Lakukan Dengan fikiran

Hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dengan praktik perawatan organ genetalia eksterna pada remaja putri di SMK N 1 Kendal.


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Indonesia digolongkan sebagai “penduduk muda”. Diantara 42,4 juta penduduk umur 15-24, 21,4 juta penduduk berumur 15-19 dan 21,1 juta berumur 20-24 dengan 19,4 juta wanita dan 14,9 juta pria belum pernah kawin (SKRRI, 2007). Besarnya jumlah penduduk muda akan sangat mempengaruhi proses pembangunan, sehingga perlu ditingkatkan kualitas kesehatannya agar bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan lingkungannya (BKKBN, 2001).

Menurut data statistik, jumlah penduduk di Jawa Tengah pada tahun 2002 mencapai 31.691.866 jiwa, terdiri atas 15.787.143 (49,81%)
laki-laki, dan 15.904.723 (50,19 %) perempuan. Dari jumlah tersebut,
sekitar 9.019.505. (28,46%) adalah mereka yang berusia anak/remaja. Jumlah ini relatif cukup besar, karena mereka akan menjadi generasi penerus yang akan menggantikan kita di masa yang akan datang. Status kesehatan mereka saat ini akan sangat menentukan kesehatan mereka di saat dewasa, khususnya bagi perempuan, terutama mereka yang menjadi ibu dan melahirkan (Husni, 2005).

Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis (Rochmawati, 2010). Remaja diharapkan dapat menjalankan fungsi reproduksinya dengan tepat oleh karena itu dia harus mengenali organ reproduksinya, fungsi yang akan dijalankan dalam proses reproduksi tersebut tidak dapat dilakukan bila organ–organ reproduksi tidak terawat sejak awal.

Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang – orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama (Hurlock, 1980). Menurut WHO masa remaja merupakan masa dimana terjadi  perubahan fisik, perubahan mental dan identitas usia dewasa, serta perubahan social-ekonomi ke arah ketergantungan yang relative lebih rendah. Puncak perkembangan organ reproduksi terjadi pada masa remaja dimana manusia mengalami fase ketidakstabilan emosi. Perubahan secara cepat dan mendadak terutama berkaitan dengan organ reproduksinya menjadikan remaja tidak selalu mampu bersikap secara tepat terhadap organ reproduksinya.

Sejak tahun 1996 pemerintah Indonesia mengadopsi Paket Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) dan Paket Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK), konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah satu dari empat komponen utama (Yayasan Pendidikan Kesehatan Perempuan, 2004). Begitu pula dalam Rencana Program Jangka Panjang (RPJM) 2004-2009, Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) adalah salah satu program pemerintah di dalam sektor pembangunan social-budaya (Bappenas, 2005).

Upaya-upaya kesehatan reproduksi remaja yang perlu dilakukan adalah pemberian informasi kesehatan reproduksi dalam berbagai bentuk sedini mungkin kepada seluruh segmen remaja, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Pemberian informasi ini dengan tujuan meningkatkan pengetahuan yang pada gilirannya mampu memberikan pilihan kepada remaja untuk bertindak secara bertanggung jawab, baik kepada dirinya maupun keluarga dan masyarakat. Upaya lainnya adalah memberikan porsi dan kesempatan yang seluas-luasnya pendidikan moral/agama kepada seluruh anak/remaja, dengan memberikan informasi yang komprehensif berkenaan dengan kesehatan reproduksi (Husni, 2005).

Selain itu juga perlu diarahkan upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi pada masa remaja, Informasi dan penyuluhan, konseling serta pelayanan klinis perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja. (Harahap, 2003).

Dari berbagai sumber yang dikumpulkan, ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh remaja pada area kesehatan reproduksi. Permasalahan tersebut adalah rendahnya pengetahuan, akses layanan yang terbatas dan terbatasnya jenis layanan (Husni, 2005). Dari hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) 2007 pengetahuan remaja tentang sistem reproduksi manusia lebih banyak pada remaja berusia 20-24 tahun dibanding remaja berusia 15-19 tahun. Sebagian besar remaja mendiskusikan kesehatan reproduksi dengan teman, yang biasanya sering tidak akurat. Akses pelayanan kesehatan reproduksi tidak banyak diketahui remaja sehingga hanya sedikit remaja yang memanfaatkan tempat – tempat pelayanan kesehatan reproduksi. Hal ini yang menyebabkan remaja perempuan rentan terhadap kematian maternal, kematian ibu dan bayi, aborsi tidak aman, dan lain – lain. Pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan reproduksi pada remaja diharapkan dapat mendorong remaja untuk memiliki sikap yang benar dan prilaku kesehatan reproduksi yang bertanggung jawab.

Dari survei yang dilakukan Youth Center Pilar PKBI Jawa Tengah 2004 di Semarang mengungkapkan bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan tentang proses terjadinya bayi, Keluarga Berencana, cara-cara pencegahan HIV/AIDS, anemia, cara-cara merawat organ reproduksi, dan pengetahuan fungsi organ reproduksi, diperoleh informasi bahwa 43,22 pengetahuannya rendah, 37,28 % pengetahuan cukup sedangkan 19,50 % pengetahuan memadai (Husni, 2005).

Berdasarkan hasil penelitian Eny Winaryati terhadap 217 siswi SMP swasta di Kota Semarang pada 2008, berkenaan dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, meliputi pengetahuan tentang menstruasi, seks, penyakit kelamin, dan KB, diperoleh gambaran sebagian besar (99%) berada pada kategori sedang dan kurang. Minimnya pengetahuan ini akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku, pada akhirnya berhubungan dengan munculnya masalah-masalah pada remaja. Berkenaan dengan kesehatan reproduksi yang dialami oleh 217 siswi SMP, diperoleh gambaran 57% berada dalam kategori sedang dan kurang. Persebarannya, 29% siswi memiliki keluhan pada alat kelaminnya, seorang siswi merasakan panas pada alat kelaminnya pada waktu kencing, 10 siswi (5%) merasakan gatal pada alat kelaminnya, 97 siswi (45%) mengalami keputihan. Permasalahan  seputar remaja terkait erat dengan pengetahuan, sikap dan perilaku, berdasar hasil penelitian tersebut masih banyak remaja yang mengalami permasalahan kesehatan reproduksi, masalah kesehatan reproduksi ini terkait dengan bagaimana sikap dan praktik remaja dalam menjaga kebersihan (personal highiene). Bila personal highiene baik maka tidak akan timbul masalah, sebaliknya bila personal highiene jelek maka akan timbul masalah, salah satu contoh masalah adalah keputihan. (Eny, 2010).

Keputihan (Leukore atau Fluor Albus) adalah istilah untuk menggambarkan keluarnya cairan selain darah dari vagina dan diperkirakan semua wanita pernah mengalami keputihan terutama pada usia reproduktif. Ada dua jenis keputihan, yaitu keputihan fisiologis yang normal dialami semua wanita dan keputihan patologis dengan gejala yang berlangsung lama, terjadi berulang, jumlahnya berlebihan, baunya busuk, dan menimbulkan nyeri, panas, gatal hingga mengarah keganasan. Keputihan dapat menyebabkan munculnya rasa tidak nyaman yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri seorang wanita terutama remaja putri (Karuniadi, 2009). Keputihan dapat dicegah melalui personal highiene yang baik dan perawatan pada genetalia eksterna (Ririn, 2009).

Alat reproduksi merupakan salah satu organ tubuh yang sensitif dan memerlukan perawatan khusus. Pengetahuan dan perawatan yang baik merupakan faktor penentu dalam memelihara kesehatan reproduksi. Merawat organ reproduksi bertujuan untuk menjaga kebersihannya, mempertahankan keseimbangan keasaman vagina, mencegah munculnya keputihan, bau tak sedap dan gatal – gatal (Siswono, 2001).

Dari studi pendahuluan yang dilakukan melalui pemberian kuesioner pada 10 siswi SMK N 1 Kendal mengenai pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja, 60% dalam kategori pengetahuan kurang, 20% cukup dan 20% baik. Dan 70% siswi kategori cukup baik dalam melakukan praktek perawatan organ genetalia eksterna, 20% kurang baik dan 10% baik.

Dari uraian diatas pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja perlu ditingkatkan agar remaja putri memiliki sikap yang benar dan perilaku yang lebih bertanggung jawab dalam praktik perawatan organ genetalia eksterna. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti adakah hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dengan praktik perawatan organ genetalia eksterna pada remaja putri di SMK N 1 Kendal.

5 responses

  1. riffqi kurniawati

    mas, boleh minta daftar pustaka yg (Eny,2010) lengkapnya bagaimana, dalam buku apa? terima kasih..

    24 Mei 2013 pukul 11:42 PM

  2. tya

    ass,,, saya dimana ya bisa dapat info mengenai penelitian dengan judul Hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dengan praktik perawatan organ genetalia eksterna pada remaja putri di SMK N 1 Kendal… kasi tau caranya yah,,, di tunggu jawaban nya…

    27 April 2011 pukul 8:47 PM

  3. Terimakasih,, maaf mbak isi dari skripsi ini tidak dapat kami tampilkan seluruhnya tanpa seijin penulis karna ada hak cipta,,

    9 April 2011 pukul 6:05 AM

  4. merydha

    bagus banget tuuuu kti nya boleh gak saya minta KTI lengkapnya makasihh , ,, , ,

    1 April 2011 pukul 10:45 PM

  5. anez

    kategori praktek kebersihan alat genitalnya apa mas,,,???bisa gak aq dpet KTi yg lengkapx,,,,trimakasih…

    26 Februari 2011 pukul 1:20 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s