88.8%)Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.257 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.

4.3 Pembahasan
4.4.1 Hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di UPTD Pusksmas DTP Cidahu
Dilihat dari tabel 4.2.2.3.1, dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang bekerja sebanyak 7 Ibu dan Ibu dengan tidak bekerja sebanyak 90 Ibu, ternyata ibu yang tidak bekerja yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 85 Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.591 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu.
Sosok seorang ibu tidak dapat dipisahkan dengan balita, apa yang terjadi dan bagaimana jadinya seorang balita (anak) semua itu kuat hubungannya dengan seorang ibu. Kondisi ibu baik itu kesehatanya, pengatahuannya dan yang lainnya akan berdampak langsung pada kondisi anaknya. Kondisi seorang anak yang di bahas dalam hal ini adalah status gizi anak. Status gizi anak juga sama halnya dengan kondisi yang lain, yaitu dipengaruhi oleh kondisi ibunya sendiri. Status gizi anak akan baik jika perhatian ibu secara penuh berfokus bagaimana caranya supaya asupan gizinya adekuat sehingga anaknya sehat. Untuk mewujudkannya tentunya harus bayak waktu dari seorang ibu untuk anaknya. Sehingga sekecil apapun perubahan fisik yang mengarah ke kekurangabn suatu zat gizi akan terdeteksi decara dini, sehingga ibu yang tidak bekerja akan lebih banyak waktu dengan balitanya dibanding ibu yang bekerja. Menurut Notoatmodjo, balita yang mengalami kekurangan suatu zat gizi lebih sering disebabkan ibu yang kurang perhatian terhadap balitanya dengan alasan sibuk mengurus pekerjan. Dilihat dari hasil penelitian di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu antara ibu yang bekerja dan tidak bekerja sama-sama memiliki balita dengan status gizi baik, hal ini diperkuat dengan hasil perhitungan SPSS yang menyatakan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi. Ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja pengaruhnya terhadap status gizi balita bukan dari bekerja atu tidak bekerja tetapi dari bagaimana memenejement waktu, walaupun waktu bersama balita hanya sedikit tapi berkualitas itu lebih baik dari pada banyak waktu bersama anak tetapi tidak ada gunanya.
4.4.2 Hubungan antara Pendidikan ibu dengan status gizi balita di UPTD Pusksmas DTP Cidahu
Dari tabel 4.2.2.3. dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berpendidikan kurang sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan pendidikan baik sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang berpendidikan kurang yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 77 Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.590 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu. Pendidikan merupakan suatu hal yang penting, katena dengan pendidikan seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih akan bebeda cara pandang terhadap kehidupan dan pola pikir dengan orang yang kurang ilmu pengetahuannya, maka dalam menyelesaikan suatu masalah akan berbeda dalam keputusan. Dalam masalah status gizi anak, pendidikan dikaitkan dengan pengetahuan, sehingga ibu yang pendidikannya tinggi maka akan mengambil keputusan yang terbaik untuk gizi anaknya dengan pertimbangan disiplin ilmu, dibanding dengan ibu yang pendidikannya kurang hal ini tentu akan berbeda. Menurut Notoatmodjo Bahwa pendidikan rendah menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap program kesehatan balitanya sendiri sehingga mereka kurang mengenal bahaya yang terjadi. Dengan melihat dari hasil penelitian yang diterangkan dalam table 4.2.2.3 dapat dilihat ternyata ibu dengan pendidikan kurang ternyata banyak yang meiliki balita dengan status gizi baik, ini jelas bertentangan dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo. Dari data puskesmas tahun 2007 memang warga Kecamatan Cidahu yang tersebar dari 12 desa rata-rata pendidikan wargnya adalah SD dengan jumlah 7747 jiwa ( 55,71% ). Ibu yang berpendidikan rendah yang memiliki balita dengan status gizi baik ternyata selalu mengikutu kegiatan Posyandu yang rutin dilakukan petugas Puskesmas Cidahu. Jadi penngetahuan ibu tentang bagaimana cara memberikan gizi yang terbaik buat anaknya ternyata didapat bukan dari pendidikan formal tetapi dari penkes yang rutin dilakukan petugas Puskes.
4.4.3 Hubungan antara usia ibu dengan status gizi balita di UPTD Pusksmas DTP Cidahu
Dari tabel 10 dapat disimpulkan. Dari sampel 97 ibu yang mempunyai balita dengan Ibu yang berusia tidak beresiko sebanyak 89 Ibu dan Ibu dengan usia beresiko sebanyak 8 Ibu, ternyata ibu yang tidak beresiko yang lebih banyak memiliki anak balita dengan status gizi baik sekitar 79 (88.8%)Ibu. Setelah dilakukan penghitungan dengan program SPSS didapat P = 0.257 dengan P>α=0.005 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Cidahu. Usia ibu jika dikaitkan dengan status gizi anak maka benang merah diantaranya adalah semakin tua ibu akan lebih berpengalaman untuk mengambil keputusan asupan nutrisi anaknya, dan jika usia ibu masih kurang maka dapat dikatakan tidak ada pengalaman yang dapat dijadikannya tolak pikir. Sangat dimungkinkan orang tua yang masih muda dan baru mempunyai anak dan akan mempunyai pengalaman yang berbeda dalam merawat anaknya dibandingkan dengan orangtua yang lebih tua serta mempunyai beberapa anak dan berpengalaman dalam merawatnya (Supartini 2005). Ternyata setelah dilakukan penelitian dan setelah data diolah didapat hasil yang menunjukan tidak adanya hubungan antara usia ibu dengan status gizi balita, dan setelah peneliti mengamati pola kehidupan masyarakat, disana ibu yang masih dibawah umur dan mempunyai balita ternyata masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya, kondisi ini sangat dimungkinkan adanya campur tangan neneknya dalam memberikan keputusan nutrisi bagi balita, sehingga dapat disimpulkan ibu yang masih dibawah umur tidak akan kesulita walau tanpa pengalaman dalam mengurus anak. Sebaliknya ibu yang sudah usia lanjut (>35) yang masih memiliki balita, mereka juga tidak lantas tidak mengurus balitanya lantaran dirinya saja sudah tua (aktivitas terbatas). Koping yang dilakukan adalah dengan meminta bantuan anak tertuanya atau sodaranya sehingga dapat mengurus anaknya dengan baik, sehingga keputusan untuk menentukan asupan nutrisi anaknya ada yang membantu.

4.4 Keterbatasan penelitian
Dalam penelitian ini dilakukan sangat singkat sehubungan dengan waktu yang tersedia sangat sempit, dari mualai pengambilan data sampai pengolahan data hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu. Dalam hal ini peneliti merasa kurang memberikan informasi yang lebih baik dan hasil dari data yang didapat juga masih kurang akurat karena hanya 97 sampel dari populasi sekitar 3000an, tapi inilah yang dapat disampaikan oleh penulis. Semoga walaupun hanya sedikit tapi manfaatnya dapat dirasakan oleh kita semua.

One response

  1. ass, cul, skripsi saha eta, filena meunang ti mana? asa teu masihan ka icul he

    9 Oktober 2010 pukul 9:46 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s