Lakukan Dengan fikiran

*Skripsi


GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA T ENTANG KEBERSIHAN DIRI PADA LANSIA DI DESA WAKED
KOTA DUSUN KAMPUNG BARU KECAMATAN
WALED KAB. CIREBON

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian
Sarjana pada program studi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon

CERIA MARTIWI
4201.0104.A.025

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
CIREBON
2008
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG KEBERSIHAN DIRI PADA LANSIA DI DESA WALED KOTA DUSUN KAMPUNG BARU KECAMATAN WALED KABUPATEN CIREBON TAHUN 2008
Penyusun : Ceria Martiwi
N I M : 420.0104.A.025

Cirebon, Juli 2008

Pembimbing Utama

(Agus Setiawan Skp, M. Kep)

Pembimbing II

(Rachmawaty Neny T.Skep)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CIREBON
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2008

CERIA PERTIWI
4201.0104.A.025

GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG KEBERSIHAN
DIRI PADA LANSIA DI DESA WAKED KOTA DUSUN KAMPUNG BARU KECAMATAN WALED KAB. CIREBON TAHUN 2008.

5 Bab; 8 diagram ; 82 halaman; 29 lampiran

ABSTRAK

Pengetahuan merupakan hasil tahu, ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Pengetahuan terbagi dalam kategori baik, cukup dan kurang. Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku dan kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri, rambut, mata, telinga, kuku dan kulit. Pada lansia di atas usia 60 tahun yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Dengan menggunakan total sampel. Besar sampel menggunakan rumus product moment person dan penelitian dilakukan pada tanggal 11 Mei – 11 Juni 2008. Hasil penelitian ini adalah untuk menggambarkan pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia, kebanyakan responden memiliki pengetahuan dalam kategori kurang (44,2%), cukup (38,2%) dan baik (17,6%). Saran tingkatkan motivasi keluarga dalam menambah pengetahuan tentang lansia yang berhubungan dengan kebersihan diri, beri perhatian khusus untuk meningkatkan kesehatan yang optimal, lakukan kerjasama dengan keluarga dalam meningkatkan kemampuan merawat diri,agar fasilitasi keluarga dalam menjalankan perannya sebagai pendorong keluarga,khususnya mengenai personal higiene, motivasi keluarga dalam menjalankan perannya dalam merawat lansia, fasilitasi keluarga dalam meningkatkan pengetahuannya mengadakan penyuluhan kesehatan atau dengan jalan mengunjungi dari rumah ke rumah, lakukanlah tindak lanjut penelitian tentang hubungan pengetahuan keluarga dalam menjaga kebersihan diri pada lansia dan hubungan pengetahuan terhadap sikap keluarga dalam menjaga kebersihan diri pada lansia.

Keyword :Pengetahuan Keluarga, Kebersihan Diri Lansia .
Referensi : jumlah (6 buku; 3 website).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit. Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan.
Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan keluarga akan pentingnya kebersihan diri tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,1997).
Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas perawatan diri adalah: faktor yang ditentukan oleh keadaan masa lalu, situasi lingkungan, lingkungan dimana kita tinggal serta faktor-faktor pribadi (Steven et al,2002).
Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya (Siburia,2002).
Sejalan dengan kemunduran fisiknya lansia membutuhkan pertolongan dari keluarga untuk memenuhi kebersihan diri.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah:
1. Tingkat Pengetahuan
2. Kondisi fisik lansia dan psikis lansia
3. Faktor-faktor ekonomi
4. Faktor budaya
5. Faktor lingkungan
6. Faktor citra tubuh
7. Faktor peran keluarga
Kebersihan diri didukung oleh pengetahuan dan sikap keluarga yang memadai, pengetahuan tentang kebersihan diri didapat masyarakat dari membaca buku-buku tentang kesehatan. Dengan demikian pengetahuan dan sikap yang baik terhadap kebersihan diri menjadi penting karena dapat membantu terbentuknya kebersihan diri yang baik. Semua itu tentunya harus di dukung dengan pengetahuan keluarga dalam memenuhi kebersihan lansia.
Pengetahuan kebersihan diri sangat dibutuhkan oleh setiap individu dalam mempertahankan kebiasaan hidup yang sesuai dengan kesehatan dan akan menciptakan kesejahteraan serta kesehatan yang optimal, dengan melakukan keperawatan kesehatan diri. Karena dari pengalaman dan penelitian terhadap praktek yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada praktek yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 1997).
Perawat mempunyai peranan dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri, yaitu sebagai family advocacy. Perawat berperan sebagai pendamping bagi keluarga baik bagi lansia maupun keluarganya ketika dihadapkan pada suatu masalah termasuk dalam hal kebersihan diri, perawat sebagai conselor perawat di mana perawat dapat memberikan ide atau pendapat kepada lansia dan kepada keluarga sebagai pelaksana asuhan keperawatan. Perawat memberikan asuhan dengan kebutuhan perawat sebagai pendidikan memberikan pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
Berdasarkan pengamatan penulis dari beberapa anggota keluarga yang ada di kelurahan Waled kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon khususnya pada lansia yang tinggal dengan keluarganya memiliki kuku yang panjang dan kotor, memiliki gigi kotor dan berlubang, pakaian tidak rapi dan memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Bahkan dari 7 keluarga yang penulis pantau kebersihannya menunjukkan tiga dari tujuh keluarga yang berlatar belakang dari keluarga mampu yang tinggal dengan anggota keluarganya lebih dari dua belas jam dalam sehari didapatkan kondisi lansia yang tak terurus, di mana terlihat kondisi kulit yang kering, bersisik, kondisi rambut yang acak-acakan, lengket dan kotor, kuku kaki dan tangan yang panjang dan kotor, pakaian yang digunakan kusut, kotor dan sedikit bau sedangkan terdapat dua lansia yang bersih. Kondisi ini ditunjukkan dengan kulit yang tak kering karena sudah diberi pelembab sebelumnya. Rambut yang tersisir dan tertata rapi, kuku kaki dan tangan bersih dan telah terpotong rapi. Bagi lansia yang masih mempunyai gigi terlihat gigi yang bersih dan tak bau. Dan pakaian yang digunakan pun tak terlihat kusut, kotor dan bau. Dari lansia yang kebersihan dirinya kurang terlihat bahwa mereka jarang diingatkan oleh anggota keluarganya.
Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti rumusan masalahnya adalah: “Bagaimana Gambaran Pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon”?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.

1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon tentang kebersihan diri pada lansia.
2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan rambut pada lansia yang ada di desa Waled kota dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.
3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan mata pada lansia yang ada di desa Waled Kota Dusun Kampung Baru kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.
4. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan telinga pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.
5. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan mulut pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru kecamatan Waled Kabupaten.Cirebon.
6. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan kuku pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.
7. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan kulit pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.

1.4 Kegunaan Penelitian
1. Bagi instansi kesehatan
Diharapkan dapat menambah pengetahuan perawat geriatri dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang tinggal dengan keluarga mengenai kemampuan merawat diri pada lansia.
2. Bagi instansi pendidikan
Diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan menambah Wawasan diri pada bagi mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa ilmu Kesehatan keperawatan dalam penyusunan asuhan keperawatan keluarga Dengan kemampuan merawat lansia.

3. Bagi peneliti
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kemampuan menggali tentang permasalahan dan perawatan diri lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon tahun 2008.
4. Bagi keluarga
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan oleh pihak keluarga untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan pada lansia.

1.5 Kerangka Konsep
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah :
1. faktor Pengetahuan
2. Kondisi fisik lansia dan psikis lansia
3. Faktor-faktor ekonomi
4. Faktor budaya
5. Faktor lingkungan
6. Faktor citra tubuh
7. Faktor peran keluarga
Dalam penelitian ini tidak semua faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan diri pada lansia yang diteliti, tetapi dibatasi pada pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia, mengingat pengetahuan cukup berpengaruh pada kebersihan lansia, secara skematis kerangka pemikiran penulis tampilkan dalam skema sebagai berikut :

Diagram 1.1
Kerangka Pemikiran Pengetahuan Keluarga Tentang Kebersihan Diri pada Lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kab. Cirebon.

Keterangan :
Variabel yang diteliti :
Variabel yang tidak diteliti :

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebersihan Diri
1. Devinisi
Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy, 1997).

2. Jenis Kebersihan Diri
1. Kebersihan rambut
2. Kebersihan gigi dan mulut
3. Kebersihan mata
4. Kebersihan telinga
5. Kebersihan kuku
6. Kebersihan kulit

3. Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Kebersihan Diri
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah :

1. Faktor Pengetahuan
Menurut Purwanto (1999) dalam Friedman (1998), domain kognitif berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat intelektual (cara berpikir, berabstraks, analisa, memecahkan masalah dan lain-lain). Yang meliputi pengetahuan (knowledge), pemahaman (comperehension), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi (evaluation).
Individu dengan pengetahuan tentang pentingnya kebersihan diri akan selalu menjaga kebersihan dirinya untuk mencegah dari kondisi / keadaan sakit (Notoatmodjo, 1998).
2. Kondisi Fisik Lansia dan Psikis Lansia
Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang lain (Nugroho, 2000).
Menurut Zainudin (2002) penurunan kondisi psikis pada lansia bisa disebabkan karena Demensia di mana lansia mengalami kemunduran daya ingat dan hal ini dapat mempengaruhi ADL (Activity of Daily Living yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri), dimulai dari bangun tidur, mandi berpakaian dan seterusnya.

3. Faktor Ekonomi
Menurut Geismer dan La Sorte (1964) dalam Friedman (1998), besar pendapatan keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk menyediakan fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk menunjang hidup dan kelangsungan hidup keluarga.
4. Faktor Budaya
Kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi kemampuan perawatan hygiene. Seorang dari latar belakang kebudayaan berbeda memiliki praktik perawatan diri yang berbeda. Keyakinan yang didasari kultur sering menentukan definisi tentang kesehatan dan perawatan diri (Potter dan Ferry, 2005).
5. Faktor Lingkungan
Lingkungan mencakup semua faktor fisik dan psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup lingkungan berpengaruh terhadap kemampuan untuk meningkatkan dan mempertahankan status fungsional, dan meningkatkan kesejahteraan (Potter dan Ferry, 2005)
6. Faktor Citra Tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu (Stuart & Sundeen, 1999 dalam Setiadi 2005).
7. Faktor Peran Keluarga
Keluarga secara kuat mempengaruhi perilaku sehat setiap anggotanya begitu juga status kesehatan dari setiap individu mempengaruhi bagaimana fungsi unit keluarga dan kemampuan untuk mencapai tujuan. Pada saat kepuasan keluarga terpenuhi tujuannya melalui fungsi yang adekuat, anggota keluarga tersebut cenderung untuk merasa positif mengenai diri mereka sendiri dan keluarga mereka (Potter dan Ferry, 2005).

2.2 Lansia
1. Pengertian
Menua (menjadi tua = aging ) menurut (Constantinides,1994 dalam Setiadi 2005) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita .
Dalam bukunya Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.
Di Indonesia pemerintah dan lembaga-lembaga pengelola lansia, memberi patokan bahwa mereka yang disebut lansia adalah yang telah mencapai usia 60 tahun yang dinyatakan dengan pemberian KTP seumur hidup.
(Zainuddin, 2002)
2. Batasan Lanjut Usia
Menurut dokumen perkembangan lanjut usia dalam kehidupan bangsa Yang diterbitkan oleh Departemen sosial dalam rangka pencanangan hari lanjut usia nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh Presiden RI. Batas umur lanjut usia adalah 60 tahun atau lebih.
(Setiabudi,1999 dalam Setiadi 2005).
3. Proses Menua
Penuaan merupakan proses yang secara berangsur mengakibatkan perubahan kumulatif dan mengakibatkan perubahan diadakan yang berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel,akibat interaksi sel dengan lingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan perubahan degeneratif. Menurut H.P.Von Hahn (1975) dalam Hardywinoto (2005), karateristik proses penuaan merupakan suatu proses biologis yang kompleks, yang terdiri dari :
1) Adanya perubahan dalam tubuh yang terprogram oleh jam biologis (biological clock ).
2) Terjadi aksi dari zat metabolik akibat mutasi spontan, radikal bebas dan adanya kesalahan di molekul DNA .
3) Perubahan terjadi di dalam sel dapat primer akibat gangguan sistem penyatuan pertumbuhan atau secara sekunder akibat pengaruh dari luar sel.
4. Permasalahan Lanjut Usia
Menurut Nugraha (2000), permasalahan yang berkaitan dengan lanjut usia secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik,biologi, mental, maupun sosial ekonomi. Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.

2.3 Keluarga
1. Pengertian
Keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlawanan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal di sebuah rumah tangga (Suprajitno, 2004 dalam Setiadi 2005).
Menurut Departemen kesehatan RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal dalam satu di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Pembagian tipe keluarga bergantung pada konteks keilmuwan dan orang yang mengelompokkan menurut (Friedman,1998 dalam Setiadi 2005)tipe keluarga tradisional ada dua, yaitu :
1) Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunan atau adopsi atau keduanya.
2) Keluarga besar (estended family) adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga yang lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek, nenek, paman, bibi).
2. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga menurut (Friedman ,1998 dalam Setiadi 2005).adalah :
1) Fungsi Afektif (The affective function)
Fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain, fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial keluarga.
2) Fungsi Sosialisasi dan penempatan sosial (sosialisation and social placement fungtion)
Fungsi pengembangan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3) Fungsi Reproduksi (reproductive function)
Fungsi untuk mempertahankan generasi menjadi kelangsungan keluarga.
4) Fungsi Ekonomi (the economic function)
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
5) Fungsi Perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the healty care function)
Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.
3. Peran keluarga
1. Pengertian Peran
Peran menunjukkan kepada beberapa set perilaku yang kurang lebih bersifat homogen, yang didefinisikan dan diharapkan secara normatif dari seorang okupan dalam situasi sosial tertentu. Peran didasarkan preskripsi dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut (Nye,1976 dalam Setiadi, 2008).
Peran adalah pola, sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat (Beck dkk,1984; Keliat,1992).
2. Peran Keluarga
Adalah seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu (Efendy,1998).
Peran keluarga dalam perawatan kesehatan meliputi : kemampuan mengkomunikasikan gagasan dan perasaan menyusun dalam menemukan pembagian tugas keluarga, saling berpartisipasi untuk menolong anggota keluarga yang sakit (Shives,1998 dalam Friedman,1998).
Peran informal mempunyai tuntunan yang berbeda, tidak terlalu didasarkan pada usia, jenis kelamin dan lebih didasarkan pada atribut-atribut personalitas atau kepribadian anggota keluarga individual. Peran-peran lain ada dan muncul ketika kebutuhan-kebutuhan keluarga berubah atau bertukar (Kievit, 2968 dalam Friedman,1998) yaitu :
Beberapa contoh peran-peran informal atau tertutup yang digambarkan dalam literature (Satir,1972 dalam Friedman,1998) yaitu :
1. Peran pendorong
2. Peran pengharmonis
3. Peran inisiator-kontributor
4. Peran pendamai
5. Peran penghalang
6. Peran Dominator
7. Peran penyalah
8. Peran pengikut
9. Peran pencari pengakuan
10. Peran Matir
11. Peran keras hati
12. Peran sahabat
13. Peran kambing hitam
14. Peran penghibur
15. Peran perawatan keluarga
16. Peran pioner keluarga
17. Peran Distraktor dan orang yang tidak relevan
18. Peran koordinator keluarga
19. Peran penghubung keluarga
20. Peran saksi
21. Peran pengambil keputusan
3. Faktor Yang Mempengaruhi Peran
a. Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi peran adalah umur. Umur merupakan usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth, 1996 dalam Nursalam, 2001). Semakin cukup umur,tingkat keuntungan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya . hal ini sebagai akibat dari pengalaman kematangan jiwanya
(Huclock,1998 dalam Nursalam,2001).
b. Faktor Eksternal
Salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup
(Sarwono, 1997 dalam Nursalam, 2001)
Makin tinggi pendidikan seseorang makin banyak pula Pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan yang kurang akan menghambat Perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan
(Kuncoroningrat, 1997 dalam Nursalam, 2001).

2.4 Personal Hygiene Lansia
1. Perawatan Rambut
Penampilan dan kesejahteraan seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut sehari-sehari. Menyikat, menyisir dan bersampo adalah cara-cara dasar hygienis untuk semua usia. Pertumbuhan, distribusi pola rambut dapat menjadi indikator status kesehatan umum, perubahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu atau obat obatan dapat mempengaruhi karakteristik rambut. Rambut normal adalah bersih, bercahaya, dan tidak Kusut, untuk kulit kepala harus bebas dari lesi kehilangan disebabkan karena praktik perawatan yang tidak tepat atau penggunaan medikasi kemoterapi.
Potter dan Perri (2005), menjelaskan mengenai masalah rambut dan kulit kepala yang sering terjadi yaitu:
1. Ketombe
2. Pediculosis (kutu)
3. pediculosis capitis (kutu kepala)
4. pediculosis corporis (kutu badan)
5. pediculosis pubis (kuku kepiting)
6. kehilangan rambut (alopesia)
Poter dan Perry (2005), menjelaskan perawatan rambut
Dengan beberapa cara sebagai berikut :
1. Penyikatan dan penyisiran
Penyikatan yang sering membantu mempertahankan kebersihan rambut dan mendistribusikan minyak secara merata sepanjang helai rambut. Penyisiran hanya membentuk gaya rambut dan mencegah rambut kusut. Sisir bergerigi pendek cukup untuk rambut pendek,tapi sisir bergerigi tajam dan tidak beraturan dapat melukai kulit kepala. Penyikatan dan penyisiran yang menjaga rambut panjang terawat rapi.
2. Bersampo
Frekuensi bersampo tergantung rutinitas pribadi sehari-hari dan kondisi rambut. Perspirasi atau pengobatan yang meninggalkan darah atau larutan pada rambut memerlukan kegiatan bersampo dan lebih sering .
3. Pencukuran
Pencukuran rambut yang berada di bagian wajah dapat di lakukan setelah mandi atau bersampo. Wanita lebih menyukai untuk mencukur di kakinya atau aksila selama mandi Ketika pisau cukur di gunakan untuk bercukur, kulit harus perhalus untuk mencegah tarikan, goresan atau pemotongan. Penggunaan krim cukur atau busa sabun akan memperhalus kulit secara efektif.
4. Perawatan kumis dan jenggot
Menjaga kebersihan daerah berkumis dan berjenggot sangat penting karena partikel makanan dengan mudah berkumpul di makanan.
5. perawatan mulut dan gigi
Rongga mulut dilapisi dengan membran mukosa, membran merupakan jaringan epitel yang malapisi dan melindungi organ, mensekresi mukus, untuk menjaga jalan saluran sistem pencernaan diterminyaki dan mengabsorpsi nutrien. Mulut atau rongga yang terdiri dari bibir sekitar pembukaan mulut leher sepanjang dinding rongga, lidah dan ototnya dan langit-langit mulut bagian depan dan belakang membentuk akar rongga. Gigi adalah untuk mengunyah atau mastikasi. Gigi normal terdiri dari tiga bagian; kepala, leher dan akar .gigi yang sehat tampak putih, halus, bercahaya, dan berjajar rapi.
Perkembangan fisiologis mulut pada lansia; gigi yang berumur menjadi rapuh, lebih kering dan berwarna lebih gelap. Gigi menjadi patah setelah bertahun-tahun digosok dan diasah. tidak rata bergerigi dan di asah. gusi kehilangan faskularitas dan elastisitas jaringan,yang menyebabkan gigi palsu kurang pas kebiasaan makan sering berubah dan malnutrisi menjadi masalah, penurunan sensitivitas rasa, penitipas mukosa dan penurunan massa dan kekuatan otot mastikasai.
Hiegene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi dan bibir. Menggosok membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan, plak, dan bakteri; memasase gusi; dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman.
Flossing membantu lebih lanjut dalam mengangkat plak dan tar-tar diantar gigi untuk mengurangi inflamasi gusi dan infeksi. Hiegene mulut yang lengkap memberikan rasa yang sehat dan selanjutnya menstimulus nafsu makan.
Dua tipe masalah besar adalah karies gigi (lubang) dan penyakit periodontal. Karies gigi merupakan masalah mulut paling umum, perkembangan lubang merupakan proses patologi yang melibatkan kerusakan email gigi pada akhirnya melalui kekurangan kalsium. Kekurangan kalsium adalah hasil dari akumulasi musim, karbohidrat, basilus asam laktat pada saliva yang secara normal ditemukan pada mulut yang membentuk lapisan gigi yang disebut plak. Plak mencegah dilusi asam normal dan netralisasi yang mencegah disolusi bakteri pada rongga mulut
(Potter dan Perry,2005).
Penambahan penyakit sebagi berikut ; deposit kalkulus pada gigi digaris gusi, ginggipal menjadi bengkak dan perih, peradangan menyebar, pembentukan celah atau kantong antara gusi dan ginggipal, gusi menyusut, tulang alveolar hancur dan gigi lepas
(Lewis dan Kolier,1996 dalam Setiadi, 2008).

2. Perawatan Mata, Telinga dan Hidung
Perhatian khusus diberikan untuk membersihkan mata, telinga dan hidung secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena secara terus-menerus dibersihkan air mata, dan kelopak mata, dan bulu mata mencegah partikel asing. Seseorang hanya memerlukan untuk memindahkan sekresi kering yang terkumpul kepada kantus sebelah, dalam bulu mata hygiene telinga mempunyai implikasi ketajaman pendengaran sebasea lilin atau benda asing berkumpul pada kanal telinga luar yang mengganggu konduksi suara. Khususnya pada lansia rentan masalah. Hidung memberikan temperatur dan kelembaban udara yang pernafasan dihirup serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem kumulasi sekresi yang mengeras di dalam nares dapat merusak sensasi olfaktori dan pernafasan (Potter dan Perry, 2005).
3. Perawatan Kulit
Kondisi kulit tergantung pada praktek hygiene dan paparan iritan lingkungan, sejalan dengan usia, kulit kehilangan layak kenyal dan kelembaban, pada kelenjar sebasea dan keringat menjadi kurang aktif. Epitalium menipis dan serabut kolagen elastik, menyusut sehingga kulit mudah pecah. Perubahan ini merupakan peringatan ketika bergerak dan mengatur posisi pada lansia. Khas kulit lansia adalah kering dan berkerut, masalah kulit yang umum yaitu kulit kering, jerawat, hirsutisme dan suam. Kulit tujuan dari membersihkan kulit dengan mandi yaitu; membersihkan kulit, stimulasi sirkulasi, citra diri, pengurangan bau badan dan peningkatan rentang gerak. Tipe mandi yang terapeutik terdiri dari mandi bak mandi air panas, mandi bak air hangat, mandi bak air dingin, berendam dan rendam duduk (Potter dan Perry, 2005).
4. Perawatan Kaki, Tangan dan Kuku
Kaki dan kuku sering kali memerlukan perawatan khusus untuk mencegah infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Perawatan dapat digabungkan pada saat mandi atau pada waktu yang terpisah. Masalah yang timbul bukan karena perawatan yang salah atau kurang terhadap kaki dan tangan seperti menggigit kuku atau memotong yang tidak tepat. Pemaparan dengan zat-zat kimia yang tajam dan pemakaian sepatu yang tidak pas. Ketidaknyamanan dapat mengarah pada stres fisik dan emosional (Potter dan Perry, 2005).

2.5 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kongnitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan (Notoatmodjo, 2003).
2.5.1 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang mencakup dalam domain kongnitif, mempunyai enam tingkatan (Notoatmodjo,2003).
1. Tahu (know), merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau dirangsang yang telah diterima.
2. Memahami (comperehension) yaitu,kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terdapat objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (application), yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari ada situasi kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan penggunaan gagasan umum, prosedur, prinsip, teknis, teori-teori yang harus diingatkan dan dilaksanakan.
4. Analisis (analiysis), yaitu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu lain.
5. Sintestis (synthesis),yaitu menunjukkan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis ini adalah dapat menyusun, merencanakan, meringkas dan sebagainya terhadap suatu teori yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)yaitu, kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan :
Menurut Sadulloh 2003 dalam Setiabudi 2004 mengatakan
bahwa pengetahuan seseorang dapat diperoleh oleh hal-hal :
1. Pengalaman
Apa yang telah dan sedang kita ataupun orang lain ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya pengetahuan dan sikap.
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah level/tingkat suatu proses yang berkaitan dalam mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuannya, nilai dan sikapnya serta keterampilannya.
3. Keyakinan
Keyakinan adalah kepercayaan yang dipegang seseorang terhadap sesuatu tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu, biasanya keyakinan ini diperoleh secara turun-temurun.
4. Fasilitas
Fasilitas adalah segala sesuatu yang bertujuan untuk kemudahan-kemudahan dalam mencapai tujuan, yakni sarana dan prasarana kesehatan serta sumber-sumber informasi yang berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan pengetahuan seseorang.
5. Penghasilan
Penghasilan adalah apa yang telah didapat sebagai hasil dari segi penyediaan sumber-sumber informasi dan waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan sarana dan prasarana yang ada.

6. Sosial Budaya
Sosial budaya adalah suatu kehidupan bermasyarakat di mana seseorang hidup dan dibesarkan di lingkungan masyarakat, hal tersebut berpengaruh besar terhadap pembentukan perilaku dan pengetahuan.

2.6 Pengetahuan Personal Hygiene Lansia
Menurut Kuncoroningrat (1997) dalam Nursalam (2001) bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Begitu pun halnya pengetahuan lansia tentang personal hygiene.

2.7 Masalah Personal Hygiene Pada Lansia
Menurut Siburian (2002) menurunnya fungsi fisiologis dan kesehatan pada lansia terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang kebersihan lansia yaitu :
1) Mandi : pada lansia saat memasuki kamar mandi hendaknya tubuhnya kuat oleh pengasuhnya. Jika merasa oyong waktu sedang mandi, segera dibaringkan tanpa bantal.
2) Kebersihan mulut : lansia yang tak mandiri perlu dibantu dalam membersihkan giginya. Jika ada gigi palsu hendaknya dibersihkan setelah habis makan dengan sikat gigi, dan untuk menghilangkan baunya maka gigi palsu direndam dalam air hangat yang telah dibubuhi oleh pembersih mulut beberapa tetes selama 5-10 menit kemudian bilas kembali sampai bersih.
3) Cuci Rambut dan kulit : kulit dan rambut pada lansia mulai mengering. Karena itu sehabis mandi kulit perlu diolesi dengan krim dan rambut perlu mendapat hair conditioner. Sehabis mandi, rambut segera dikeringkan.
4) Kuku : pada waktu menggunting kuku harus hati-hati agar tidak terjadi karena luka pada lansia, khususnya penderita diabetes melitus Lebih sukar sembuh.
5) Pakaian : pakaian lansia hendaknya terbuat dari bahan yang lunak, harus dijaga agar tetap rapi karena banyak lansia yang tidak peduli lagi terhadap pakaiannya. Warna pakaian hendaknya cerah tapi lembut, jangan memakai warna yang mencolok karena ini hanya cocok bagi anak muda, jangan pula dipilih warna hitam, karena memberi kesan sedih.

2.8 Tugas-tugas Perkembangan Lansia
2.8.1 Tugas Perkembangan Menurut Havighurst
Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul dari atau pada periode tertentu dalam kehidupan individu, pencapaian yang berhasil dilakukan akan membawa kebahagiaan dan keberhasilan pada tugas-tugas yang akan datang, tetapi jika pencapaian tersebut gagal, akan membawa individu tersebut ke arah ketidakbahagiaan.
Tugas perkembangan muncul dari banyak sumber. Tugas-tugas tersebut muncul dari kematangan fisik, tekanan budaya dari masyarakat dan nilai serta aspirasi pribadi. Usia lanjut adalah periode yang memuat tugas perkembangan unik yang harus dicapai. Tugas perkembangan lansia adalah mengklarifikasi, memperdalam dan menemukan fungsi seseorang yang sudah diperoleh dari proses belajar dan beradaptasi seumur hidup. Ahli teori perkembangan meyakini bahwa sangatlah penting bagi lansia untuk terus tumbuh, berkembang dan mengubah diri mereka jika ingin mempertahankan dan meningkatkan kesehatan.

2.8.2 Tugas Perkembangan Lansia Menurut Ericson
Teori ini menggambarkan tantangan atau kebutuhan untuk menghadapi setiap tahap dari delapan tahap pengelompokan usia dan menyatakan bahwa kekuatan ego dicapai jika setiap tahapan tersebut sudah berhasil diselesaikan.
Menurut Erickon lansia dapat mengalami masalah yang berkaitan dengan identitas versus kebingungan peran. Tugas perkembangan utama dari setiap kelompok usia intergritas ogo versus keputusasaan. Integritas adalah penerimaan terhadap satu-satunya siklus kehidupan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan tidak boleh digantikan. Keputusasaan terjadi ketika terdapat kekecewaan terhadap hidup seseorang.

2.8.3 Tugas Perkembangan Lansia Menurut Peck
Peck mengonseptualisasi tiga tugas yang berisi pengaruh dari hasil konflik antara integritas dan keputusasaan.
1. Perbedaan Ego versus preokupasi Peran Kerja
Tugas ini membutuhkan pergeseran sistem nilai seseorang, yang memungkinkan lansia untuk mengevaluasi ulang dan mendefinisikan kembali pekerjaan mereka. Penilaian ulang mengarah lansia untuk mengganti peran yang sudah hilang dengan peran aktivitas yang bau. Selanjutnya lansia mampu menemukan cara-cara baru memandang diri mereka sendiri sebagai orang yang berguna selain peran orang tua dan okupasi.
2. Body Transendence versus Preokupasi Tubuh
Sebagian besar lansia mengalami penurunan fisik. Untuk beberapa orang kesenangan dan kenyamanan berarti kesejahteraan fisik. Orang-orang tersebut mungkin mengalami kesulitan terbesar dalam mengabaikan status fisik mereka. Orang lain memiliki psikologis dan aktivitas sosial sekalipun mereka mengalami ketidaknyamanan fisik. Peck mengatakan bahwa dalam sistem nilai, mereka sumber-sumber kesenangan sosial dan mental dan rasa menghormati diri sendiri dapat mengabaikan kesenangan fisik semata.
3. Transedensi ego versus preokupasi ego
Peck mengungkapkan bahwa cara paling konstruktif untuk hidup di tahun-tahun terakhir adalah dapat didefinisikan “hidup secara dermawan dan tidak egois“ kemudian untuk mencapai integritas, seseorang harus mengembangkan kemampuan untuk mendefinisikan diri kembali, untuk melepaskan identitas okupasi, untuk bangkit dari ketidaknyamanan fisik.
2.8.4 Tugas Perkembangan Lansia Havighurst dan Duval
Menurut Havighurts, usia tua masih memiliki pengalaman-pengalaman baru di depan mereka, dan situasi-situasi yang baru. Pensiun berpindah ke komunitas pensiun, menyesuaikan diri terhadap efek penyakit kronis, kehilangan pasangan dan kelompok merupakan beberapa pengalaman dan situasi-situasi yang baru.
Tugas perkembangan menurut Havihurst (1) menyesuaikan diri terhadap penurunan kekuatan dan kesehatan fisik (2) menyesuaikan diri terhadap kematian pasangan (4) membentuk gabungan eksplisit dengan kelompok yang sesuai dengannya (5) membentuk kepuasan mengatur kehidupan fisik. Menurut Duvalln tugas perkembangan lansia meliputi (1) menemukan rumah yang memuaskan untuk akhir-akhir tahun kehidupan (2) menyesuaikan diri terhadap masa pensiun (3) membentuk rutinitas rumah tangga yang nyaman (4) saling menjaga satu sama lain sebagai suami istri (5) menghadapi kehilangan pasangan (6) mempertahankan hubungan dengan anak dan cucu (7) menjaga minat terhadap orang di luar keluarga.
2.8.5 Lembaga Hunian Bagi Kaum Lanjut Usia (Panti Wredha)
Panti wredha adalah tempat singgah atau tempat penampungan bagi kaum lanjut usia. Apabila kondisi kesehatan, status ekonomi atau kondisi lainnya tidak memungkinkan untuk melanjutkan hidup di rumah masing-masing dan apabila mereka tidak mempunyai anak yang dapat atau sanggup merawat mereka sebaiknya para lanjut usia diharapkan lanjut usia tinggal di lembaga tempat tinggal yang dirancang khusus untuk lanjut usia.
Beberapa keuntungan tinggal di dalam panti wredha antara lain : (1) terdapat kemungkinan untuk berhubungan dengan teman seusia yang mempunyai minat dan kemampuan yang sama, (2) kesempatan yang besar untuk dapat diterima secara temporer oleh teman seusia daripada orang yang lebih muda, (3) menghilangkan kesepian karena orang-orang yang berbeda dalam panti dapat dijadikan teman, (4) ada kesempatan untuk berprestasi berdasarkan prestasi di masa lalu kesempatan ini tidak mungkin terjadi dalam kelompok orang-orang muda.

2.9 Definisi Konseptual dan Operasional
1. Definisi Konseptual
a. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari apa yang diketahui seseorang dan terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap objek tertentu (Notoatmodjo,1993). Pengetahuan yang dicakup domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu : tahu (C1), kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu : tahu (C1), memahami (C2), aplikasi (C3), sintesis (C5) dan evaluasi (C6). (Notoatmodjo.2007).
b. Kebersihan Diri
Kebersihan diri adalah individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata telinga, kuku Kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy,1998).
c. Keluarga
Menurut Departemen kesehatan RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal dalam satu di satu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan

d. Lansia
Menurut Hardywinoto (2005), mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.
2. Definisi Operasional
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia adalah segala sesuatu yang diketahui keluarga tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi dan mulut, kulit,dan kuku tangan dan kaki. Adapun instrumen yang digunakan adalah dengan memakai kuesioner (angket) dan skala pengukuran ordinal, yang terdiri dari pengetahuan baik, cukup dan kurang. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga lansia tentang kebersihan diri digunakan adalah dengan memakai kuesioner (angket) dan skala pengukuran ordinal, yang terdiri dari pengetahuan baik, cukup dan kurang.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu keadaan objek yang diteliti (Arikunto, 2002).
Sedangkan menurut bentuk pelaksanaannya penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif yang merupakan penelitian dengan tujuan untuk menggambarkan keadaan atau suatu fenomena yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Arikunto, 2002).
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon

3.2 Variabel Penelitian
Varabel penelitian adalah suatu objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian (Arikunto, 2002). Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia.

Variabel Sub Variabel Definisi Alat Ukur Hasil ukur
Pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia 1) Kebersihan diri

Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri yang meliputi :
1. Definisi kebersihan diri
2. Tujuan kebersihan diri
3. Manfaat kebersihan diri
4. Akibat tidak memelihara kebersihan diri
5. Ruang lingkup kebersihan diri Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %
2) Kebersihan rambut Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap pentingnya kebersihan rambut yang meliputi :
1. Ciri dari rambut yang sehat
2. Ciri dari rambut yang tidak sehat
3. Frekuensi mencuci rambut Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %
3) Kebersihan mata Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap pentingnya kebersihan mata yang meliputi :
1. Ciri dari mata yang sehat
2. Akibat mata yang tidak bersih
3. Ciri dari mata yang tidak sehat Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %
4) Kebersihan telinga Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap pentingnya kebersihan telinga yang meliputi :
1. Akibat telinga tidak bersih
2. Ciri dari telinga yang sehat
3. Cara membersihkan telinga Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %
5) Kebersihan mulut dan gigi Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap pentingnya kebersihan mulut dan gigi yang meliputi :
1. Cara menyikat gigi yang baik
2. Akibat dari tidak menyikat gigi
3. Cara menjaga gigi agar tetap sehat dan bersih
4. Penyakit yang sering terjadi pada gigi Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %
6) Kebersihan kuku Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap pentingnya kebersihan kuku yang meliputi :
1. Manfaat dari memelihara kebersihan kuku
2. Akibat tidak membersihkan kuku
3. Cara memotong kuku Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %
7) Kebersihan kulit Sejauh mana pengetahuan keluarga terhadap
pentingnya kebersihan kulit yang meliputi :
1. Alasan membersihkan kulit
2. Cara memelihara kebersihan kulit
3. Jenis penyakit kulit yang disebabkan kulit tidak bersih Dengan menggunakan kuesioner Jumlah skor yang diperoleh pada
pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia. Dengan kriteria hasil :
– Baik %
– Cukup %
– Kurang %

3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002). Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti dan bukan objek atau subjek yang dipelajari saja, tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tertentu (Alimul, 2003).
Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki lansia dan masih tinggal bersama lansia yang berusia 60 tahun ke atas. Dan pada saat ini masih tercatat sebagai warga di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon tahun 2008. Pada penelitian ini menggunakan total populasi.
3.3.2 Kriteria Sampel
Adapun kriteria untuk menentukan layak tidaknya sampel agar sesuai dengan tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu target populasi dan terjangkau yang diteliti atau sampel yang diteliti. Kriteria inklusi dalam sampel ini adalah:
a. Semua keluarga yang tinggal dengan lansia
b. Semua keluarga yang tinggal dengan lansia yang bersedia menjadi responden
c. Semua keluarga yang tinggal bersama lansia berbeda
d. Keluarga yang memiliki lansia yang berusia 60 tahun ke atas
e. Keluarga yang tidak mengalami tuna rungu / wicara
f. Keluarga yang tidak mengalami dimensia
g. Keluarga yang tidak mengalami gangguan jiwa
h. Keluarga yang tidak mengalami gangguan kesadaran
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek dari penelitian karena berbagai sebab dengan kata lain tidak layak untuk diteliti atau memenuhi kriteria inklusi pada saat penelitian berlangsung (Sastroasmoro, 2002). Kriteria ekslusi dalam penelitian yang dilakukan adalah:
a. Pada pelaksanaan penelitian responden pindah tempat tinggal ke daerah lain.
b. Pada pelaksanaan penelitian responden sakit dan dirawat di rumah sakit.
c. Pada pelaksanaan penelitian responden tidak diizinkan oleh keluarga.
d. Lansia yang tidak bersedia menjadi responden penelitian.

3.4 Etika Penelitian
Dalam melalukan penelitian, peneliti mendapat perlu adanya rekomendasi dari institusi atas pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada institusi atau lembaga tempat penelitian setelah mendapatkan persetujuan barulah melalukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
1. Informed Concent (lembar pengesahan)
Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden peneliti dengan responden lembar persetujuan (informed concent). Lembar persetujuan ini diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed concent adalah agar responden mengerti maksud dan tujuan peneliti, mengetahui dampaknya, jika responden bersedia maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak responden.
2. Anomity (tanpa nama)
Kuesioner yang diberikan kepada responden tidak diberi identitas sehingga terjamin kerahasiaannya.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Dokumen yang mencantumkan identitas objek dan data yang berhubungan dengan penelitian hanya diketahui oleh peneliti dan pembimbing saja. Peneliti menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya, semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.

3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2002). Kuesioner mengukur tingkat pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri di desa Waled Kota kab. Cirebon. Setiap jawaban benar mendapat nilai 1 (satu) dan jawaban salah mendapat nilai 0 (nol). Setiap responden akan memperoleh nilai sesuai pedoman penelitian tersebut, kemudian nilai tersebut dipresentasikan dengan rumus :

Keterangan :
P : Presentase
X : Jumlah jawaban benar responden
N : Jumlah soal
Setelah ditabulasi selanjutnya ditafsirkan dengan kriteria objektif sebagai berikut :
77 % – 100 % = Baik

57 % – 76 % = Cukup
56 % = Kurang

3.6 Uji Coba Instrumen
Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui apakah instrumen yang disiapkan benar-benar mengukur hal yang ingin diukur (validitas) dan konsistennya atau keterandalannya baik.
3.6.1 Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan maksud agar terdapat kesesuaian antara instrumen dengan tujuan yang hendak diukur atau dicapai. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, dapat mengungkapkan kata dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2002).
Uji validitas ini dilakukan setiap item pernyataan dengan rumus korelasi product moment person dengan angka kasar :

Keterangan :
r : Koefisien validitas item yang dicari
x : Skor yang diperoleh subjek dari seluruh item.
y : Skor total yang diperoleh subjek dari seluruh item.
X : Jumlah skor dalam distribusi X
Y : Jumlah skor dalam distribusi Y
X2 : Jumlah kuadrat skor dalam distribusi X
Y2 : Jumlah kuadrat skor dalam distribusi Y.
n : Banyaknya responden
Rencana untuk uji validitas akan dilakukan di Desa Waled Kota Dusun Karyawan Kabupaten Cirebon
Mengukur Validitas
Alat ukur / instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah alat ukur yang telah melalui validitas dan reliabilitas data. Setelah itu dilakukan dengan menggunakan uji t dan lalu baru dilihat penafsiran dari indeks korelasinya (Aziz,2007).
Rumus : t

Keterangan :
t : Nilai t hitung
r : Koefisien korelasi r hitung
n : Jumlah responden
Untuk tabel tα = 0,005 derajat kebebasan (dk = n – 2)
Jika nilai t hitung > t tabel berarti valid demikian sebaliknya, jika nilai t hitungnya < t tabel berarti tidak valid, maka indeks korelasinya (r) adalah sebagai berikut :
0,800 – 1,000 : Sangat tinggi
0,600 – 0,799 : Tinggi
0,400 – 0,5999 : Cukup tinggi
0,200 – 0,399 : Rendah
0,000 – 0,199 : Sangat rendah (tidak valid)
Hasil validitas untuk kuesioner Gambaran Pengetahuan Keluarga Terhadap Kebersihan Diri Pada Lansia diperoleh r hitung antara 0.354-0.929. Berdasarkan hasil tersebut kuesioner Gambaran Pengetahuan Keluarga Terhadap Kebersihan Diri Pada Lansia dinyatakan valid.
Dari 26 item pertanyaan 2 item dinyatakan tidak valid karena berada di bawah 0.3. yaitu pertanyaan no 7 (kebersihan rambut) dengan skor nilai 0.141 dan pertanyaan no 23 (kebersihan kuku) dengan skor nilai 0.158. Kedua item pertanyaan tersebut tidak dipergunakan sehingga jumlah item pertanyaan menjadi 24 item pertanyaan.

3.6.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2002).
Adapun uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus alpha, yaitu suatu rumus yang dapat digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 tetapi skornya merupakan rancangan antara beberapa nilai (misal ; 0-10, 0-100 atau yang berbentuk skala 1-3, 1-5, atau 1-7 dan seterusnya) misalnya adalah angket atau kuesioner atau soal berbentuk uraian.
Rumus alpha adalah sebagai berikut :

(Arikunto, 2002)
Dengan keterangan :
R11 = Reliabilitas instrumen
K = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= Jumlah varians butir
= Varian total
Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai r hasil (alpha) lebih besar dari nilai r tabel. Jika nilai r hasil (alpha) lebih kecil dari nilai r tabel yaitu 0,514, maka instrumen dikatakan tidak reliabel (Sugiyono, 2005).
Hasil uji Reliabilitas untuk kuesioner Gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia diperoleh nilai r hitung (alpha) rentang nilai antara 0,667-0,934. Berdasarkan hasil tersebut kuesioner Gambaran Pengetahuan Keluarga Tentang Kebersihan Diri Pada Lansia tidak reliabel.
3.7 Pengolahan Data dan Analisa Data
Pada penelitian ini yang dimaksud dengan analisa data adalah proses pengurutan data, penyederhanaan data penelitian yang berjumlah sangat besar menjadi informasi yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca (Windu Purnomo, 2002) dikutip dari (Nursalam, 2003)
3.7.1 Mengukur Skala Pengetahuan
Kuesioner mengukur tingkat pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri di desa Waled Kota kab. Cirebon. Setiap jawaban benar mendapat nilai 1 (satu) dan jawaban salah mendapat nilai 0 (nol). Setiap responden akan memperoleh nilai sesuai pedoman penelitian tersebut, kemudian nilai tersebut dipresentasikan dengan rumus :

Keterangan :
P : Presentase
X : Jumlah jawaban benar responden
N : Jumlah soal
Setelah ditabulasi selanjutnya ditafsirkan dengan kriteria objektif sebagai berikut :
77 % – 100 % = Baik

57 % – 76 % = Cukup
56 % = Kurang
(Arikunto, 2000)
Selain tersebut di atas, hasil persentase dari pengolahan data kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan skala. (Arikunto, 1998)

3.7.2 Pengolahan Data
Pengolahan Data adalah suatu proses dalam memproses data ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-rumus tertentu (Hasan, 2002), langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut :
1. Editing (Pemeriksaan Data)
Editing adalah proses pengecekan/pengoreksian data yang telah di kumpulkan, karena kemungkinan data yang dimasukkan (raw data) / data terkumpul itu tidak logis dan meragukan. Tujuan editing adalah untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan di lapangan/bersifat koreksi.
2. Coding (Pemberian Kode)
Teknik ini dilakukan dengan memberikan tanda pada masing-masing jawaban dengan kode berupa angka, selanjutnya dimasukkan ke dalam lembar tabel kerja untuk memudahkan pengolahan.
Variabel independen yaitu pengetahuan dan sikap yang mencakup kebersihan rambut, mata, telinga, gigi dan mulut, kulit dan kuku tangan dan kaki. Dengan menggunakan kode jawaban baik skor 1 kemudian cukup skor 2 dan kurang skor 3.
3. Tabulating
Data dikelompokkan menurut kategori yang telah ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan dengan melakukan penentuan data, sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing variabel penelitian. Data kemudian dipindahkan ke dalam tabel-tabel yang sesuai dengan kriteria.

3.8 Prosedur Penelitian
Prosedur dalam penelitian ini meliputi :
1. Tahap Persiapan
a. Menyusun rancangan penelitian
b. Memilih lapangan penelitian.
c. Menyiapkan perlengkapan penelitian
2. Tahap Pelaksanaan
a. Mendapat izin penelitian
b. Mendapatkan persetujuan dari responden.
c. Melakukan pengolahan data dan analisa data.
d. Menyusun laporan.
3. Tahap Akhir
Sidang atau presentasi hasil penelitian

3.9 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.9.1 Lokasi Penelitian
Penelitian berencana akan melakukan penelitian di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.
3.9.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dan pengolahan data dilakukan pada tanggal 11 Mei sampai dengan 11 Juni 2008.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (1998) Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi. Jakarta : PT. Rineka Karya.

____________ .(2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi (V), Jakarta : Rineka Cipta.

____________. ( 2007). Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Karya.

Bondan, P. (2000). Ranah Penelitian Keperawatan Gerontik. Jakarta : http://www.inna-ppni.or.id. Diambil tanggal 12/3/2008

Effendy, N.(1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.

Hidayat, A. (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penelitian Ilmiah. Edisi II. Jakarta : Salemba Medika

Hardywinoto,(2005). Panduan Gerontologi. Jakarta : Gramedia.

Notoatmodjo, S. (1997). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo,S. (2007).Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta

Nugroho, N.( 2000). Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.

Nursalam. (2001). Konsep Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Potter, P. A; dan Perry, A, G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik. Edisi Keempat. Editor : Monica et al. Jakarta : EGC.
Setiadi.(2008). Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta :
Graha ilmu

Siburian, P. (2006). Bagaimana Cara Mengasuh dan Merawat Lansia. http://www.waspada.co.id. Diambil pada tanggal 29/03/2008

Sugiyono.( 2003). Metodologi Penelitian Administrasi. Jakarta : CV. Alfabeta.

_________. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.

_________. E.B. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Zainudin.(2002). Dalam Artikel Gangguan Psikologis & Perilaku Pada Demensia. 17 Juni 2002.

5 responses

  1. Andhy

    Assalamu’alaikum, Ijin copas ya

    4 April 2012 pukul 8:51 PM

  2. Assalamu’alaikum, IJIn Copas ya

    4 April 2012 pukul 8:46 PM

  3. Disini pulsa murah berada

    30 September 2011 pukul 10:01 PM

  4. kak knapa ambil judul tentanggg ini kak kemarenn

    23 September 2011 pukul 2:12 PM

  5. desi

    ini kapan di akses..kok gak da tertera ….

    13 Maret 2011 pukul 4:35 PM

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.