Lakukan Dengan fikiran

Antenatal Care


 Antenatal Care

    1. 1.    Pengertian

Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.

Prenatal Care adalah pengawasan intensif sebelum kelahiran (Prawiroharjo. S, : 1999).

  1. 2.    ­Tujuan pemeriksaan dan pengawasan ibu hamil

Menurut Mochtar (1998) tujuan umum dari pemeriksaan kehamilan adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

Lebih lanjut Mochtar (1998) menjelaskan bahwa tujuan khusus pemeriksaan kehamilan adalah :

  1. Mengetahui umur kehamilan.
  2. Mengenali dan menangani penyulit atau komplikasi secara dini yang memungkinkan dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
  3. Menentukan diagnosis dan terapi terhadap penyulit atau komplikasi secara dini selama kehamilan.
  4. Menurunkan angka morbiditas ibu dan anak.
  5. Memberikan penyuluhan tentang pola hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kahamilan, persalinan, nifas dan laktasi.

 

  1. 3.    Langkah-langkah Asuhan Antenatal yang Efektif
  2. Asuhan diberikan oleh petugas yang terampil secara berkesinambungan.
  3. Persiapan persalinan serta persiapan komplikasi.
  4. Mempromosikan kesehatan dan pencegahan penyakit : tetanus, toksoid, suplemen gizi, konsumsi alkohol dan tembakau.
  5. Deteksi serta merawat penyakit yang diderita dan perawatannya pada HIV, Sifilis, TBC, Hipertensi, DM dll.
  6. Deteksi dini penatalaksanaan komplikasi secara dini (Saifudin A.B.: 2002).
    1. 4.    Jadwal Pemeriksaan Kehamilan

Ibu hamil sebaiknya dianjurkan untuk mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu ;

  1. Satu kali pada trismester pertama
  2. Satu kali pada trismester kedua
  3. Dua kali pada trismester ketiga

Pelayanan / asuhan standar minimal termasuk ”7T”

  1. (Timbang) berat bidan
  2. Ukur (Tekanan) darah
  3. Ukur (Tinggi) fundus uteri
  4. Pemberian imunisasi (Tetanus Toksoid) TT lengkap
  5. Pemberian tablet Zat Besi, minimum 90 tablet selama  kehamilan
  6. Tes terhadap Penyakit Menular Seksual
  7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan

 

Pelayanan/asuhan antenatal ini hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan profesional dan tidak dapat diberikan oleh dukun bayi (Saifudin A.B. : 2000).

  1. 5.    Komponen-komponen Asuhan Antenatal
    1. Data Subyektif

Anamnesis

Anamnesis pada asuhan antenatal bertujuan untuk mengetahui keadaan kesehatan dan keluhan yang dirasakan ibu. Kunjungan pertama merupakan kesempatan pertama untuk ibu merasa nyaman berbicara tentang dirinya.

Komponen-komponen dalam riwayat pada kunjungan antenatal pertama :

1)  Informasi biodata

Nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat ibu dan suami.

2)  Riwayat kehamilan sekarang :

a)  HPHT dan apakah normal dan dapat menentukan taksiran persalinan.

b)  Gerakan janin (kapan mulai dirasakan dan apakah ada perubahan yang terjadi).

c)  Keluhan pertama : kebutuhan yang dirasakan oleh ibu.

3)  Riwayat haid

a)  Menarche/pertama kali mendapatkan haid pada umur berapa.

b)  Keteraturan siklus terdiri dari

(1)   lamanya haid.

(2)   panjang-lamanya haid.

(3)   banyaknya atau jumlah haid dalam satu siklus.

(4)   adanya dismenorhoe.

4)  Riwayat Kehamilan / persalinan sebelumnya

a)  Jumlah kehamilan, anak yang lahir hidup, persalinan aterm, persalinan premature, keguguran atau kagagalan kehamilan, persalinan dengan tindakan (forcep, vakum, atau operasi SC).

b)  Riwayat perdarahan pada kehamilan, persalinan atau nifas sebelumnya.

c)  Hipertensi disebabkan kahamilan pada kehamilan sebelumnya.

d)  Perinci keadaan anak yang dilahirkan : jenis kelamin, berat badan, dan panjang lahir, ketika lahir apakah spontan atau tidak, aterm atau tidak, letak normal atau letak sungsang, jika letak normalbagaimana presentasinya, bagaimana keadaan sekarang dan berapa usianya.

e)  Ketika ibu melahirkan anak tersebut apakah terjadi perdarahan, bagaimana pengeluaran plasenta dan bagaimana pada nifasnya.

f)   Adakah penyakit atau tindakan yang menyertai kehamilan dan persalinannya terdahulu seperti hiperemesis, preeklampsi, perdarahan antepartum, perdarahan postpartum, penggunaan alat-alat obstsric, seksio sesarea.

5)   Adakah penyakit sistemik seperti jantung, paru, ginjal, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit kelamin.

6)   Riwayat penyakit keluarga seperti : epilepsy, asthma, hipertensi, DM.

7)   Riwayat kehamilan sekarang :

a) Menanyakan hari pertama haid terakhir. Hal ini digunakan untuk menghitung taksiran persalinan dan usia kahamilan.

b) Pemeriksaan antenatal:

Pertama kali digunakan pada usia kehamilan berapa, berapa kali dilakukannya, siapa yang melakukan ANC, pernah minum obat apa saja. Nasihat apa yang pernah diterima, kapan merasakan gerakan janin pertama kali.

c)  Komplikasi kehamilan sekarang seperti : pusing, DM, infeksi virus, bakteri, protozoa dan penyakit kelamin.

d)  Penggunaan alat kontrasepsi sebelum kehamilan yang sekarang.

  1. Data Obyektif

1)    Pemeriksaan Fisik

a)  Tanda-tanda vital : mengukur tinggi dan berat badan, mengukur tekanan darah : tensi pada orang hamil tidak boleh mencapai 140 mmHg sistolik atau 100 mmHg diastolic, nadi dan suhu.

b)  Kepala dan leher.

c)  Memeriksa apakah terdapat edema pada wajah.

d)  Memeriksa apakah mata : pucat pada kelopak mata bagian bawah, berwarna kuning pada sclera.

e)  Memeriksa apakah rahang pucat dan memeriksa gigi.

f)   Memeriksa dan meraba leher untuk mengetahui : pembesaran kelenjar tiroid dan pembesaran pembulu limfe.

g)  Payudara

(1) Bentuk, ukuran dan kesimetrisan.

(2) Puting payudara menonjol atau masuk kedalam.

(3) Adanya kolostrum atau cairan lain.

(4) Retraksi atau dimpling.

(5) Masa atau pembesaran pembuluh limfe.

h)  Abdomen

(1) Memeriksa apakah ada bekas luka operasi.

(2) Mengukur tinggi fundus uteri menggunakan tangan bila usia kahamilan > 12 minggu, atau pita ukuran bila > 22 minggu.

(3) Melakukan palpasi untuk mengetahui letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala janin.

(4) Menghitung denyut jantung janin dengan stetoskop bila > 18 minggu.

Leopold I :

(a) Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil.

(b) Menentukan tinggi fundus uteri.

(c) Mengetahui bagian apa yang ada di fundus.

(d) Konsistensi uterus.

(e) Menentukan letak kepala atau bokong satu tangan di fundus dan tangan yang lain di simfisis.

Leopold II :

(a) Menentukan bagian posisi janin terhadap ibu.

(b) Menentukan letak punggung janin.

(c) pada letak lintang, tentukan dimana kepala janin.

Variasi menurut Budin :

Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan fundus.

Leopold III :

(a) Menentukan bagian terendah janin.

(b) Apakah bagian terendah tersebut sudah masuk pintu atas panggul atau belum.

Leopold IV :

(a) Pemeriksa menghadap kearah kaki ibu hamil.

(b) Seberapa jauh bagian bawah janin sudah masuk pintu atas panggul.

(c) Bila > 18 minggu :

Usia kehamilan

Tinggi Fundus

  Dalam Cm Menggunakan Penunjuk-penunjuk Badan
12 minggu

-

Hanya teraba di atas simfisis pubis
16 minggu

-

Ditengah antara simpilis pubis dan umbilikus
20 minggu 20 cm  (± 2 cm) Pada umbilikus
22-27 minggu Usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm)

-

28 minggu 28 cm (± 2 cm) Di tengah antara umbilicus dan prosesus sifoedeus
29-35 minggu Usia kehamilan dalam minggu = cm (± 2 cm)

-

36 minggu 36 cm (± 2 cm) Pada prosesus sifoedus

 

i)   Tangan dan kaki

Memeriksa apakah tangan dan kaki edema atau pucat pada kuku jari.

Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui adanya varices.

Memeriksa reflek patella untuk melihat apakah terjadi gerakan hipo atau hiper.

j)   Panggul : Genital luar

(1)  Memeriksa labia mayora dan minora, kemudian klitoris, lubang uretra dan introitus vagina untuk melihat adanya tukak atau luka, varices, cairan (warna, konsistensi, jumlah, bau).

(2)  Melakukan palpasi pada kelenjar bartholini untuk mengetahui adanya pembengkakan atau masa atau cairan kista.

k)  Panggul : Menggunakan speculum

(1) Memeriksa servik untuk melihat adanya cairan atau darah, luka /lesi, apakah servik sudah membuka atau belum.

(2) Memeriksa dinding vagina untuk melihat adanya cairan atau darah dan luka.

l)   Panggul : pemeriksaan bimanual

(1) Mencari letak servik dan merasakan untuk pembikaan (dilatasi) dan nyeri karena gerakan (Nyeri tekan atau nyeri goyang).

(2) Menggunakan dua tangan diatas abdomen, dua jari didalam vagina untuk palpasi uterus: ukura, bentuk dan posisi, mordibilitas, rasa nyeri dan masa.

2)  Data penunjang

Pemeriksaan Haemoglobin

Alat yang digunakan :

(1) Haemoglobinometer Sahli-Hellige

(2) HCL  0,1 N.

(3) Aquadest.

(4) Blood lanchet.

Pelaksanaan :

(1) Isilah tabung sahli dengan tetes HCL 0,1 N.

(2) Tusuk ujung jari dengan jarum yang steril, bersihkan darah pertama yang keluar dengan kapas kering tekan jari supaya darah mencapai garis biru pada tabung (Tube) atau 22 mm.

(3) Gunakan pipet untuk menghisap darah mencapai garis biru pada ujung.

Pemeriksaan Protein Urine

Alat yang digunakan :

(1) Reagen bang.

(2) Tabung reaksi.

(3) Pemanas air.

Pelaksanaan :

(1) Masukkan 2 ml urine kedalam tabung reaksi.

(2) Tambahkan 2 tetes Reagen bang kemudian campurkan.

(3) Panaskan di dalam air mendidih selama 5 menit.

Hasil :

(1) Jernih                                :    (-)

(2) Terdapat kekeruhan         :    (+) / < 10 mg %

(3) Terdapat sedikit butiran    :    (+) / 10-15 mg %

(4) Terdapat banyak butiran :    (++) / 50-200 mg %

(5) Terdapat lempengan        :    (+++) / 200-500 mg %

(6) Menggumpal                    :    (++++) / > 500 mg %

Pemeriksaan Glukosa

Alat yang digunakan :

(1) Reagen Benedict.

(2) Tabung Reaksi.

(3) Penangas ais.

Pelaksanaan :

(1) Masukkan 4ml reagen benedict ketabung reaksi.

(2) Tambahkan 8 tetes urine, kemudian campurkan.

(3) Panaskan kedalam air mendidih selama 2-3 menit.

  1. Assesment / Diagnosa

Kehamilan Normal

Setelah pemeriksaan selesai selanjutnya menentukan diagnosa. Akan tetapi pada pemeriksaan kehamilan ini tidak cukup hanya membuat diagnosa kehamilan saja tapi kita harus bisa menjawab pertanyaan sebagai berikut :

1)   Hamil atau tidak

Tanda-tanda kehamilan dibagi 2 golongan :

a)   Tanda-tanda pasti, meliputi : terdengar bunyi jantung anak, melihat, meraba atau mendengar pergerakan anak oleh pemeriksa dan melihat rangka janin dengan sinar ro.

b)   Tanda-tanda mungkin, meliputi

(1)  Pembesaran, perubahan an konsistensi rahim.

(2)  Perubahan pada servik.

(3)  Kontraksi brokston hicks.

(4)  Ballottement.

(5)  Meraba bagian anak.

(6)  Pemeriksaan biologis.

(7)  pembesaran perut.

(8)  Keluarnya kolostrum.

(9)  Hyperpigmentasi.

(10)  Tanda Chadwick.

(11)  Adanya amenorhoe.

(12)  Mual dan muntah.

(13)  Ibu merasakan pergerakan janin.

(14)  Sering kencing.

(15)  Perasaan dada berisi dan agak nyeri.

2)    Primi atau multi gravida

Primigravida yaitu wanita yang pertama kali hamil.

Multi gravida yaitu wanita yang sudah beberapa kali hamil.

2)   Tuanya kehamilan

Tuanya kehamilan dapat diduga dari :

a)  Lamanya amenorhoe.

b)  Dari tingginya fundus uteri.

c)  Dari besarnya anak terutama dari besarnya kepala anak yang kedua.

d)  Dari saat mulainya terasa pergerakan anak.

e)  Dari saat mulainya terdengar bunyi jantung anak.

3)  Tanda-tanda kematian anak dalam rahim

a)  Bunyi jantung anak tidak terdengar lagi.

b)  Rahim tidak membesar malahan fundus menurun.

c)  Palpasi anak menjadi kurang jelas.

d)  Ibu tidak merasakan lagi pergerakan janin.

e)  Anak tunggal atau kembar.

f)   Letak janin dalam rahim.

4)  Pemberian pelayanan sesuai dengan kebutuhan

Setelah ibu selesai diperiksa, tanyakan apakah ia ingin menanyakan sesuatu, bila tidak ada yang ditanyakan tentukan masalah dan kebutuhan ibu akan pelayanan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dengan penilaian tersebut dapat disusun secara bersama antara bidan dan ibu hamil tenteng perawatan kehamilan dan rencana persalinan.

Pelayanan yang dapat diberikan bidan selama asuhan antenatal antara lain:

1)  Pendidikan kesehatan

a)  Memberitahukan kepada ibu hasil penemuan pada pemeriksaan.

b)  Menghitung usia kehamilan.

c)  Mengajari ibu tentang ketidak nyamanan yang mungkin dialami ibu.

d)  Sesuai dengan usia kehamilan, Mengajari ibu mengenal :

(1)   Nutrisi, kalori yang dibutuhkan selama kehamilan adalah 300 kalori.

Kenaikan BB :

  • Berdasarkan BMI (Body Mass Index) :

-  Underweight < 19,8 kg / m2

-  Normoweight 19,8 – 26 kg / m2

-  Over weight > 26 kg / m

  • Kenaikan berat badan yang dibutuhkan selama kehamilan.

-  Underweight   : 12,5 – 18 kg

-  Normoweight  : 11,5 – 16 kg

-  Over weight    : 7 – 11,5

(2)   Olahraga ringan

Kegiatan olahraga pada ibu hamil tidak perlu dibatasi, tetapi tidak terlalu berat dan tidak beresiko untuk ibu dan fetus, latihan olahraga dapat meningkatkan O2 consumtion, heart rate, stroke volume dan cardiac output.

(3)   Istirahat

Ibu hamil perlu istirahat paling sedikit satu jam pada siang hari dengan posisi kaki lebih tinggi dari tubuhnya. Tidur, istirahat dan santai sangat bermanfaat bagi ibu hamil agar tetap kuat dan tidak mudah terkena penyakit.

(4)   Kebersihan

(5)   Pemberian ASI

(6)   KB pasca salin

(7)   Tanda-tanda bahaya

(8)   Aktifitas seksual

Aktivitas seksual selama kehamilan tidak perlu dibatasi selama tidak beresiko abortus / Persalinan premature.

(9)   Kegiatan sehari-hari dan pekerjaan

(10)  Obat-obatan dan merokok

(11)  Body mekanik

(12)  Pakaian dan sepatu

2)  Promosi kesehatan

a)  Memberikan imunisasi TT jika diperlulkan.

b)  Memberikan suplemen zat besi dan menjelaskan bagaimana cara mengkonsumsinya dan kemungkinan efek samping.

c)  Memberikan tambahan vitamin A jika diperlukan.

3)   Persiapan persalinan dan kesiagaan komplikasi

a)  Mulai membicarakan mengenai persiapan persalinan.

b)  Siapa yang akan membantu pada saat persalinan.

c)  Tempat melahirkan.

d)  Peralatan yang dibutuhkan ibu dan bayi.

e)  Persiapan keuangan.

f)   Mengawali membicarakan mengenai persiapan persalinan dan komplikasi kegawatdaruratan :

(1) Sarana transportasi.

(2) Persiapan biaya.

(3) Pembuatan keputusan dalam keluarga.

 

6.   Nasihat-nasihat Untuk Ibu Hamil

  1. Makanan (Diet) ibu hamil

Wanita hamil dan menyusui harus betul-betul mendapat perhatian susunan dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat menyebakan anemia, abortus, partus prematurus, intertia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis pueperalis dan lain-lain. Sedangkan makanan berlebih, karena dianggap untuk dua orang, yaitu ibu dan janin dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, preeklampsia, janin besar dan sebagainya.

Zat-zat yang diperlukan : protein, karbohidrat, fosfor dan zat besi (FE), vitamin dan air. Makanan yang diperlukan antara lain untuk janin, plasenta, uterus, buah dada dan kenaikan metabolisme.

  1. Merokok

Bayi dari ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil atau mudah mengalami   abortus dan partus premature, karena itu ibu hamil dilarang merokok.

  1. Obat-obatan

Prinsip: jika memungkinkan dihindari pemakain obat-obatan selama kehamilan terutama dalam trimester I perlu diprtanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahaya terhadap janin, oleh karena itu harus dipertimbangkan efektifitas dan efek sampingnya. Sebaiknya memakai obat dengan resepbidan atau dokter.

  1. Gerakan Badan

Kegunaannya: Sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyeyak. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari karena udara masih segar. Gerakan badan ditempat.

  1. Kerja

1)      Boleh bekerja seperti biasa.

2)      Cukup istirahat dan makan teratur.

3)      Pemeriksaan hamil yang teratur.

  1. Bepergian

1)      Jangan terlalu lama dan melelahkan.

2)      Duduk lama statis vena (vena staganis) menyebabkan                    trombofeblitis dan kaki bengkak.

  1. Pakaian

1)    Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada kaitan yang       ketat pada daerah perut.

2)    Pakailah Bra yang menyokong payudara.

3)    Memakai sepatu yang tumitnya tidak terlalu tinggi.

4)    Pakaian dalam selalu bersih.

  1. Istirahat dan Rekreasi

Wanita pekerja harus sering istirahat, tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan +1-2 jam.

  1. Mandi

Mandi diperlukan untuk kebersihan / hygiene. Terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut / ringan.

  1. Koitus

Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada riwayat :

1)    Sering abortus.

2)    Perdarahan parvaginam.

3)    Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati.

4)    Bila ketuban pecah koitus, dilarang.

5)    Infeksi.

  1. Kesehatan Jiwa

Kehamilan dan persalinan adalah sesuatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu yang tidak tenagng, merasa khawatir akan hal ini. Untuk itu bidan harus dapat menanamkan kepercayaan kepada ibu hamil dan menerangkan apa yang harus diketahuinya karena kebodohan, rasa takut dan sebagainya dapat menyebabkan rasa sakit pada saat persalinan, ini akan mengganggu jalannya partus, ibu akan menjadi lebih lelah dan kekuatan hilang. Untuk menghilangkan rasa cemas harus ditanamkan kerjasama pasien-penolong.

  1. Perawatan Payudara

Buah dada merupakan sumber air susu ibu yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat.

Untuk mencegah putting susu kering dan mudah pecah, maka putting susu dan areola payudara dirawat baik-baik dengan membersihkan menggunakan Baby oil. Bila putting susu masuk kedalam, hal ini diperbaiki dengan jalan menarik keluar atau dengan cara hoftman.

7.    Resiko Kehamilan dan Kegawatdaruratan Obstetrik

a.  Kelainan Lamanya Kehamilan

1)    Abortus; keadaan putusnya kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu. (Eastman)

Abortus dapat dibagi menjadi 2 golongan :

(a)  Abortus spontan, yaitu abortus yang terjadi denga tidak didahului factor-factor mekanis ataupau medisinalis, semata-mata disebabkan oleh factor-factor ilmiah. Abortus ini dibagi menjadin 7 antara lain :

(1) Abortus komplitus  (keguguran lengkap) artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus) sehingga rongga rahim kosong.

(2) Abortus Inkomplitus (keguguran bersisa) artinya hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.

(3) Abortus Insipiens (keguguran yang sedang berlangsung) artinya abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba dan kehamilan ini tidak dapat dipertahankan lagi.

(4) Abortus Iminiens (keguguran membakat) artinya keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obatan hormonal dan antispasmodika serta istirahat

(5) Missed Abortion artinya keadaan dimana janin sudah mati tapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.

(6) Abortus habitualis (keguguran berulang) artinya keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turutv3 kali atau lebih.

(7) Abortus Infeksiosus artinya kegugurn yang disertai infeksi genital dan abortus septic artinya keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.

(b) Abortus provokatus (Induced Abortion)

Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini terbagi menjadi :

(1) Abortus medisinalis (abortus therapeutica) adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (beerdasarka indikasi).

(2) Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

(3) Partus Prematurus

Yaitu kehamilan 28-37 minggu, berat badan lahir 1000-2500 gram. Kelahiran bayi remature merupakan penyebab utama dari kematian neonatal yaitu kira-kira 50% dari seluruh kematian bayi.

Faktor yang mempengaruhi prematuritas :

(a)    Umur ibu, suku bangsa, sosial ekonomi.

(b)    Bakteriuria (Infeksi saluran kencing).

(c)    BB ibu sebelum hamil dan waktu hamil.

(d)    Kawin dan tidak kawin.

(e)    Antenatal care.

(f)     Anemia, penyakit jantung.

(g)    Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil.

(h)    Jarak antara persalinan yang terlalu cepat.

(4) Partus Serotinus

Yaitu persalinan setalah kehamilan 42 minggu atau lebih. Tanda-tanda serotinus antara lain :tidak ada lanugo, kuku panjang, rambut kepala banyak, kulitv keriput, kadang-kadang anak agak kurus, air ketuban sedikit dan mengandung mekonium.

Bahaya yang mungkin terjadi :

(a)    Kemungkinan kematian anak dalam rahim bertambah.

(b)    Besarnya anak yang berlebih dapat menimbulkan kesukaran persalinan sebaliknya anak dapat kecil disebabkan penurunan fungsi plasenta.

(c)    Kelainan letak kehamilan.

b.  Kehamilan Tuba

Dinding tuba merupakan lapisan luar dan kapsularis yang merupakan lapisan dalam dari hasil konsepsi, karena tuba tidak dan bukan merupakan tempat normal bagi kehamiln maka sebagian besar kehamilan tuba akan terganggu pada umur 6-10 minggu dan nasib dari hasil konsepsi bisa :

1)    Mati dan kemudian diresorbsi.

2)    Terjadi abortus tuba, ibu mengalami keguguran dan hasil konsepsi terlepas dari diding tuba kemudian terjadi perdahan yang banyak.

3)    Terjadi rupture tuba. Bila robekan kecil maka hasil konsepsi tetap tinggal dalam tuba, sedangkan dari robekan trjadi perdarahan yang banyak.

c.  Kehamilan Ovarial

Perdarahan pada ovarium ini dapat disebabkan bukan saja olehn kehamilan ovarium, tetapi bisa oleh rupture kista korpus luteum, torsi dan endometriosis. Gejala-gejalanya hampir sama dengan kehamilan tuba.

d. Kehamian aabdominal

Menurut cara terjadinya bisa dibagi menjadi pri mer yaitu implantasi tejadinya sesudah dibuahi

e. Syok pada kehamilan

Syok: keadaan akut berkurangnta perpusi jaringan dengan darah  akibat gangguan pada sirkulasi mikro

f.   Perdarahan antepartum tua

1)    Plasenta Previa  adalah keadaan diman plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Osteum uteri internal). Pengaruh plasenta previa terhadap partu menjadi patologi, sering dijumpai insersi primer, perdarahan.

2)    Solusio Plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir.

Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu. Menurut derajat lepasnya plasenta dibagi menjadi dua :

a)    Solusio plasenta parsialis nyaitu bila hanya sebagin plasenta terlepas dari tempat perlekatannya.

b)    Solusio plasenta totalis yaitu bila seluruh plasent aterlepas dari perlekatannya.

B.   Intranatal Care

  1. 1.    Pengertian

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Depkes, 2004).

  1. 2.    Tujuan Asuhan Persalinan

Tujuan asuhan persalinan ialah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.

3.    Tanda-tanda Mulainya Persalinan

  1. Kontraksi Braxton Hicks pada saat uterus yang teregang dan mudah dirangsang itu menimbulkan distensi abdomen sehingga dinding abdomen menjadi lebih tipis dan kulit menjadi lebih peka terhadap rangsangan.
  2. His/kontraksi. Kontraksi uterus yang terjadi secara teratur dan menimbulkan ketidaknyamanan serta kadang-kadang nyeri dan merupakan tanda persalinan yang sebenarnya jika his tersebut berlanjut terus dan semakin meningkat frekuensinya.
  3. Show. Keadaan terlihatnya mukus atau lendir (biasanya bercampur dengan bercak darah) yang keluar dari vaginan. Mukus berasal dari serviks dan kemunculannya menunjukkan uterus sudah mulai beradaptasi (Farrer, 1999).

Tanda dan gejala inpartu :

  1. Penipisan dan pembukaaan serviks
  2. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks
  3. Keluarnya lendir campur darah (”show”) melalui vagina
    1. 4.    Tanda-tanda Bahaya Persalinan

Tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada saat persalinan diantaranya adalah :

  1. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak mulai terasa mules
  2. Perdarahan sebelum kelahiran dan setelah bayi lahir
  3. Air ketuban berbau busuk atau berwarna keruh
  4. Tali pusat atau anggota badan bayi keluar lebih dulu
  5. Ibu tidak kuat mengejan
  6. Ibu kejang-kejang
  7. 5.    Pembagian Kala Persalinan

Persalinan dibagi dalam 4 kala yaitu:

  1. Kala I Persalinan

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala I dibagi menjadi dua fase, yaitu :

1)      Fase laten persalinan

a)    Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisn dan pembukaan serviks secara bertahap.

b)    Pembukaan serviks kurang dari 4 cm

c)    Biasanya berlangsung dibawah hingga 8 jam

2)      Fase aktif persalinan

a)    Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih

b)    Serviks membuka dari 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm)

c)    Terjadi penurunan bagiaan  terbawah janin

Asuhan sayang ibu selama kala I persalinan :

a)    Memberikan dukungan emosional

b)    Membantu pengaturan posisi

c)    Memberikn cairan dan nutrisi

d)    memperbolehkan suami atau keluarga untuk menemani ibu

e)    mengajarkan ibu teknik bernafas untuk mengurangi rasa nyeri

f)     menjaga privasi ibu dalam persalinan

g)    menganjurkan untuk berkemih sesering mungkin

  1. Kala II Persalinan

Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.

Tanda dan gejala kala II persalinan:

1)    Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi

2)    Ibu merasakan makin meningkatnmya tekanan pada rektum dan/atau vaginanya.

3)    Perineum terlihat mwenonjol

4)    Vulva vagina dan sfingter ani terlihat membuka

5)    Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

Diagnosis pasti kala II:

1)    Pembukaan serviks lengkap (10 cm)

2)    Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina

Asuhan pada kala II persalinan:

1)    Memberikan dukungan terus menerus pada ibu

2)    Memberikan kenyamanan pada ibu

3)    Mengatur posisi ibu

4)    Menjaga kandung kemih tetap kosong

5)    Memberikan nutrisi dan hidrasi

Posisi ibu saat meneran

Membantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman baginya. Ibu dapat berganti poisisi secara teratur selama kala II persalinan karena hal ini seringkali mempercepat proses persalinan.

Beberapa posisi ibu saat meneran :

1)    Posisi duduk atau setengah duduk sering kali nyaman bagi ibu dan ia bisa beristirahat dengan mudah diantara konraksi jika merasa lelah.

2)    Jongkok atau berdiri dapat membantu mempercepat kemajuan kala II persalinan dan mengurangi rasa nyeri yang hebat.

3)    Merangkak seringkali merupakan posisi yang baik bagi ibu yang mengalami nyeri punggung saat persalinan.

4)    berbaring miring ke kiri sering kali merupakan posisi yang baik bagi ibu jika kelelahan karena ibu bisa beristirahat dengan mudah diantara kontraksi dan juga bisa membantu mencegah laserasi perineum.

  1. Kala III Persalinan

Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.

1)    Fisiologi Kala III persalinan:

Pada kala III persalinan, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba-tiba setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta. Karena tempat implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tiodak berubah, maka plasenta akan mewnekuk, menebal, kemudian dilepaskan dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian ats vagina.

2)    Tanda-tanda pelepasan plasenta:

a)    Perubahan bentuk dan tinggi fundus

b)    Tali pusat memanjangSemburan darah tiba-tiba

3)    Manajemen aktif kala III

Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkankontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kla III persalinan dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.

Manajemen kala III terdiri atas 3 langkah utama:

a)    Pemberian suntikan oksitosin

b)    Melakukan penegangan tali pusat terkendali

c)    Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (massase)

  1. Kala IV Persalinan

Dimulai saat lahirnya lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum. Dua jam setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa karena ibu telah melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar. Petugas/bidan harus tinggal bersama ibu dan bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil dan mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi.

Asuhan pada kala IV:

1)    Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua.

2)    Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua.

3)    Anjurkan minum untuk mencegah dehidrasi dan menawarkan makanan dan minuman yang ia sukai.

4)    Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering.

5)    Biarkan ibu beristirahat dan bantu ibu dalam posisi yang nyaman

6)    Biarkan bayi bersama ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi serta anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya.

7)    Anjurkan ibu untuk melakukan ambulasi dini

8)    Mengajarkan ibu dan keluarga melakukan massase fundus uterus serta memberitahu tentang tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayinya.

  1. 6.    Penggunaan Partograf:

Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:

  1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam
  2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama

Pencatatan selama fase laten persalinan:

  1. Denyut jantung janin : setiap ½ jam
  2. Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus : setiap ½ jam
  3. Nadi: setipa ½ jam
  4. Pembukaan serviks:setiap 4 jam
  5. Penurunan: setiap 4 jam
  6. Tekanan darah dan temperatur tubuh:setiap 4 jam
  7. Produksi urin, aseton dan protein: setiap 2-4 jam

 

 

Pencatatan selama fase aktif persalinan : Partograf

Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif persalinan, termasuk:

  1. Informasi tentang ibu:

1)    nama, umur

2)    gravida, para, abortus

3)    nomor catatan medis/nomor puskesmas

4)    tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika dirumah, tanggal dan waktu penolong persalinan mulai merawat ibu)

5)    waktu pecahnya selaput ketuban

  1. Kondisi janin

1)    DJJ

2)    Warna dan adanya air ketuban

3)    Penyusupan (molase) kepala janin

  1. Kemajuan persalinan

1)    pembukaan serviks

2)    penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin

3)    garis waspada dan garis bertindak

  1. Jam dan waktu

1)    Waktu mulainya fase aktif persalinan

2)    Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian

  1. Kontraksi uterus

frekuensi dan lamanya

 

  1. Obat-obatan dan cairan yang diberikan

1)    Oksitosin

2)    obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan

  1. Kondisi ibu

1)    nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh

2)    urin (volume, aseton atau protein)

  1. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

Pencatatan pad lembar belakang partograf

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan, serta tindakan-tindakn yang dilakukan sejak persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir).

  1. C.   Post  Partum
    1. 1.    Definisi

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Masa nifas dibagi dalam 3 periode:

  1. Immediate puerperium

Adalah keadaan yang terjadi segera estela persalinan sampai 24 jam sesudah persalinan (0-24 jam sesudah melahirkan)

  1. Early puerperium

Adalah keadaan yang terjadi pada permulaan puerperium. Waktu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari (1 minggu pertama)

  1. Late puerperium

Adalah minggu sesudah melahirkan sampai 6 minggu.

  1. 2.    Tujuan asuhan masa nifas:
    1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis
    2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibi maupun bayinya
    3. Memberikan pedidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat
    4. Memberikan pelayanan keluarga berencana
    5. 3.    Perubahan-perubahan pada masa nifas
      1. Uterus

Tabel tinggi fundus dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi

Tinggi fundus uterus

Berat uterus

Bayi lahir

Uri lahir

1 minggu

2 minggu

6 minggu

8 minggu

Setinggi pusat

2 jari bawah pusat

Pertengahan pusat-simfisis

Tidak teraba diatas simfisis

Bertambah kecil

Sebesar normal

1000 gram

750 gram

500 gram

350 gram

50 gram

30 gram

  1. Bekas implantasi uri

Placenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu keenam 2,4 cm, dan akhirnya pulih.

 

  1. Luka-luka

Luka-luka pada jalan lahir bila tidak diserti infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.

  1. Rasa sakit

Rasa sakit yang disebut after pains disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obat antisakit dan nti mules.

  1. Lochia

Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.

1)    Lochia rubra (cruenta) : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidu, verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum, selama 1-3  hari pasca persalinan

2)    Lochia sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca persalinan

3)    Lochi serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan

4)    Lochia alba : cairan putih, setelah 2 minggu

  1. Serviks

Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rhim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilaluyi 1 jari.

  1. Ligamen-ligamen

Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum rotundum menjadi kendor. Untuk memulihkannya kembali sebaiknya dengan lattihan-latihann gan gimnastik pascapersalinan.

  1. 4.    Program dan kebijakan teknis

Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.

 

Kunjungan

Waktu

Tujuan

1 6-8 jam setelah persalinan
  • Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
  • Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan
  • Memberikan konmseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
  • Pemberian ASI awal
  • Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
  • Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia
2 6 hari setelah persalinan
  • Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
  • Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
  • Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat
  • Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
  • Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pda bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehaari-hari
3 2 minggu setelah persalinan
  • Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
  • Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
  • Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirhat
  • Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
  • Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pda bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehaari-hari
4 6 minggu setelah persalinan
  • Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau ibu alami
  • Memberikan konseling untuk KB secara dini

 

  1. 5.    Nasihat-nasihat Ibu Postpartum
  2. Mobilisasi

Karena lelah sehabis bersalin ibu harus istirahat, tidur telentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.

  1. Diet

Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayurn dan buah-buahan. Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, minum sdikitnya 3 liter setiap hari, dan pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca salin.

  1. Miksi

Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi m. Sfingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama peersalinan. Bila kandung kemih penuh dan sulit kencing, senaiknya dilakukan kateterisasi.

  1. Defekasi

Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasc salin. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obt laksans per oral tau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.

  1. Kebersihan diri

Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, mangajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, anjurkan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya, kemudian untuk membersihkan daerah vulva arahnya dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus, manyarankan ibu untuk ganti pembalut sesering mungkin, dan jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.

  1. Perawatan payudara

1)    menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu

2)    menggunakan BH yang menyokong payudara

3)    mengoleskan kolostrum atau ASI untuk menghindari lecet pada puting

4)    apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam tapi asi tetap dikeluarkan dan beri parasetamol untuk menghilangkan rasa nyeri

5)    apabila payudara bengkak akibat bensdungan ASI, lakukan pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit, urut payudara dari arah pangkal menuju puting, keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susumenjadi lunak, susukan bayi setiap 2-3 jam, dan letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.

  1. Laktasi

Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (atau setidaknya 10-12 kali dalam 24 jam) dalam 2 minggu pasca salin. Jika bayi dibiarkan tidur lebih dari 3-4 jam, atau bayi diberi jenis makanan lain, atau payudara tidak dikosongkan dengan baik tiap kali menyusui, maka ”pesan hormonal” yang diterima otak ibu adalah untuk ”manghasilkan susu lebih sedikit”.

  1. Keluarga Berencana

Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaiman mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan krluarganya dan mengajarkan mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu sudah haid lagi.

  1. 6.    Tanda-tanda Bahaya Pada Masa Nifas
    1. Perdarhan pervaginam
    2. Pembengkakan pada wajah maupun ekstremitas
    3. Sakit kepala yang hebat dan penglihatan kabur
    4. Payudara merah, panas dan nyeri
    5. Demam
    6. Lochea yang berbau
    7. Sakit dan panas waktu buang air kecil
    8. Rasa sakit, merah, pembengkakan dikaki
  2. D.   Bayi Baru Lahir
    1. 1.    Perubahan-perubahan yang Segera Terjadi Sesudah Kelahiran
      1. Gangguan Metabolisme Karbohidrat

Oleh karena kadar gul darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan menurun menjadi 50 mg/100 ml dlam waktu 2 jam sesudah lahir, enersi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lhir diambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml. Bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguan pada metabolisme asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemia, misalnya terdapat pada bayi BBLR, bayi dari ibu menderita diabetes mellitus dan lain-lain.

  1. Gangguan Umum

Sesaat sesudah byi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kanduingan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja dalam suhu kamar 250C maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit. Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepuluh daripada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunn suhu tubuh sebanyak 20C dalam waktu 15 menit. Kejadian ini sangat berbahaya untuk neonatus terutama  bayi berat lahir rendah, dan bayi asfiksia oleh karena mereka tidak sanggup mengimbangi penurunan suhu tersebut dengan vasokontriksi, insulasi dan produksi panas yang dibuat sendiri.

  1. Perubahan Sistem Pernapasan

Pernapasn pewrtama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran.  Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor karotid yang sangat peka terhdap kekurangan oksigen, rangsngan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu di dalam uterus dan di luar uterus. Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkkan diafragma serta otot-otot pernapasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru, yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80 sampai 100 ml cairan, kehilangan 1/3 dari cairan ini. Sesudah bayi lahir cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula.

  1. Perubahan Sistem Sirkulasi

Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen di dalam alveoli meningkat. Sebaliknya tekanan karbon dioksida turun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paaru, sehingga aliran darah ke alat tersebut meningkat. Ini menyebabkan darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arterious menutup. Dengan menciutnya arteri dan vena umbilikalis dan kemudian dipotomgmya tali pusat, aliran darah dari plsenta melalui cena kava infereior dan foramen ovale ke atrium kiri terhenti. Dengan diterimanya darah oleh atrium kiri dan paru-paru, tekanan di atrium kiri menjadi lebih tinggi daripada tekanan diatrium kanan. Ini menyebabkan formen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu.

  1. Perubahan Lain

Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai berfungsi.

 

 

  1. 2.    Asuhan segera bayi baru lahir
    1. Klem dan potong tali pusat

1)    Klem tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 dan 3 cm dari pangkal pusat bayi dan kemudian potong tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting.

2)    Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat

3)    Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih perdarahan, lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat.

  1. Jaga bayi agar tetap hangat

1)    Pastikan bayi tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu

2)    Ganti handuk basah dengan kain kering kemudian membungkus bayi dengan selimut untuk mencegah keluarnya panas tubuh

3)    Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit

  1. Kontak dini dengan ibu

1)    Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin karena kontak dini antara bayi dengan ibu sangat penting untuk menjaga kenhangatan bayi dan mempererat ikatan bathin.

2)    Motivasi ibu untuk menyusui bayinya.

  1. Pernapasan

Sebagian besar bayi akan bernapas secara spontan. Pernapasan bayi sebaiknya diperiksa secara teratur untuk mengetahui adaanya masalah.

1)    Periksa pernapasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit

2)    Jika bayi tidak segera bernapas, tindakan yang perlu dilakukan yaitu mngeringkan bayi dengan selimut atau handuk hangat dan menggosok punggung bayi dengan lembut

3)    Jika bayi masih belum mulai bernapas setelah 60 detik mulai resusitasi

4)    Apabila bayi sianosis atau sukar bernapas (frekuensi pernapasan kurang dari 30 atau lebih dari 60 kali/menit), berilah oksigen.

  1. Profilaksis :

Obat mata eritromisin 0,5% atau tetraksilin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia. Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan.

Berikan vitamin K

Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir, lakukan hal-hal sebagai berikut :

1)    Semua bayi baru lahir normal, cukup bulan dan bayi resiko tinggi perlu diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg I.M.

 

  1. 3.    Asuhan Bayi Baru Lahir

Dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami masalah apapun, berikanlah asuhan berikut:

  1. Lanjutkan pengamatan pernapasan, warna kulit dan aktivitasnya
  2. Pertahankan suhu tubuh bayi

1)    Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya 6 jam dan jika suhunya 36,50C atau lebih

2)    Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat dan kepala bayi harus tertutup

  1. Pemeriksaan fisik bayi

1)    Gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan

2)    Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan kemudian menggunakan sarung tangan

3)    Lihat, dengarkan dan rasakan tiap-tiap daerah, dimulai dari kepala dan berlanjut secara sistematik menuju jari kaki

4)    Jika ditemukan faktor resiko atau masalah, carilah bantuan lebih lanjut

5)    Rekam hasil pengamatan jikan diperlukan

  1. Identifikasi bayi

Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu dipasang segera pasca persalinan.

  1. Perawatan lain

1)    Lakukan perawatan tali pusat

2)    Ajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada orang tua

3)    Ajarkan cara merawat bayi sehari-hari

  1. 4.    Pemantauan Bayi Baru Lahir

Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yng memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.

 

 

  1. Dua jam pertama sesudah lahir

Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah lahir meliputi:

1)    Kemampuan menghisap atau lemah

2)    Bayi tampk aktif atau lunglai

3)    Bayi kemerahan atau biru

  1. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya

Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti:

1)    Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang bulan

2)    Ganggua n pernapasan

3)    Hipotermia

4)    Infeksi

5)    Cacat bawaan dan trauma lahir

  1. 5.    Tanda-tanda Bahaya Pada Bayi Baru Lahir
    1. Pernafasan – sulit atau lebih dari 60x/menit
    2. Kehangatan – terlalu panas (>380C atau terlalu dingin <360C)
    3. Warna-kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat
    4. Pemberian makan-hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak merintih
    5. Tali pusat-merah, bengkak, keluar cairan, baubusuk, berdarah,
    6. Infeksi-suhu meningkat, merah, bengkak, keluar ciran (nanah), bau busuk, berdarah, pernafasan sulit
    7. Tinja/kemih-tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja
    8. Aktivitas-menggigil atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, tidak bisa tenang, menangis terus menerus

One response

  1. MEL

    TRIMA KASIH KAK’

    16 November 2011 pukul 10:07 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.