Lakukan Dengan fikiran

Gambaran Kejadian Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) merupakan parameter dari keadaan kesehatan, pelayanan kebidanan dan kesehatan mencerminkan keadaan sosial ekonomi dari suatu negara. Kemajuan dalam bidang sosial dan ekonomi umumnya mempunyai pengaruh terbaik terhadap parameter di atas.
Menurut kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumarjati Arjoso, jumlah kematian ibu melahirkan dan bayi saat kelahiran di Indonesia dinilai masih tinggi dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia Tenggara yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup (KH). Menurut Hertok Nurwahyu Saud (kepala BKKBN Jawa Barat) AKI di Jawa Barat mencapai 376 per 100.000 KH. dr Triwandha Elman (Kepala Dinas Kesehatan kota Bogor) mengatakan AKI di Bogor tercatat 373 per 100.000 KH. Sedangkan AKI yang diharapkan tahun 2010 adalah sebesar 125 per 100.000 KH.
Adapun faktor penyebab kematian ibu tersebut adalah perdarahan 42 %, eklampsia 13 % dan infeksi 10 % (Arjoso S, 2005). Infeksi pada ibu bisa terjadi pada masa antenatal, intranatal dan postnatal. Salah satu penyebab infeksi adalah infeksi pada masa nifas yang dapat terjadi karena pertolongan persalinan yang tidak bersih dan aman, partus lama, ketuban pecah dini atau sebelum waktunya dan sebagainya. Infeksi adalah masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh wanita hamil, apabila terjadi infeksi dalam rahim ini akan membahayakan ibu dan janin yang akan menyebabkan penyulit pada persalinan bahkan kematian (Prawirohardjo S, 1999).
Selain itu menurut Sumarjati Arjoso (ka. BKKBN nasional) AKI juga dapat disebabkan karena faktor 4 terlalu (terlalu muda saat melahirkan, terlalu tua saat melahirkan, terlalu sering melahirkan dan terlalu banyak anak) dan 3 terlambat (terlambat mengambil keputusan untuk memberikan pertolongan pada ibu hamil dan melahirkan, terlambat pengangkutan ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat memperoleh pertolongan tenaga medis). Menurut Hertok Nurwahyu Saud (kepala BKKBN jawa Barat) AKI juga dapat disebabkan karena persoalan pendidikan, kultur dan juga ekonomi sehingga banyak warga yang menikah pada usia muda.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban secara spontan sebelum adanya kontraksi uterus atau his. Ketuban pecah dini merupakan masalah obstetric yang cukup besar , salah satu yang menyertai yaitu prematuritas dan infeksi. Ketuban pecah dini disebabkan karena kurangnya kekuatan membran atau meningkatnya kekuatan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya mikroorganisme pathogen yang masuk ke dalam rahim yang berasal dari vagina dan serviks. Dalam penanganan ketuban pecah dini ini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi dan komplikasi pada ibu dan janin atau adanya tanda-tanda persalinan (Saifudin, 2002).
Pada ketuban pecah dini jalan lahir sudah terbuka sehingga tidak boleh terlalu sering diperiksa dalam karena pada ketuban pecah dini ini dapat terjadi infeksi intrapartum (pada ketuban pecah 6 jam resiko infeksi meningkat satu kali, ketuban pecah 24 jam resiko infeksi meningkat dua kali lipat) (Marjono A.B, 1999). Selain itu dapat dijumpai juga infksi puerperalis (nifas), peritonitis, septicemia dan partus kering atau dry labor (Mochtar, 1998). Resiko terjadinya infeksi sampai 65 %, jadi pada ketuban pecah dini harus segera dilakukan tindakan paling lama 2 x 24 jam setelah ketuban pecah ibu harus sudah partus (Marjono A.B, 1999),
Akibat dari ketuban pecah dini ini dapat menyebabkan ibu merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan tampak tanda-tanda infeksi. Hal tersebut di atas akan meningkatkan angka kematian dan angka morbiditas pada ibu. (Mochtar R, 1998). Ketuban pecah dini juga berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan, lamanya persalinan lebih pendek dari biasa yaitu pada primi 10 jam dan pada multi 6 jam. Menurut Eastman insidens ketuban pecah dini ini kira-kira 12 % dari semua kehamilan (Mochtar, 1998). Sedangkan kejadian ketuban pecah dini di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sebesar 17,7 % (Usman, 2003).
Di Rumah Sakit Salak Bogor ditemukan masalah ketuban pecah dini pada tahun 2004 sebesar 52 kasus (4,68 %) dari 1111 persalinan dan tahun 2005 168 kasus (14,63 %) dari 1148 persalinan. Dilihat dari data tahun 2004 dan tahun 2005 kejadian ketuban pecah dini di RS. Salak Bogor mengalami peningkatan sebesar 9,95 %.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Kejadian Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit

One response

  1. Dewi

    minta referensi buku tentang KPD dunk…
    trz low mw nyari tahu tentang persentase kejadian di dunia atau pun di suatu wilayah tentang KPD nyari dimana… minta webnya dunk…

    1 Desember 2011 pukul 4:08 PM

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.